Mari Bekerjasama Tangkal Hoax

CEGAH HOAKS: Sejumlah stakeholder berkumpul bersama untuk bersama-sama menanggulangi penyebaran berita hoaks di kalangan masyarakat. FOTO: HERRY ISKANDAR/ RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – Yayasan Al Fatima yang berkolaborasi dengan Yayasan Droupadi Bandung, melaksanakan ragam kegiatan sehari.

Kegiatan dimulai dari jalan sehat, bazaar UKM, pembagian leaflate kepada peserta dan narasumber serta dialog pers.
Pada petang hari, digelar dialog publik yang melibatkan berbagai lapisan dan stakeholder yang sangat penting peranannya menunjang pencegahan penyebaran berita bohong (hoaks), ujaran kebencian, kampanye hitam, ekstrimisme, radikalisme, dan terorisme.

Kegiatan dialog publik melibatkan berbagai stakeholder itu diantaranya dari pemerintah Kabupaten Cianjur yang diwakili Sekda Aban Subandi, Kapolsek Cibeber Kompol Darmadji, Ketua Bawaslu Cianjur Usep Agus Zawari, Pemerintah Kecamatan dan Desa, Wakil Ketua PWI Ahmad Fikri, hingga Budayawan Cianjuran Abah Ruskawan.

Kegiatan bertajuk ‘Cianjur Jago Tanpa Hoaks’ ini bertujuan untuk memberikan edukasi pengetahuan dan sosialisasi tentang pentingnya peranan masyarakat untuk menangkal berita hoaks, serta pembekalan untuk memfilter berita-berita yang belum pasti dan faktual.

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Yayasan Alfatima Desa Cikondang Kecamatan Cibeber untuk membantu kalangan masyarakat yang dinilai sangat deras dan sangat sulit dibendung terutama melalui dunia maya, sosmed (sosial media) dan digital serta tidak bakal surut apalagi sebentar lagi menghadapi momentum pilpres/pileg. Hoaks akan tetap ada karena efektif digunakan untuk menghantam berbagai kepentingan, termasuk kinerja pemerintah.

Direktur Eksekutif Daya Riset Advokasi Untuk Perempuan dan Anak di Indonesia (DROUPADI), Ni Loh Gusti Madewanti mengatakan, langkah nyata ini sebagai impelmentasi, edukasi, serum anti hoaks di kalangan akar rumput masyarakat, Keberadaan UU yang komprehensif mengatur perilaku di dunia maya sangat mendesak, mengingat saat ini negara dinilai tak berdaya mengatasi maraknya hoaks.

KUHP dan UU ITE belum mampu menyasar produsen sekaligus penyebar berita palsu, gerakan Droupadi beserta berbagai satakeholder yang berkompeten menjadi narasumber serta para Jurnalis yang mengajak dan memberikan ilmu kepada masyarakat melakukan aksi bersama untuk melawan hoaks. “Pendekatan profesionalisme dan penajaman standar jurnalistik oleh media arus utama atau media (mainstream) sangat dibutuhkan untuk memfilter berita bohong,” tutur Anti sapaan akrabnya.

Ia menambahkan, maraknya hoaks di tengah kehidupan masyarakat, ekstrimisme, radikalisme, terorisme dan ujaran kebencian, akan selalu ada mewarnai pemberitaan yang dilakukan media massa. Yayasan Droupadi dan Teman Jurnalis serta berbagai stakeholder pemerintahan, kepolisian dan badan pengawawasan di berbagai Kota terus berkolaborasi dan berkoordinasi di berbagai kota/kabupaten yangmenjadi task force atau gugus tugas untuk membentuk formulasi menangkal fenomena yang marak di zaman milenial ini.

“Langkah nyata untuk menangkal hoaks, sangat diperlukan peran pers yakni dengan menyajikan pemberitaan yang benar, informatif, edukatif sesuai fakta, dan berimbang. Media mainstream harus jelas dan tegas menjunjung profesionalisme pers, erat kaitannya dengan missi Yayasan Droupadi kedepan.

“Mari kita ambil peran dan aksi bersama untuk mencegah berita bohong atau hoaks cerdas memilah dan Tabayyun dengan suatu berita. Nah,ini saatnya masyarakat mulai pintar dan menganalisa berita didunia maya. Jangan asal telan dan cerna suatu berita yang belum pasti kebenarannya, cari referensi yang akurat dan faktual,” pungkasnya.

(*/yaz)