Harga Sayuran Merosot, Petani Merugi

Petani Sayur
PANEN: Salah seorang petani cabai di Kecamatan Cipanas tengah memanen hasil taninya. Kendati harga sayuran saat ini sangat anjlok.FOTO: DADAN SUHERMAN/ RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – Para petani sayur di Wilayah Cipanas mengeluh. Pasalnya, sejumlah komoditas sayuran di wilayah Cipanas mengalami penurunan harga jual yang signifikan. Seperti cabai keriting merah, cabai rawit, sawi, wortel, dan beberapa sayuran lainnya. Hal itu diduga karena musim penghujan, sehingga sayuran tersebut cepat membusuk.

Keluhan itu pun disampaikan salah seorang petani sayuran di Desa Sindanglaya Kecamatan Cipanas, Cep Busyrol mengatakan, turunnya harga jual komoditas sayuran tersebut sudah terjadi sejak sebulan terakhir.

“Saat ini komoditas sayuran ditawar oleh tengkulak maupun konsumen umum sangat rendah. Bahkan ada pula yang tidak menerima hasil panen sayuran kami,” terangnya.

Menurut Busyrol, alasan rendahnya harga jual tersebut selain disebabkan dampak musim penghujan, diperparah dengan serangan hama yang mengakibatkan kualitas sayuran jadi menurun.

“Sekarang, harga cabai keriting merah, dari semula harga Rp30 ribuan perkilo, sekarang hanya dapat terjual Rp7 ribu perkilonya. Sedangkan harga sawi daging hanya dihargai Rp500 perak, padahal harga normalnya sekitar Rp3 ribu perkilonya,” jelasnya.

Ditambahkannya, harga cabai rawit yang biasa dijual Rp50 ribu perkilonya, saat panen kemarin hanya laku Rp3 ribu perkilonya. Para pengepul menawar jauh dari harga normal.

“Sayuran lain yang turut anjlok tersebut memang hampir semua. Bahkan selada keriting yang biasanya dihargai Rp50 ribu per kantong, sekarang paling dihargai Rp10 ribu per kantong,” tambahnya.

Dirinya berharap, baik pemerintah daerah dan dinas terkait bisa lebih membantu menanggulangi hal tersebut. Apakah menurunkan harga bibit, pupuk, ataupun obat sayuran yang biasa digunakan para petani.

“Jika dibandingkan dengan hasil penjualan, para petani sangat mengeluh. Biaya operasionalnya tinggi, tapi harga sayuran murah. Bahkan kebanyakan para petani, sekarang lebih memilih menjadi kuli bangunan di wilayah lain,” tandasnya.

(dan)