Goodbye Edy

RADARCIANJUR.com – Edy Rahmayadi kembali membuat kejutan. Ia mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI dalam Kongres di Bali, Minggu (20/1). Banyak pro-kontra yang terjadi selama Edy memimpin PSSI.

Terpilih dalam Kongres di Hotel Mercure, Jakarta, 10 November 2016, Edy berhasil menduduki jabatan PSSI periode dengan torehan 76 suara mengalahkan calon lainnya, yakni Moeldoko dan Eddy Rumpoko.

Gebrakan pertama Edy usai memimpin PSSI adalah memilih pelatih untuk empat kelompok Timnas Indonesia, yakni senior, U-22, U-19 dan U-16. Ketika itu Edy mendapat banyak dukungan karena memilih Luis Milla sebagai pelatih Timnas Indonesia senior dan U-22, Indra Sjafri di U-19, dan Fakhri Husaini di U-16.

Banyak yang berharap Edy mampu membawa perubahan dalam PSSI. Terlebih ketika itu Edy masih menjabat sebagai Pangkostrad ketika terpilih sebagai Ketum PSSI. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, Edy mulai mendapat desakan mundur.

Setelah Timnas Indonesia gagal di SEA Games 2017, Edy semakin mendapat kritikan setelah memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Utara. Keputusan itu membuat Edy semakin mendapat desakan untuk mundur karena dianggap tidak akan fokus ketika rangkap jabatan.

Gebrakan pertama Edy usai memimpin PSSI adalah memilih pelatih untuk empat kelompok Timnas Indonesia, yakni senior, U-22, U-19 dan U-16. Ketika itu Edy mendapat banyak dukungan karena memilih Luis Milla sebagai pelatih Timnas Indonesia senior dan U-22, Indra Sjafri di U-19, dan Fakhri Husaini di U-16.

Banyak yang berharap Edy mampu membawa perubahan dalam PSSI. Terlebih ketika itu Edy masih menjabat sebagai Pangkostrad ketika terpilih sebagai Ketum PSSI. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, Edy mulai mendapat desakan mundur.

Setelah Timnas Indonesia gagal di SEA Games 2017, Edy semakin mendapat kritikan setelah memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Utara. Keputusan itu membuat Edy semakin mendapat desakan untuk mundur karena dianggap tidak akan fokus ketika rangkap jabatan.

Tagar #EdyOut banyak beredar di media sosial setelah Timnas Indonesia gagal di babak grup Piala AFF 2019. Dalam perjalanan menuju Kongres Tahunan PSSI 2019, Edy tidak henti-hentinya mendapat desakan mundur setelah muncul kasus pengaturan skor yang menimpa sejumlah petinggi PSSI.

Kini Edy memutuskan mundur di saat PSSI sedang babak belur dihajar kasus pengaturan skor. Beban berat pun menanti siapa saja yang akan menggantikan posisi Edy sebagai Ketua Umum PSSI.

Manajer Persib Bandung, Umuh Muchtar, menilai Edy Rahmayadi yang baru saja mengundurkan diri telah dikhianati oleh orang-orang di dalam PSSI. Umuh mengapresiasi langkah Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi yang mundur dari jabatannya.

Umuh menilai Edy lebih baik fokus mengurus Sumut ketimbang sepak bola. Ia menganggap rangkap jabatan Edy berpengaruh kepada kepengurusan internal organisasi PSSI, termasuk informasi terkini tentang sepak bola Indonesia yang diterimanya.
“Karena Pak Edy juga sibuk, jadi mungkin laporan dari anak buahnya ‘enak-enak’ saja ya. Ini Pak Edy juga dikhianati orang dalam (PSSI) sendiri,” kata Umuh kepada para awak media, Minggu.

Kendati demikian Umuh tidak menjelaskan lebih lanjut tentang ‘orang dalam PSSI’ yang dimaksud. Mengenai pengganti Ketum PSSI, Umuh ingin menunggu komunikasi dengan rekan-rekan dia terlebih dahulu. “Tunggu lah, kami terlalu dini. Belum sampai situ, saya juga belum kepikiran siapa,” katanya menambahkan.

Untuk sementara, Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono ditunjuk Edy sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI. Lebih lanjut, Umuh mengatakan Kongres Luar Biasa (KLB) harus segera dimulai. “Lebih cepat, lebih baik ya. Setelah pemilu mungkin,” ucap dia.

Sebelumnya Edy sempat menyinggung Umuh sebagai sosok yang sering berkoar dari belakang untuk mengkritik PSSI. Sentilan tersebut Edy lontarkan saat menyampaikan pernyataan mundur dari PSSI.

Umuh sendiri mengaku tidak masalah dengan sindiran tersebut. Ia malah mengaku hubungannya dengan Edy selama ini sangat baik. “Saya pernah diundang Pak Edy ke rumah dinas. Kalau saya pasrah saja, tidak ada masalah. Untuk persepakbolaan Indonesia, ini risiko saya,” ujar Umuh.

“Kenapa harus sakit hati? Biar saja, orang semua tahu sepak terjang dan kiprah di persepakbolaan. Sekarang kami harus hati-hati memilih pemimpin,” ujarnya melanjutkan.

Selain itu, Umuh juga menegaskan tidak berminat untuk menggantikan Edy sebagai Ketua Umum PSSI. “Jangan lah, saya tidak mampu. Kalau saya hanya membimbing saja kalau ada yang tidak baik. Ada [calon Ketua Umum PSSI] yang lebih baik dan bagus dari kawan-kawan (pemilik suara), ayo siapa?” tutur Umuh.

(cnn)