Hamba dan Khalifah

Deding Ishak

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari punggung mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab: “Betul, kami bersaksi”. (Q.s., al-A`raf/7: 172)

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa setiap manusia lahir dengan naluri penghambaan. Pada ayat lainnya (al-Baqarah: 30 dan Al-Ahzab: 72) diisyaratkan pula bahwa setiap manusia membawa amanat kekhalifahan, innii jaa’ilun fil ardhi khaliifah.

Naluri penghambaan ini melahirkan kecenderungan pasrah, tunduk, taat, dan takut. Sebaliknya amanat kekhalifahan membutuhkan keberanian, ketegasan, keteguhan dan percaya diri. Pada siapa sesungguhnya naluri penghambaan mesti ditujukan dan bagaimana amanat kekhalifahan mesti diemban?

Seperti juga naluri lainnya, naluri penghambaan memiliki dorongan alamiah untuk dilahirkan. Karena itu, manusia primitif yang tidak berjumpa ajaran-ajaran agama sekalipun, mempunyai naluri tunduk pada kekuatan-kekuatan di luar manusia yang dianggap lebih berkuasa. Dalam sejarah pencariannya, manusia kemudian mempertuhankan matahari, bulan, bintang, api, sesama manusia, bahkan pada ciptaannya sendiri, berhala.

Kegagalan menemukan Tuhan yang sejati dengan tunduk pada sesuatu yang sama nisbi-nya, tentu saja membuat manusia kehilangan jati dirinya sehingga mengalami alienasi (keterasingan) sekaligus disorientasi (kehilangan arah). Pertanyaan tentang mengapa, bagaimana dan untuk apa manusia hidup, menjadi sesuatu yang tidak jelas.

Karena itu ada benarnya pendapat para pakar teori kepribadian, yang mengatakan bahwa perbedaan mendasar atheisme, politheisme dan monotheisme bukanlah pada jumlah Tuhan tetapi pada dampak alienasi dan disorientasi yang ditimbulkannya.

Begitu pentingnya naluri penghambaan manusia ini, hingga setiap Rasul mempunyai misi bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang patut dipertuhankan (tauhid). Tidak ada siapa pun atau apa pun yang semestinya mampu membuat manusia luruh dalam kepasrahan kecuali Allah semata. Oleh karena itu, penghambaan pada alam semesta raya, pada sesama makhluk maupun pada sesama manusia tidak dapat dibenarkan.

Penegasan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan berarti pula bahwa ketaatan atau ketundukan antar manusia seperti pembantu pada majikan, buruh pada pemilik modal, rakyat pada pemerintah, karyawan pada pimpinan, murid pada guru, santri pada kyai, mesti diletakkan di bawah ketundukan manusia pada Allah. Karena itu, tidak ada kewajiban untuk tunduk pada perintah siapa pun ketika diyakini bertentangan dengan perintah Allah, laa thaa’ata fii ma’shiyatil khaaliq.

Dalam realitasnya, naluri penghambaan yang hanya diarahkan pada Allah semata ini tidak terlepas dari amanat kekhalifahan manusia. Tauhid yang menjadi landasan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan (hablumminallah), selalu terjalin dengan konsep maslahatun naas (kesejahteraan manusia) yang menjadi landasan hubungan horisontal antar manusia (hablumminannaas).

Sejarah Rasul dalam meretas ajaran tauhid hampir selalu – jika tidak dapat dikatakan seluruhnya – diwarnai bentrokan dengan para penguasa ekonomi maupun politik yang di mana-mana memang cenderung eksploitatif dan represif; Nabi Musa melawan Fir`aun, Ibrahim melawan Namrud, dan Muhammad SAW menentang pemuka dan penguasa Makkah. Ajaran tauhid di tangan para Rasul ini menjadi sebuah kekuatan protes pada kekuasaan yang menindas rakyat.

Semangat tauhid yang terkait dengan naluri penghambaan manusia, sudah semestinya tidak dilepaskan dari amanat kekhalifahan yang juga adalah bagian dari kedirian manusia, sebuah tanggungjawab untuk memelihara kesejahteraan bersama.

Agama sudah semestinya tidak dipahami sebagai seperangkat ajaran dan penghayatan yang bermuara pada relasi manusia dan Tuhan semata tanpa menyentuh problem kemanusiaan secara umum. Sebaliknya problem kemanusiaan apa pun, terutama yang menyentuh kepentingan kelompok kecil, mesti dipahami sebagai bagian tak terpisahkan dari tanggungjawab kekhalifahan dan amanat keberagamaan kita.

Dengan demikian, setiap manusia adalah hamba yang menjadi khalifah. Seorang hamba Allah yang mengabdi pada amanat kekhalifahan untuk berperan aktif dan turut bertanggungjawab atas kesejahteraan alam semesta raya seisinya, kesejahteraan manusia secara umum tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalamnya. Wallahu A`lam!

*Ditulis oleh, Dr. H. Deding Ishak, Ketua Umum DPP Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) dan Anggota Komisi VIII DPR RI

(*)