Jual Anak jadi Gaya Hidup

Penjualan Anak (Ilustrasi)

RADARCIANJUR.com – Seiring berkembangnya zaman, modus baru penjualan anak pun beralih menjadi lebih trendi. Ya, jual beli atau perdagangan anak dinilai menjadi gaya hidup. Modusnya pun berevolusi dalam beragam bentuk sehingga membutuhkan langkah dan kerjasama dari segenap pihak untuk mengantisipasinya.

Pakar Hukum Pidana dengan Spesifikasi Tindak Pidana Perdagangan Orang, Henny Nuraeni mengatakan, perkembangan anak saat ini sudah berbeda dengan generasi sebelumnya. Pasalnya, saat ini gaya hidup menjadi salah satu faktor trafficking anak. Secara faktor fundamental itu dikarenakan ekonomi, hanya saja saat ini sudah bergeser menjadi konsumtif. “Keadaan ekonomi hanya menjadi alasan klasik yang sudah bukan rahasia umum didengar masyarakat, akan tetapi itu hanya kiasan di balik gaya hidup yang konsumtif,” ujarnya.

Menurut Henny, dalam hal tersebut pemerintah hanya kurang optimal untuk mencegah kasus anak yang terus berantai. Untuk mencegahnya pun peran serta masyarakat, terlebih orangtua dan lingkungan sangat penting. “Harusnya anak itu mendapatkan perlindungan kasus dalam eksploitasi anak pun bisa diantisipasi bahkan dihindari jika semua pihak turut terlibat,” ucap Dekan Fakultas Hukum Universitas Suryakancana ini.

Ia menuturkan, secara umum, payung hukum pada anak dikategorikan menjadi beberapa usia. Pada hukum perdata 21 tahun ke bawah atau belum menikah sedangkan hukum pidana 16 tahun ke bawah dan 18 tahun ke bawah secara undang-undang perlindungan anak.

Sementara, bagi pelaku trafficking akan dikenakan Undang-Undang Perlindungan Anak. Hukuman bagi pelaku trafficking bisa dipenjara hingga 15 tahun dan denda Rp2 miliar. Sementara jika anak yang menjadi pelaku masuk dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Apakah dikembalikan ke orangtua atau menjadi anak negara. “Jika masih anak-anak pelakunya, maka akan dimasukan ke Lembaga Pendidikan Khusus Anak (LPKA) bukan di Lapas (Lembaga Permasyarakatan,” tambahnya.

Henny menuturkan, modus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) saat ini tidak hanya terkait pekerja migran keluar negeri saja, tetapi berkembanganya modus-modus baru seperti pengantin pesanan dan jual beli teman di kalangan remaja, siswa, mahasiswa dan lain-lain. Pola jaringan pelaku TPPO juga berkembang, dimana para korban banyak yang beralih menjadi pelaku TPPO.

“Anak dengan perilaku menyimpang hanya segelintir bahkan sebagian saja. Masih banyak anak yang mampu menorehkan kisah positif pada kehidupannya. Yang miris dan mengkhawatirkan adalah para orang tua atau keluarga yang seharusnya sebagai pelindung berubah menjadi pelaku TPPO, baik secara aktif maupun pasif. Sebab, majunya bangsa ini tergantung dari generasi muda saat ini, jika generasi mudanya hancur akan bagaimana bangsa ini?,” tegasnya.

(kim)