Sehari, Tiga Bencana di Jabar

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Jawa Barat (Jabar) merupakan provinsi yang rawan terhadap bencana. Bahkan, semua jenis bencana dari mulai bencana alam sampai teknologi berpotensi terjadi di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, salah satu indikasi kerawanan bencana ini bisa dilihat dari banyaknya jumlah bencana yang terjadi di tanah priangan. Dalam satu tahun, bencana di Jawa Barat mencapai 1.000-1.500 kejadian.

“Jika dibagi per bulan, rata-rata kejadian bencana di Jawa Barat mencapai 100 kejadian, sehari tiga kejadian,” tutur Ridwan Kamil saat meninjau korban angin puting beliung di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Senin (14/1).

Sebagian besar bencana yang terjadi di Jawa Barat adalah pergerakan tanah atau longsor. Menurut Ridwan Kamil, dari 1.000-1.500 kejadian bencana 40 persennya adalah longsor. “Setelah longsor baru banjir, kemudian kebakaran dan angin puting beliung,” katanya.

Tidak jarang kejadian bencana tersebut menimbulkan korban jiwa, seperti dalam kejadian longsor di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi beberapa pekan lalu.

Dengan kerawanan terhadap bencana, Emil (Sapaan akrab Ridwan Kamil) meminta kepada masyarakat untuk selalu waspada dan mengenali tanda-tanda alam.

Mengenali tanda-tanda alam, kata Emil harus dilakukan oleh masyarakat terutama dalam bencana yang belum bisa diprediksi.
“Puting beliung atau di Amerika disebut tornado belum ada teknologi yang bisa memprediksi kapan terjadi. Tapi ada tanda-tanda alam yang bisa dilihat dan dirasakan,” ujarnya.

Menurutnya, ada dua indikator yang menunjukan bahwa angin puting beliung akan terjadi dalam waktu dekat. Yakni, perubahan suhu dan perubahan cuaca secara mendadak. “Jika cuaca dari cerah tiba-tiba mendung, kemudian udara dari panas tiba-tiba dingin, harus diwaspadai terjadi angin puting beliung,” ujarnya.

Emil melanjutkan, Pemprov (Pemerintah Provinsi) Jabar juga sedang menjalin kerjasama dengan jepang untuk membuat cetak biru kebencanaan. “Kami sedang menyiapkan cetak biru jabar tanggap bencana. Kerjasama dengan Jepang yang memiliki sistem kebencanaan canggih,” ungkapnya.

Dengan cetak biru tersebut, diharapkan dampak dari bencana di Jawa Barat bisa diminimalisir, terutama dalam hal korban jiwa.

(gat)