Cianjur Rangking Satu Rawan Bencana se-Indonesia

Cianjur Rawan Bencana

RADARCIANJUR,com – Jawa Barat (Jabar) dinilai merupakan salah satu provinsi yang rawan bencana. Dari 27 kabupaten/kota yang ada di Jabar, Kabupaten Cianjur disematkan menjadi wilayah paling rawan bencana. Bahkan, Kota Tauco ini dinyatakan sebagai wilayah paling berbahaya risiko bencana di seluruh Indonesia.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, Supriyatno mengatakan, Kabupaten Cianjur menjadi kabupaten yang paling rawan diterpa bencana. “Kami punya daftar, Cianjur tingkat indeks risiko bencana tertinggi se-Indonesia. Kedua, Garut, ketiga, Kabupaten sukabumi. Keempat, Tasikmalaya. Ini tertinggi nasional,” ujarnya, Minggu (13/1/2019).

Kota Depok menjadi wilayah paling aman di Jabar. Supriyatno mengatakan bahwa bencana yang mengancam kabupaten dengan indeks tertinggi beragam. Mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, hingga longsor.

“Kami ada 27 kabupaten kota, kami konsentrasi di sini (empat teratas rawan bencana), risiko kecil Ciamis dan Pangandaran,” tuturnya.

Untuk itu, lanjutnya, pihaknya berupaya melakukan sosialisasi mitigasi bencana di berbagai daerah dengan kerja sama dengan instansi sekolah atau perkantoran. Dalam sosialisasi tersebut, BPBD Jabar juga menggelar simulasi bencana semisal gempa dan tsunami agar masyarakat tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana datang.

Hal senada diungkapkan, Kepala BPBD Kabupaten Cianjur, Dody Permadi. Baginya, saat ini BPBD sedang siaga banjir longsor dari November 2018 hingga Mei 2019.

“Saat ini kan kita sedang siaga banjir longsor,” paparnya.

Dody menambahkan, 10 potensi bencana ada di Kabupaten Cianjur dan menempati posisi pertama di Indonesia dengan kerawanan bencana. Pasalnya wilayah Cianjur berdampingan dengan potensi bencana seperti pergerakan tanah. Masyarakat di 32 kecamatan pun diminta waspada atas kerawanan bencana meski bencana yang terjadi berdasarkan kategorinya.

“Semua 32 kecamatan ada kerawanan bencana tapi tergantung bencananya dulu apa, dan kalau pergerakan tanah hampir di seluruh wilayah,” jelasnya.

Sementara itu, kemarin, dDampak angin puting beliung disertai hujan deras bertambah menjadi tiga kampung di Kecamatan Sukaluyu. Maka total dampak bencana itu sebanyak 24 rumah rusak akibat peristiwa yang terjadi, Jumat (11/1) lalu.

Kapolres Cianjur melalui Kapolsek Sukaluyu, AKP Gito mengatakan, setelah dilakukan pemeriksaann lebih lanjut ke beberapa titik lokasi di Desa Sukamulya, ada sekitar 24 unit rumah, satu mushola dan sarana pendidikan DTA, terkana dampak angin puting beliung tersebut.

Adapun ketiga kampung itu diantaranya, Kampung Cariu, Kampung Pasirgede dan Kampung Sukasirna. “Tidak ada korban jiwa, hanya kerugian material saja. Sejumlah genting rumah warga berterbangan, sebagian besar rusak ringan genting merosot dan bilik rumah rusak,” kata Gito, kemarin.

Adapun data kerusakan rumah warga baik rusak ringan, sedang dan berat di Kampung Cariu ada sekitar enam rumah, sisanya di dua kampung lainya yakni Kampung Pasirgede dan Kampung Sukasirna.

AKP Gito menambahkan, tindakan Kepolisian sebelumnya saat ada laporan dan bencana terjadi langsung mendatangi TKP. Misalnya melakukan pengecekan, sekaligus mendata rumah yang kena
dampak angin puting beliung.

Berdasarkan catatanya ada sekitar 24 rumah warga rusak berat, dan ringan. Lalu Mushola dan sarana pendidikan DTA.

“Kalau ditambah dengan dua fasilitas ibadah dan pendidikan sekitar 26 unit bangunan yang rusak,” ungkapnya.

Pihaknya kini tengah bergerak langsung membantu warga, memotong pohon yang menimpa
rumah

dan lainnya. “Kami juga tengah memantau perkembangan lebih lanjut,” tambahnya.

Syarif (46) salah seorang warga yang rumahnya terkena beliung menyebutkan saat kejadian secara tiba-tiba. Bukan rumahnya saja, melainkan tetangga dekat dan beda kampungnya juga mengalami hal yang sama.

“Kalau rumah saya hanya rusak ringan, seperti sebagian atap rumah merosot,” ungkap Syarif diamini Eni (35) dan Ade Ading (45) dua warga yang juga rumahnya rusak.

(radar cianjur/kim/mat)