Siaga Sebelum Bencana, PMI Latih Masyarakat

FOTO:Hakim/ Radar Cianjur SIAGA: Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cianjur melakukan pelatihan kesiap siagaan bencana.

RADARCIANJUR.com-Kabupaten Cianjur merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi bencana dari mulai longsor, banjir hingga gunung meletus. Masyarakat pun diminta untuk siap siaga dalam menghadapi bencana dan senantiasa mampu melakukan evakuasi.

Hal tersebut yang menjadikan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cianjur menggelar pelatihan Kesiap siagaan Bencana Berbasis Masyarakat (KBBM) untuk calon anggota Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat). Pelatihan tersebut diadakan di Desa Cibanteng Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Cianjur.

Kepala Markas PMI Kabupaten Cianjur, Hery Hidayat mengatakan, kegiatan ini dilakukan sebagai upaya peningkatan kapasitas lokal masyarakat dalam rangka pencegahan dan pengurangan risiko terjadinya bencana khususnya dibeberapa wilayah yang berpotensi dan rawan bencana di kabupaten cianjur.

“Dalam pelaksanaannya para peserta akan mengikuti serangkaian pelatihan selama tiga hari mulai 11 hingga 13 Januari 2019. Kegiatan dibuka oleh Pengurus PMI cianjur yang dalam hal ini oleh Wakil ketua PMI Bidang PSD Apin Aripin serta turut dihadiri pula oleh Camat Sukaresmi dan Kades Cibanteng,” ujarnya.

Lebih lanjut Hery menjelakan, saat ini PMI sebagai lembaga kemanusiaan keberadaannya sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam pelayanannya terus memaksimalkan dan memberikan pelayanan, baik dalam upaya pencegahan maupun pada saat tanggap darurat untuk mendukung pemerintah daerah dalam rangka mewujudkan masyarakat yang tangguh bencana.

Dijelaskannya, program KBBM merupakan suatu kegiatan yang mengupayakan pemberdayaan kapasitas masyarakat agar dapat mengambil inisiatif dan melakukan tindakan dalam meminimalkan dampak bencana yang terjadi di lingkungannya.

Untuk materi dalam kegiatan ini para peserta akan mendapatkan materi sebanyak 30 jam efektif yang disampaikan oleh para fasilitator PMI diantaranya pengenalan tentang pemetaan bahaya, kerentanan, risiko dan kapasitas serta pengorganisasian masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana. Kemudian penyadaran masyarakat dan Simulasi praktek lapangan.

Dalam Kegiatan pelatihan tersebut diikuti tidak kurang 30 peserta dari perwakilan masyarakat yang mayoritas tinggal di daerah rawan bencana.

(kim)