5.000 Warga Terisolir

TOLONG KAMI: Jembatan Cisarakan yang ambruk akibat hujan deras membuat warga di Desa Neglasari, Kecamatan Cidaun terisolir.

RADARCIANJUR.com – Malapetaka di Kecamatan Cidaun tak kunjung usai. Usai diterpa banjir, kali ini jembatan Cisarakan penghubung Desa Neglasari dan Gelarpawitan ambruk akibat hujan deras pada Senin (2/12) sekitar pukul 20:00 WIB.

Jembatan gantung di Kampung Cisarakan RT2/RW5 itu terputus. Salah satu warga setempat, A Sutisna (40) mengatakan, akibat hujan deras, jembatan panjang 115 meter dan lebar 1,5 meter itu ambruk, sehingga banyak warga yang setiap harinya melintasi banyak yang mengeluh. “Ya, sebab tidak ada akses jalan lain selain melintasi jembatan gantung. Adapun ada jalan lain jaraknya lebih jauh dan harus menghabiskan waktu dan jarak puluhan kilometer,” katanya, kemarin.

Kondisi ambruknya jembatan gantung, beberapa pihak seperti anggota TNI dan POLRI dan Pemerintah Desa (Pemdes) setempat terus melakukan upaya mencari jalan solusi melalui evakuasi mengangkat puing-puing yang jatuh di bawah sungai. “Karena, hanya mengunakan alat manual sehingga evakuasi tidak bisa dilanjutkan. Terlalu berbahaya dan harus menggunakan peralatan berat. Tidak ada korban jiwa,” timpal Jajang (38) alias Jay warga setempat.

Kendati tak ada korban, namun 5.000 warga Desa Neglasari terisolir khususnya anak sekolah seharusnya sekolah jadi tidak sekolah. “Sebab tidak ada jalan lain, untuk menuju tempat sekolahnya,” aku Jay.

Ia menambahkan, jembatan gantung Cisarakan dibangun sekitar tahun 2014 oleh Pemkab Cianjur melalaui Dinas Tata Ruang dan Permukiman. “Ada pun jalan alternatif lain, tapi sangat jauh dan memutar sehingga menghabiskan waktu hinga 10 kilometer,” paparnya.

Warga berharap sekaligus memohon kepada Pemkab Cianjur melalui beberapa dinas terkait juga Pemdes setempat untuk segera membangun kembali jembatan. Serta mengangkat puing-puing melalui alat canggih, sebab kalau mengunakan alat manual tidak akan sanggup, karena cukup berbahaya dengan ke dalaman kali Cisarakan.

Sementara, Ojos (45) salah satu warga Desa Negalsari memaparkan, dirinya berharap kepada Pemkab Cianjur melalui dinas terkait secepatnya bisa merealisasikan pembangunan kembali. Karena merupakan penghubung dua desa di Kecamatan Cidaun, Cianjur Selatan. “Kami bersama warga lainnya biasa setiap hari melintas jembatan, jadi kalau jembatan ini putus dan belum diperbaiki akan terlantar dan terisolir. Setiap harinya berjualan dagang dan juga sejumlah anak bila pergi sekolah lewat jembatan ini,” pungkasnya.

Relawan bencana, Rudi Syahdiar mengatakan, jembatan yang mempunyai panjang 115 meter dan lebar 1,5 meter saat ini tak bisa dilewati dan masyarakat di wilayah itu terisolir. “Kerugian masih dihitung, tak ada korban dalam peristiwa jembatan gantung putus tersebut, jembatan saat ini tak bisa dilewati,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Doddy Permadi mengatakan, pihaknya masih melakukan peninjauan menuju lokasi. “Kita sudah dapatkan info mengenai jembatan putus di Kecamatan Cidaun, saat ini tim kita sedang meninjau lokasi,” jelasnya.

Jembatan tersebut putus akibat dari derasnya air sungai dari hujan yang terus menerus sehingga debit air naik. Doddy menambahkan, tak ada korban jiwa pada kejadian tersebut dan saat ini BPBD Kabupaten Cianjur akan melakukan koordinasi dengan dinas terkait yang membangun jembatan tersebut. “Tidak ada korban jiwa, kami pun akan melakukan koordinasi dengan dinas terkait yang membangun jembatan tersebut,” tegasnya.

(mat/dil/kim)