LGBT Cianjur Menggeliat di Medsos

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Diam-diam dan tak terlihat di permukaan. Keberadaan lesbi gay biseksual dan transgender (LGBT) di Kabupaten Cianjur ternyata lebih menggeliat di media sosial (medsos). Tak hanya satu atau dua medsos saja, ternyata LGBT lebih aktif eksis di medsos.

Tak sulit menemukan keberadaan mereka di medsos. Melalui aplikasi MiChat, keberadaan gay mudah ditemukan. Berkedok kata ‘shemale’, kaum gay dan transgender nampak memenuhi aplikasi. Berdasarkan fasilitas yang ada di aplikasi ini, setiap pengguna dapat melakukan percakapan dengan mudah.

Tak perlu proses ‘accept’ atau ‘invite’ hingga konfirmasi pertemanan, kedua belah pihak dapat melakukan transaksi di MiChat. Posisi keberadaan mereka pun dapat diketahui dengan mudah. Aplikasi MiChat memberikan fasilitas jarak dalam tampilan ‘people nearby’.

Salah satu LGBT yang berhasil berbincang dengan Radar Cianjur, RB mengaku, sudah lama mengobralkan diri di MiChat sekitar tiga bulan yang lalu. Menurutnya, aplikasi MiChat masih sedikit orang yang mengetahui dan pada umumnya digunakan oleh orang-orang yang menjajakan diri. “Banyak aa di sini (MiChat) mah. Kalo mau BO juga bisa,” ujarnya kepada Radar Cianjur.

Untuk tarif BO transgender ini, ia mematok harga yang relatif murah. Untuk satu kali ‘eksukusi’ hanya perlu membayar Rp100 ribu. Tak hanya melakukan hubungan setubuh, ia pun menawarkan pelayanan lainnya berupa pijat. “Kalau mau pijat ke sini aja cuma Rp50 ribu. Dijamin puas,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan transgender lainnya, SR. Meski tak menawarkan proses hubungan badan, namun ia pun menawarkan pelayanan VCS (video call sex) atau melakukan komunikasi dengan video tanpa busana. Aplikasi yang digunakan yaitu Whatsapp. “Deal ya? Murah cuma Rp50 ribu aja. Kalo serius langsung ke WA,” ajaknya.

Dari sekian banyak LGBT yang ada di MiChat, Radar Cianjur berhasil bertemu dengan salah satunya yang ngekos di sekitar Byepass berinisial DA. Ia mengaku, terpaksa membuka jasa esek-esek di kosan. “Lebih aman di sini. Kalau di luar banyak razia. Apalagi sekarang lagi banyak yang enggak suka sama kita (transgender),” ungkapnya.

Selain itu, tempat kosan yang menjadi tempat untuk melakukan hubungan itu relatif aman karena terletak di pemukiman warga. Kecurigaan pun akan berkurang, berbeda dengan ketika ia berada di tempat hiburan malam. “Tenang aja di sini mah aman. Gakan ada yang razia atau grebek,” paparnya sambil terus menghisap sebatang rokok.

Di sisi lain, ia pun mengaku keberatan dengan banyaknya aksi penentangan di kalangan masyarakat. Menurutnya, setiap transgender atau shemale memiliki hak untuk memilih jalan hidup. “Kita sadar gak boleh sama agama, tapi ini sudah pilihan kmi,” pungkasnya.

Beda di Michat, beda juga pergerakan di aplikasi SayHi. Aplikasi SayHi memiliki fasilitas yang lebih lengkap dariapda MiChat. SayHi memberikan fasilitas banyak foto kepada pengguna yang ingin melakukan pertemanan. Di MiChat, setiap pengguna hanya dibatasi dengan satu foto saja.

Di SayHi, pengguna dapat mengakses ragam informasi dari LGBT mulai dari usia, hobi hingga tinggi badan maupun berat badan. Salah satu pengguna yang juga LGBT, RU mengaku, SayHi lebih diminati karena mayoritas yang hendak mem-booking dirinya terbilang orang-orang yang relatif banyak uang. “Kalau di MiChat banyak yang modus PHP. Kalau di sini (SayHi) jelas orang-orang tajir yang bookingnya,” ungkapnya.

Ia pun bersama teman lainnya kerap kali menawarkan jasa BO di status miliknya. Dalam sehari, ia mampu mendapatkan tamu satu hingga dua orang. “Tiap hari ada aja yang pakai. Gak pernah kosong. Apalagi malam minggu banyak onta (warga Arab),” bebernya.

(yaz)