Sungai Cisarua Longsor, Pemkab Cuek

Sungai Cisarua Longsor

RADARCIANJUR.com – Kondisi sempadan ‘Sungai Cisarua’ di Kampung Sukamaju RT2/1, Desa Sukamaju, Kecamatan Cianjur sangat miris. Pasalnya, sempadan tersebut yang terkena longsor beberapa minggu lalu, hingga saat ini belum tersentuh bantuan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Cianjur.

Hal itu, mendapatkan perhatian khusus dari berbagai aktivis di Cianjur, salah satunya aktivis Aliansi Pemuda Cianjur.

Ketua Aliansi Pemuda Cianjur, Galih Widyaswara mengakui merasa prihatin atas hal tersebut, pihaknya mengaku akan memberikan ultimatum tegas kepada Pemkab Cianjur dan perusahaan kulit yang berada di lokasi longsornya sempadan sungai.

“Maka itu, kami memberi waktu 2×24 jam kepada Pemkab Cianjur untuk segera mengambil tindakan perbaikan, sebagaimana tanggung jawabnya,” katanya, Selasa (1/1).

Ia menuturkan, sempadan sungai longsoran bila tidak ditangani dengan segera akan berpotensi menyebabkan bangunan di sekitarnya rawan bencana. Longsornyanya sempadan sungai Cisarua , pada hari Selasa (25/12/2018) lalu. Meski telah seminggu berlalu, pemerintah melalui dinas terkait seakan cuek dan belum terlihat melakukan survei atau perbaikan hingga saat ini.

Bukan hanya itu, menurut Galih perusahaan pabrik kulit yang lokasinya berdampingan dengan sungai longsor juga tak mengambil tindakan. Alhasil, pondok pesantren Darunnidzom yang jaraknya hanya sekitar 10 meter dari lokasi longsor mengerahkan santrinya untuk perbaikan.

“Karena takut terjadi longsor yang akan berdampak ke pesantren. Maka itu ramai-ramai warga gotongroyong kerja bakti. Dengan begitu kami Aliansi Pemuda Cianjur (APC) menyatakan segera agar Pemkab Cianjur dan pemilik perusahaan untuk segera melakukan pertanggung jawaban dan segera mengecek lokasi,” ujarnya.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren (Pontren) Darunnidzom, Kh Tantan Asyari membenarkan, tidak adanya bantuan baik dari pemkab atau perusahaan kulit yang berdekatan dengan lokasi longsor. Meski begitu, dirinnya tetap memerintahkan santrinya untuk melakukan perbaikan sebisanya mungkin dengan alat seadanya sesuai kemampuan selam ini.

“Perbaikan ini dilakukan secara gotongroyong hasil swadaya pesantren,” katanya.

(mat)