Nelayan Cidaun Alami Musim Paceklik

Nelayan di Jayanti Kecamatan Cidaun menambatkan perahu karena cuaca buruk dan musim paceklik

RADARCIANJUR.com – Puluhan nelayan di Jayanti Kecamatan Cidaun mengeluhkan dengan kondisi cuaca yang buruk disertai gelombang air laut yang membahayakan keselamatan para nelayan, beberapa pekan terakhir. Akibatnya, penghasilan nelayan berkurang karena hasil tangkapan ikan nelayan turun drastis.

Beberapa nelayan lebih memilih untuk menambatkan perahu mereka di tepi pantai dan memperbaiki jaring ikan, serta mengecat perahu mereka yang sudah memudar.

Seorang nelayan Ciadaun Kardi (38) mengatakan penghasilan melaut per hari yang dia terima rata-rata Rp150 ribu. Namun, pada saat cuaca buruk ini, dia hanya memperoleh untung sekitar Rp50 ribu setiap melaut.

“Pendapatan yang kami terima saat ini tidak sesuai dengan modal yang kami keluarkan dan juga risiko melaut yang harus kami tanggung,” kata Kardi. Minggu (6/1)

Nelayan lainya Agus (40) mengatakan jumlah nelayan yang aktif di Pantai Cidaun berjumlah 500 namun sebagian besar nelayan yang mempunyai modal memilih berangkat melaut di Pacitan selama tiga bulan

“Kalau sudah musim paceklik seperti sekarang ini nelayan disini semua pergi melaut ke Pacitan karena di sana hasil tangkapan lebih banyak dan nelayan bisa mendapatkan untung dari hasil jual ikan” kata Agus

Menurut Agus hasil tangkapan ikan di Pacitan bisa mencapai 60 kilogram sampai 80 kilogram berbade jauh dengan hasil tangkapan di Pantai Cidaun yang hanya 10 kilogram.

” Nelayan yang berangkat ke Pacitan kebanyakan yang punya modal karena kalau kesana sampai tiga bulan dan tidak sia-sia karena hasilnya juga bisa 60 sampai 80 kilo daripada disini 10 kilo ” lanjut Agus.

Lanjut Agus, dari hasil tangkapan para nelayan biasanya di jual ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Untuk ikan Layur Rp. 40 ribu perkilo sedangkan ikan Tongkol Rp. 25 ribu perkilo.

“Kalau dimusim seperti sekarang yang paling banyak hasil tangkapan jenis ikan layur dan tongkol,”katanya

Menurut Agus musim paceklik ini akan terjadi sampai bulan Maret dan hasil tangkapan ikan dari para nelayan akan kembali normal.

“Biasanya sih sampai bulan Maret normal kembali hasil tangkapan ikan,” pungkasnya.

(dil)