Perkebunan Tertua Cianjur, Warisan Kolonial Belanda

TERTUA: Perkebunan teh tertua di Kabupaten Cianjur dari peninggalan Belanda.

RADARCIANJUR.com – Perkebunan teh Maleber di Desa Ciherang Kecamatan Pacet, yang didirikan tahun 1817 hingga kini masih kokoh berdiri. Bangunan bekas peninggalan Belanda ini, tidak berubah fungsinya yakni tetap menjadi tempat pengolahan hasil para pemetik teh.

Berada di tempat yang sejuk dan panorama yang indah menjadi daya tawar tersendiri bagi Perkebunan Teh Maleber, untuk mudah diingat setiap orang. Terlebih perkebunan yang berada di Desa Ciherang ini, sudah ada mulai zaman penjajahan Belanda, sehingga memiliki ciri khas tersendiri.

Perkebunan Teh Maleber yang pertama di Kabupaten Cianjur, ini sudah beberapa kali pergantian pengelolanya, dari berbagai perusahaan. Akan tetapi semua mesinya masih tetap berfungsi prima.

Terlihat dari tanda yang ada di perkebunan tersebut, mulai dari teknologi hingga juga arsitektur bangunan masih tetap mempertahakan jaman kolonial Belanda.

Administratur PT Tenggara Hendri Adrianto menjelaskan sejak berdiri perkebunan teh ini mengalami perubahan kepemilikan, mulai Belanda, Jepang, hingga kini Arifin Panigoro. “Tak pelak, dengan nilai sejarah yang melekat itu bisa dibilang perkebunan Maleber tertua di Kabupaten Cianjur,” tuturnya.

Perkebunan teh Maleber awalnya, dikelola oleh Wangun Sari sekitar tahun 1900, dengan luasan lahan 129 Ha. Akan tetapi, karena belum mempunyai pabrik sehingga hasilnya berupa pucuk basah dan harus diolah ditempat lain.

“Dilanjut dengan kontrak Maleber tahun 1936, mulai dibangun pabrik pengolahan yang terdiri dari empat mesin giling (merk Jakson) dan dua mesin penggarangan (Merk SIROCO dan PARAGON), sehingga hasil produksi dapat diolah sendiri,” ungkapnya.

Pada waktu itu, pendapatan pucuk basah rata-rata sekitar satu ton per hari dengan petikan halus. Hingga akhirnya, kurang lebih pada tahun 1950 PT Tenggara membeli Perkebunan Teh Maleber dari pengusaha berkewarganegaraan Inggris dengan Hak Pengelolaan yaitu Hak Guna Usaha.

“Seiring dengan perjalanan waktu, telah terjadi berbagai sejarah. Mulai dari pergantian mesin dan juga teknologi,” terangnya.

Akan tetapi, hingga saat ini warisan tersebut masih terjaga utuh. Bahkan sebagian mesin yang sudah tua masih berfungsi baik. “Makanya tidak sedikit wisatawan dalam maupun luar negeri yang ingin mengunjungi tempat ini,” paparnya.

Hingga saat ini, perkebunan the Maleber yang juga salah satu tertua di Indonesia, masih menghasilkan jenis teh hitam, dan teh putih dengan kualitas yang tak usah diragukan lagi. “Pantas saja, kini teh maleber ini sudah dikenal, dan tak heran teh kami sudah diminati berbagai kalangan,” tuturnya.

(dan)