Megah, tapi Membingungkan

Fantastic Beasts

THE Crimes of Grindelwald membawa kembali semua karakter yang selamat dari Fantastic Beasts and Where to Find Them. Dibuka dengan aksi menegangkan Grindelwald (Johnny Depp) yang berhasil kabur dari penjara.

Grindelwald punya rencana jahat. Yakni, mengagung-kan penyihir darah murni, lantas menguasai makhluk nonmagis dan menguasai dunia.Newt Scamander (Eddie Redmayne) diutus Albus Dumbledore (Jude Law) untuk mencari Credence Barebone (Ezra Miller).

Seperti yang kita tahu, Credence sekarat di akhir   pertama. Dia tak mati. Karena itu, Newt harus segera menemukannya sebelum Grindelwald merekrutnya atau Ministry of Magic membunuhnya.Skenario film tersebut ditulis langsung oleh pencipta dunia sihir nan magis, J.K. Rowling.

’’Cerita Rowling dimainkan seperti sebuah novel, chapter demi chapter, fokus kepada karakter yang berbeda dan perjuangan mereka dengan tema yang familier,’’ tulis Jennifer Bisset, kolumnis CNET.

Berlatar empat kota besar, film itu menawarkan detail lebih dalam tentang backstory setiap karakter utamanya. Terbagi dalam lima part yang epik lebih tepatnya. Memang benar jika karakter tersebut terasa hidup dan membuat penonton lebih kenal karakter. Namun, di sisi lain, film garapan David Yates itu terasa bertele-tele dan membingungkan. Membuat franchise Fantastic Beasts tersebut kurang pas dengan cerita utamanya. Hanya film yang mempersiapkan penonton untuk film ketiganya pada 2020.

’’(Hal itu) mengubah franchise ini setara dengan serial Netfix yang ditonton secara maraton,’’ tulis Scott Mendelson, kontributor senior Forbes.

Mungkin satu lagi kekurangan film tersebut. Yaitu, kurang kuatnya karakter Grindelwald. Karakternya tak sebesar namanya yang terpampang nyata pada judul. Depp dinilai tak memiliki energi ataupun karisma dalam film tersebut. Padahal, secara visual, Grindelwald memiliki potensi lebih.

Sepasang mata dengan iris warna cokelat dan putih, serta rambut dan alis putih yang membuatnya terlihat misterius, plus jiwanya yang terasa sedingin es.Grindelwald seharusnya bisa menjadi sosok villain superhebat yang mengum-pulkan kekuatan di seluruh dunia. Namun, pada akhirnya, Grin delwald hanya terlihat seperti versi lain dari You-know-who dalam jagat Harry Potter.

’’Sama-sama monster yang kurus dengan tulang rahang yang mengucapkan setiap kalimat dengan aksen yang dilatih,’’ tulis David Sims, kolumnis e Atlantic.

Meski rating-nya berada di bawah filmlm pertamanya, e Crimes of Grindelwald tak lantas seburuk itu kok. Yates menyajikan dunia sihir yang megah lewat permainan special eect yang apik dengan tone gelap.

Termasuk lokasi yang mirip seperti Parisian Diagon Alley pada 1920-an. Ragam makhluk dan objek magis turut memperkaya ’’keindahan’’ film tersebut. Plus, kostum ala penyihir yang stylish.
’’Colleen Atwood layak mendapat pujian atas kostumnya serta sangat mungkin meningkatkan penjualan trench coat dan bot,’’ tulis Bissett.

(adn/c14/jan)