Cianjur Gudang Mie Formalin

DIGEREBEK: Wakapolres Cianjur, Kompol Yana Nur Handiana di lokasi pabrik mie menggunakan boraks dan formalin.

RADARCIANJUR.com – Mie formalin dan boraks diproduksi di Kabupaten Cianjur. Tak tanggung-tanggung tiga ton mie sudah siap jual dan sudah beredar. Beruntung Kepolisian Resor Cianjur berhasil menggerebek pabrik mie berformalin dan berboraks tersebut, Selasa (11/12).

Pabrik mie yang berlokasi di Kampung Gelar RT 02 Rw 15 Kelurahan Pamoyanan Kecamatan Cianjur itu diketahui sudah beroperasi cukup lama. Penggerebekan itu dipimpin oleh Waka Polres Cianjur, Kompol Yana Nur Handiana.

Pada saat dilakukan penggerebekan, sejumlah pekerja pabrik sedang melakukan aktifitas pembuatan mie dan saat itu juga para pekerja panik dengan kedatangan polisi.

Tak hanya mie yang sudah siap edar, petugas juga menemukan lima liter formalin dan tumpukan karung boraks yang digunakan untuk membuat mie.

“Berdasarkan informasi masyarakat, kami dari Polres Cianjur langsung ke lokasi di Kelurahan Pamoyanan ada tempat pembuatan mie yang menggunakan boraks dan formalin dengan beberapa takaran zat kimia lalu di jual di sekitaran Cianjur,” ujar Wakapolres Cianjur, Yana Nur Handiana.

Selain itu, petugas juga menemukan sisa mie basah sebanyak lima kilo yang tak sempat dijual yang sudah bercampur formalin dan boraks. Tercatat selama kurun waktu tiga bulan, pabrik rumahan ini menjual mie basah ke pasar-pasar yang ada di Kabupaten Cianjur dan belum merambah keluar Cianjur.

“Dua orang pemilik pabrik kita amankan untuk dimintai keterangan, dan pabrik ini kita tutup dengan garis polisi,” terangnya.

Kedua pelaku yang diduga pemilik pabrik akan dikenakan Undang Undang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Di sisi lain, Ketua Rukun Tetangga (RT) 02, Ucup Supardi mengungkapkan, kegiatan produksi mie basah dilakukan pada malam hari yaitu sekitar pukul 00.00 hingga pukul 04.00 WIB.

“Sudah sekitar tiga bulanan beroperasi, sebelumnya pernah ada yang membawa drigen di titip tetangga tapi saya cek sudah gak ada dan saya cari informasi terus gak ada sudah pindah ke gudang,” jelasnya.

Dirinya beberapa kali sempat melihat beberapa boraks di gudang pabrik mie, akan tetapi dirinya belum berani melaporkan dikarenakan informasi yang dikumpulkan belum lengkap.

Masyarakat sekitar pun enggan mengkonsumsi mie tersebut, karena sempat curiga dengan mie yang diproduksi.

“Warga pernah dikasih, tapi diberikan lagi tidak dikonsumsi,” paparnya.

(kim)