Kreativitas Tanpa Henti ‘Putih Abu-Abu’ SMK Dharma Kusuma, Raih Penghargaan dari IMG dan Youtube

EKSPRESIF: Salah satu tallent, Neneng Intan tengah memperagakan gaya salah satu lirik lagu terbaru dari Korea. FOTO: UMAR SARIPUDIN/ RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – Kreatif dan penuh ekspresi. Empat kata itulah yang dinilai layak disematkan kepada sejumlah siswa-siswi di SMK Dharma Kusuma yang tergabung dalam kelompok Putih Abu-Abu. Selain memberi pesan edukasi nan inspiratif, enam peserta didik yang bernaung di dalamnya mampu mendapatkan penghasilan sendiri yang mencapai Rp20 juta per bulan.

Tak mudah untuk memulainya. Ragam kendala harus dihadapi enam personil Putih Abu-Abu untuk tetap melahirkan karya-karya originalnya. Tak seorang diri, mereka didalangi dua guru supel dan humoris masing-masing bernama Ogan Jee, Guru Matematika dan Sidik Permana yang sehari-hari mengajar Simulasi Digital di SMK Dharma Kusuma.

Keduanya memiliki tugas tersendiri. Ogan ternyata bertugas sebagai creator dan editor dalam setiap karya Putih Abu-Abu. Sedangkan Sidik bertugas sebagai tallent mendampingi segenap anak didiknya saat beraksi di depan kamera.

Duo dalang bernama Ogan Jee dan Sidik Permana memiliki pasukan yang terbilang luar biasa. Para tallent itu membantu mereka untuk merealisasikan setiap ide yang ada dalam benak. Ada Putri Sukma Pratiwi, Tiara Oktavianik Kamila, Karina Amelia Putri, Andy dan Anda. Namun, ada satu alumni yang memiliki peran tak kalah penting dan sering mengisi konten video Putih Abu-Abu bernama Neneng Intan.

Tak sulit menemukan markas mereka. Sebuah gang kecil di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Cilaku menjadi saksi kerja keras mimpi besar Putih Abu-Abu setiap harinya. Kendaraan roda empat tak bisa masuk ke dalamnya. Gang sederhana itu hanya bisa dilewati oleh dua kendaraan bermotor.

Berawal dari gang itulah, setiap proses inspirasi dan kreatifitas guru beserta siswa-siswi SMK Dharma Kusuma tercurahkan di dalam studio. Bukan sembarangan studio. Tempat itu menjadi benteng dan markas Putih Abu-Abu menyiapkan segala proses pembuatan video.

Sebut saja shooting (pengambilan gambar), dubbing (rekaman suara) dan editing (menata suara dan video) dilakukan secara serentak di ruangan berwarna hijau itu. Sederhana namun terasa nyaman. Lampunya pun tidak terlalu terang. “Semua kita lakukan di sini (studio),” ujar Sidik di sela-sela pembuatan video.

Fokus pada konten video, mereka berupaya dengan maksimal untuk meng-cover beberapa lagu yang sedang hits atau viral. Berbekal semangat tinggi, siswa yang disebut tallent segera bersiap memulai aksinya. Dikelilingi sejumlah alat seperti lighting, microphone, tripod, kamera, mereka semua mengambil posisi dan tugas masing-masing. “Kami dibantu Team Creative, Agung Permana dan Indra Geterino,” ungkap Sidik sambil memperkenalkan timnya.

Dengan komposisi tim yang sudah lengkap, Putih Abu-Abu konsisten menelurkan ragam karyanya. Siapa sangka, dari hasil editing yang sederhana, kini Putih Abu-Abu sudah memperoleh penghasilan sendiri. Adalah situs bernama Youtube yang dijadikan Putih Abu-Abu sebagai sarana meraup laba menggiurkan.

Di Youtube, Putih Abu-Abu sudah memiliki channel sendiri. Hingga kemarin, mereka sudah mampu mengumpulkan 645.975 subscriber dengan viewers rata-rata mencapai 1 juta per video. “Kalau untuk penghasilan sih kurang lebih 20jt per bulan,” timpal salah satu tim kreatif, Agung.

Nominal Rp20 juta itu dibagi menjadi beberapa kebutuhan yaitu untuk biaya produksi, tabungan dan gaji setiap tallent. Jauh sebelum itu, awalnya Putih Abu-Abu berdiri satu setengah tahun yang lalu, tepatnya pada 27 Agustus 2017. Belum memiliki studio, mereka hanya mengandalkan sebuah rumah kontrakan dan ruang kelas Teknik Komputer Jaringan (TKJ) di SMK Dharma Kusuma.

Mereka pun harus melakoni bisnis itu setiap jam pulang sekolah dan hari libur sekolah. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil menyalurkan hobi sekaligus dapat uang. Bermodalkan Youtube, mereka terus meningkatkan subscriber dari tahun ke tahun.

Viewers terbanyak pertama berawal dari video cover Bobo Dimana Lucinta Luna, viewers video tersebut hingga 1jt viewers dalam waktu hanya tiga bulan. Namun untuk viewers video saat ini yang paling di minati oleh masyarakat terutama kalangan remaja yaitu cover lagu Wali berjudul Bocah Ngapaya dengan viewers yang menembus angka 18 juta.

Seiring berjalannya waktu, ragam penghargaan pun menghampiri. Sebut saja penghargaan dari IndoMusikGram. Namun, yang paling bergengsi adalah penghargaan dari Youtube itu sendiri bernama Silver Play Button pada Juni 2018. “kami dinilai memiliki keunggulan dengan subscriber yang sangat banyak saat itu,” ungkap Sidik didampingi Anda, salah satu tallent yang terkenal lewat paras manisnya.

Kolaborasi pun sudah dibuat bersama seorang Youtubers yaitu Jusman Moyuma. Mereka pun sudah merencanakan kolaborasi selanjutnya dengan Fikri Fadlu seorang Youtubers asal Cianjur. Maka dari itu, tidak aneh bila Putih Abu Abu sudah memiliki fansbest di beberapa kota seperti di Tanggerang, Bekasi, dan Sulawesi.

Salah satu tallent, Putri Sukma Pratiwi mengungkapkan, sangat disayangkan apabila memiliki bakat hanya didiamkan saja. Maka dari itu dia memilih untuk mengembangkannya di grup Putih Abu-Abu ini dan memberanikan diri untuk berbicara di depan kamera. “Menurut aku sih sayang ya kalau punya bakat tapi didiamkan. Lebih baik dicoba beranikan diri berekspresi di depan kamera,” beber siswi yang memiliki tahi lalat di pipi kirinya ini.

Tak hanya di dalam ruangan (indoor), Putih Abu-Abu pun kerap membuat konten video di luar ruangan (outdoor). Musuh mereka hanya satu yaitu cuaca buruk. Perasaan pun akan bercampur aduk setiap kali hujan turun. Namun dari situlah mereka menikmati prosesnya hingga berakhir dengan canda tawa dan menghasilkan video dengan konten terbaik.

Kepala SMK Dharma Kusuma, Dudun Sudrajat menilai, Putih Abu-Abu merupakan salah satu perwujudan dari pengembangan kreativitas seorang guru kepada muridnya. Ia pun berharap, agar bentuk kreativitas ini menjadi lahan bisnis kepada guru dan muridnya. “Saya sangat mendukung untuk Putih Abu-Abu ini. Ada pemasukan dan menjadi luapan kreativitas antar guru dan murid,” paparnya kepada Radar Cianjur.

(pkl1)