AGAMA ITU NASIHAT

Oleh: Deding Ishak*

“Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu
dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu” (Q.S. Al-A’raf: 68).

Demikian pula dalam sebuah hadits disebutkan: dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary R.A., bahwasanya Nabi SAW bersabda: Agama itu nasihat. Sahabat bertanya: Bagi siapa? Beliau bersabda: Bagi Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin-pemimpin dan umat Islam pada umumnya. (H.R. Muslim)
Kata nasehat berasal dari bahasa Arab, dari kata kerja “Nashaha” yang berarti “khalasha”, yaitu murni serta bersih dari segala kotoran dan benar. Kata ini sering menjadi sifat dari kata taubat, taubat nashuha artinya taubat yang benar. Dalam arti lain, nasihat juga bisa berarti “Khaatha”, yaitu menjahit. Diartikan demikian karena perbuatan penasehat yang selalu menginginkan kebaikan orang yang dinasehatinya dengan diibaratkan memperbaiki pakaiannya yang robek.
Menurut istilah, nasehat adalah mengajak kepada suatu kebaikan dan mencegah dari keburukan. Imam Ali al-Shobuni mengartikan nasihat dengan menghendaki kedamaian dan kebaikan.
Pengertian secara bahasa dan istilah tersebut dapat mengantarkan kita kepada pemahaman hadits di atas bahwa pertama, agama itu nasihat bagi Allah. Maksudnya, dengan berpegang kepada agama, umat Islam dapat tetap memlihara keyakinan dalam mensucikan Allah dan kemahasempurnaan-Nya. Mengesakan-Nya dalam hal ibadah dan menjauhi kesyirikan, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya,mencintai apa yang dicintai-Nya dan membenci apa yang dibenci-Nya.Kemudian mereka juga harus mengajak kepada kebaikan dan kedamaian sesuai dengan ajaran-Nya.
Kedua, agama itu nasihat bagi kitab-Nya. Hal ini mengandung arti bahwa dengan berpegang kepada agama, umat Islam dapat tetap memelihara kesucian al-Qur’an, membacanya, menggali isinya dan mengamalkan kandungannya. Kemudian mereka juga diharapkan dapat mengajak kepada kebaikan dan kedamaian sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam kitab suci.
Ketiga, agama itu nasihat bagi Rasulullah SAW. Maksudnya, dalam menjalankan misi kerasulannya, beliau berpegang teguh kepada wahyu Allah. Sebagaimana firman Allah: “Dan dia tidak berkata dari (karena) nafsunya kecuali wahyu yang diberikan kepadanya.” Beliau juga menjaga kesucian dan kemuliaan sebagai teladan umat.Beliau telah menyampaikan risalahnya kepada umat. Dalam menyampaikan dakwah islamiyah kepada umatnya masyarakat Arab Jahiliyah menjadi masyarakat Islamiyah dalam waktu relatif singkat.
Keempat, agama itu nasihat bagi pemimpin-pemimpin Islam. Maksudnya, dengan berpegang kepada agama, para pemimpin hendaknya menjalankan tugas kepemimpinan sesuai dengan ajaran agama. Para pemimpin Islam hendaknya membersihkan dirinya dari hal-hal yang tidak terpuji sehingga menjadi panutan umat. Mereka juga dituntut untuk mengajak umatnya kepada kedamaian dan kebaikan serta menjauhkan dari kemunkaran. Seorang pemimpin harus betul-betul ikhlas untuk memberikan pelayanan yang terbaik dengan menciptakan kepedulian sosial bagi semua lapisan, dan menjadikan kekuasaan sebagai amanah yang tidak boleh disia-siakan, karena hanya dengan sikap ikhlaslah seorang pemimpin akan berhasil menghilangkan kecenderungannya untuk mengedepankan kepentingan yang bersifat temporal dibandingan kemaslahatan umat secara menyeluruh.
Kelima, agama itu nasihat bagi umat Islam. Maksudnya dengan berpegang kepada agama, umat Islam diharapkan dapat membersihkan dirinya baik dari kotoran lahir maupun batin. Akidahnya tetap dijaga utuh. Mereka juga diharapkan dapat taat kepada Allah, Rasul-Nya dan para pemimpinnya. Mereka juga dituntut untuk saling mengajak kepada kedamaian dan kebaikan serta menjauhkan dari kemunkaran.
Alhasil, dalam kehidupan ini setidaknya kita jangan lepas dari lima unsur tersebut yakni Allah sebagai Tuhan, kitabullah sebagai pedoman hidup, Rasulullah SAW sebagai teladan hidup, para pemimpin sebagai panutan dan pewaris para nabi, dan umat Islam sebagai saudara dan teman dalam hidup bermasyarakat. Insya Allah, dengan berpegang pada lima unsur tersebut, kita dapat memperoleh kebahagiaan baik didunia maupun di akhirat kelak.

*Penulis adalah Ketua Umum DPP Majelis Dakwah Islamiyah (MDI),
dan Anggota Komisi VIII DPR RI.