Stop Eksploitasi Anak

Penjualan Anak (Ilustrasi)

RADARCIANJUR.com – Hari Anak Sedunia yang jatuh pada tanggal 20 November 2018 diperingati guna mengubah masyarakat bagaimana melihat dan memperlakukan anak-anak, serta meningkatkan kesehatan dan kebahagiaan anak.

Selain itu, Hari Anak Sedunia juga untuk membina dan memenangkan hak-hak anak yang ada di belahan bumi. Hak anak bukanlah hak spesial dan berbeda. Tapi, mereka memiliki hak yang sama pentingnya dengan orang dewasa.
Peringatan ini ingin mengingatkan kalau anak juga bagian dari lingkungan sosial dan harus diperlakukan sebagaimana mestinya.

Ini dimaksudkan untuk melindungi anak-anak dalam berbagai keadaan dan bahkan yang terburuk sekalipun, guna regenerasi yang lebih baik.

Psikologi dan Pemerhati anak, Seto Mulyadi menjelaskan, hari anak universal yang saat ini diperingati oleh seluruh bangsa di dunia adalah berawal dari lahirnya konvensi hak anak yang berdiri yang kemudian juga melahirkan undang undang perlindungan anak di Indonesia.

Dalam memperingati hari ini bersama anak dari berbagai lapisan berarti turut menunjukkan bahwa seluruh masyarakat cinta kepada anak-anak Indonesia. “Tentu dengan memperingati hari ini bersama anak dari berbagai lapisan berarti kita menunjukkan bahwa kita cinta kepada anak-anak Indonesia,” tuturnya.

Bagi Seto, anak Indonesia adalah generasi emas yang akan melanjutkan tongkat estafet dalam membawa Indonesia ke masa depan yang sangat cerah. Oleh sebab itu, perlu untuk diperhatikan dan dipedulikan sejak dini.

“Kita semua bangga dan peduli serta siap untuk melindungi mereka dari berbagai eskploitasi, tindak kekerasan, penelantaran dan sebagainya, serta saya mengharapkan semua peduli terhadap anak-anak dimulai dari tingkat yang paling awal,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Advokasi dan Penanganan kasus Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar mengatakan, bahwa data di tahun 2017 pada bulan Juli kekerasan yang terjadi pada anak di Cianjur terdapat sekitar 34 kasus.

“Jika dilihat dari data yang ada di P2TP2A Kabupaten Cianjur hingga bulan Juli tahun 2017, terdapat 34 kasus, diantaranya 15 orang kasus trafficking, 13 kasus persetubuhan, lima kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan satu orang kasus pencabulan,” ujarnya.

Mengingat banyaknya kasus kekerasan terhadap anak, sesuai data pada akhir tahun 2017 terdapat 150 kasus. Pihaknya berharap, agar masyarakat bisa meningkatkan fungsi pertahanan keluarga dan pengawasan di dalam keluarga.

Kendati demikian, menurutnya kasus kekerasan terhadap anak pada tahun 2018 mengalami penurunan dibandingkan pada tahun sebelumnya.

”Sebagai orang tua harus memberikan pendidikan yang terbaik terhadap anak khsusnya dalam penanganan kekerasan terhadap anak, di antaranya kekerasan seksual,” pungkasnya.

(kim)