Pengorbanan Heni Handayani, Guru Sekolah Inklusi SDN Bojongherang

DEDIKASI PENDIDIKAN: Heni Handayani dengan sabar memberikan materi pembelajaran kepada anak didik di sekolah inklusi SDN Bojongherang, kemarin. FOTO: HAKIM/ RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – FOKUS dan peduli dengan pendidikan anak di tingkat SD, Heni Handayani tetap semangat mengajar anak didik SD Inklusi di SDN Bojongherang. Tidak mendapatkan gaji, ia pun berinisiatif untuk menjual ikan asin dan kerudung guna mendukung kegiatan operasional yang ada di sekolah.

Laporan: ABDUL AZIZ N HAKIM, Cianjur

PAGAR berwarna putih menyambut setiap orang yang datang ke SD Inklusi. Di balik pagar itu terdapat sejumlah ruang kelas milik SDN Bojongherang. Wajar saja, SD Inklusi ini masuk di dalam lingkungan SDN Bojongherang.

SD Inklusi memiliki 21 siswa dengan hanya seorang guru bernama Heni. Mereka setiap hari berkumpul di dalam ruangan berukuran 2×6 meter menjalani proses kegiatan belajar mengajar (KBM). Riuh dan penuh keceriaan. puluhan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ini terbagi atas enam kelas dengan pola jam belajar berbeda.

Untuk kelas I dan kelas II, masuk pagi hari hingga pukul 9.00 WIB. Dilanjut kelas IV sampai dengan pukul 10.00 dan untuk kelas VI hingga pukul 12.00 WIB.

Tak ada raut kesedihan terlihat di wajah siswa inklusif yang kala itu sedang belajar, senyum dan tawa siswanya menjadi penghibur bagi Heni yang sedang berjuang di dunia pendidikan. Lelah tak dirasa. Penuh kesabaran.

Bagi Heni, mengajar siswa ABK tidaklah seperti mengajar siswa pada umumnya. Perlu ketelatenan dan kesabaran lebih. “Mengajar anak dengan kebutuhan khusus itu tidak bisa disamakan dengan anak-anak pada umumnya, betul-betul harus diarahkan dengan baik,” ujarnya kepada Radar Cianjur.

Siswa dari sekolah inklusi SDN Bojongherang terdiri dari autis, tuna daksa, tuna wicara, tuna rungu dan low vision atau dengan pengelihatan yang terbatas. Kendati dirinya bukan dari lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) tetapi hati nurani telah memanggilkan untuk mengabdi dengan rasa kasih sayang. “Memang suatu hambatan dengan latar belakang saya yang bukan lulusan PLB, tapi hati nurani saya yang tergerak untuk peduli terhadap mereka,” terangnya.

Begitu prihatin, ruangan yang begitu sempit dan terbatas tidak sebanding dengan kondisi anak. Siswa inklusi pada dasarnya harus diberikan ruang gerak yang luas tidak dengan ruang lingkup kecil. “Ya seharusnya siswa inklusif mendapatkan ruang yang lebih luas tidak seperti ini, namun diprioritaskan guna perkembangan anak,” jelasnya.

Dirinya menilai, Pemerintah Kabupaten Cianjur kurang peduli. Demi kelancaran dunia pendidikan, Heni bahkan rela berjualan ikan asin hingga kerundung untuk menunjang operasional sekolah.

Usaha memang tidak menghianati hasil. Pada tahun ini, Heni Handayani mendapatkan penghargaan Een Sukaesih yaitu sosok pejuang pendidikan dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil sebagai guru inspiratif. Dari 30 peserta se Provinsi Jawa Barat dengan karyanya yang berjudul Sekolah Ramah Anak.

Tapi hingga sampai saat ini, ucapan selamat maupun terimakasih tak pernah didapatkan Heni, kendati penghargaan telah diterima dengan membawa nama Kabupaten Cianjur. “Hingga saat ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur sama sekali tidak mengucapkan rasa terimakasih maupun selamat, bahkan sama sekali belum pernah datang,” ucapnya.

Dirinya pun berharap, Disdikbud pun lebih peduli dengan sekolah inklusif. Sehingga bisa lebih diperhatikan dan diprioritaskan kebutuhannya.

(**)