Cianjur Waspada Tsunami, Alat Deteksi Rusak Semua

NUANSA KEAKRABAN: Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman berkunjung ke Kantor Radar Cianjur, Jalan Abdullah bin Nuh, kemarin.

RADARCIANJUR.com – Memiliki beberapa pesisir pantai, membuat Kabupaten Cianjur kini waspada akan terjadinya bencana khususnya tsunami. Tak tinggal diam, Pemerintah Kabupaten (pemkab) Cianjur telah mengedarkan surat imbauan kepada seluruh masyarakat yang ada di pesisir pantai selatan Cianjur untuk tetap waspada akan terjadinya potensi tsunami.

Surat edaran tersebut menyusul adanya suara dentuman misterius yang terjadi beberapa waktu lalu. Kondisi ini pun menjadi perhatian segenap pihak karena lima alat pendeteksi tsunami yang ditanam di pesisir pantai Cidaun, Sindangbarang dan Agrabinta sudah rusak parah sejak tiga tahun.

Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman mengatakan, selain telah memberikan surat imbauan, pihaknya juga telah menyiagakan personil Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk piket selama 24 jam. “Ini bisa dikatakan masa yang darurat, kita jaga-jaga khawatir terjadi tsunami,” tuturnya saat berkunjung ke Kantor Radar Cianjur, Jalan Abdullah bin Nuh, kemarin.

Ia menambahkan, kondisi alat pendeteksi tsunami kondisinya sudah rusak parah, sehingga dinilai tak bisa lagi diperbaiki.

“Sudah dilaporkan kerusakannya (alat deteksi tsunami) ke BNPB pusat untuk kembali diadakan alat yang baru,” ungkapnya.

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), R Mulyono R Prabowo, mengatakan saat ini Indonesia berpotensi terjadi gelombang tinggi, hujan lebat dan angin kencang. Masyarakat diminta mewaspadai peluang hujan lebat, angin kencang dan gelombang tinggi di sejumlah daerah Indonesia.

“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologis seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang pada beberapa hari ke depan, terutama untuk wilayah-wilayah yang telah mendapat hujan berintensitas tinggi,” kata Mulyono, Jumat (28/12).

Potensi gelombang setinggi 2,5 hingga 4,0 meter berpeluang terjadi di Selat Sunda bagian Selatan, Perairan Selatan Pulau Jawa hingga Pulau Sumbawa, Selat Bali, Selat Lombok, Selat Alas bagian Selatan, Samudera Hindia Selatan Banten, Samudera Hindia Selatan Bali hingga NTB, Perairan Kepulauan Anambas dan Selatan Kepulauan Natuna, Laut Jawa dan Perairan Utara Kepulauan Kangean.

“Daerah lainnya, Perairan Kepulauan Sangihe-Talaud, Perairan Manado-Bitung, Laut Sulawesi bagian tengah hingga timur, Laut Maluku, Perairan Utara Kepulauan Halmahera, serta Samudera Pasifik Utara Halmahera hingga Papua Barat,” ujarnya.

Sementara itu, gelombang tinggi lebih dari 4,0 meter berpeluang terjadi di Samudera Hindia Selatan Jawa Barat hingga Jawa Timur, Perairan Utara Kepulauan Nias dan Laut Natuna Utara. Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi diminta tetap waspada.

Menurut dia, berdasarkan pantauan kondisi atmosfer terkini, aliran massa udara dingin dari Asia masih mendominasi wilayah Indonesia. Pusat tekanan rendah di sekitar wilayah Filipina dan Laut China Selatan menyebabkan massa udara dingin dari Asia cukup terkonsentrasi di wilayah Utara.

Sementara itu, dominasi pola udara tekanan rendah di sekitar wilayah Australia cukup signifikan, sehingga menyebabkan terbentuknya daerah perlambatan angin dan pertemuan angin di sekitar wilayah Indonesia bagian Selatan. Kondisi-kondisi tersebut diprakirakan akan meningkatkan potensi hujan di sebagian besar wilayah Indonesia pada periode menjelang akhir tahun, yakni 28-31 Desember 2018.

Wilayah yang berpotensi hujan lebat antara lain Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT serta Maluku bagian Selatan.

Sedangkan daerah-daerah yang juga berpotensi mengalami angin kencang dengan kecepatan lebih dari 45 kilometer per jam di antaranya Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, NTT, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku bagian Selatan dan Papua Barat.

(dil)