Untold Story Herman Suherman (1), Lelaki dari Kaki Gunung Gede

Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman

RADARCIANJUR.com – Kabut masih menyelimuti kaki langit Gunung Gede. Udara dingin menyentuh sebuah perkampungan yang terletak di antara perkebunan teh, tanaman sayur-mayur, serta teras pesawahan yang tersusun di pebukitan.

Orang bilang, kampung itu bernama Kuta Wetan, masuk ke wilayah Desa Mangun Kerta, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur. Suasana kampung hening ketika penghuninya pergi ke ladang, sawah atau pergi memetik teh di Perkebunan Gedeh sejak subuh hari.

Entah mengapa kampung itu disebut Kuta. Mungkin berasal dari “makuta“ yang berarti mahkota. Siapa tahu?. Nama kampung itu menjadi sebuah tanda, jika pada suatu hari bakal ada rakyat setempat yang menjadi “pangagung”.

Butiran gerimis jatuh satu-satu tertiup angin gunung yang menggoyang ranting dan dedaunan. Saat itu, 54 tahun lalu, tanggal 23 Oktober 1962, Rengek sosok bayi lahir dari keluarga sederhana.

H Pupung Rustandi dan Hj Nunung Saadah. Pasangan suami istri itu memberi nama bayinya: Herman Suherman yang kelak akan ditakdirkan Allah SWT menjadi seorang “pangangung” sebagai Bupati Cianjur. Kampung Kuta Wetan ternyata telah memberikan “makuta” bagi seorang warganya: Herman Suherman Bin Pupung Rustandi.

Setamatnya sekolah dasar di SDN Gintung tahun 1975, Herman kecil melanjutkan sekolahnya di Sekolah Tehnik Negeri II Cianjur kemudian melanjutkannya ke STM Negeri Cianjur. Sejak awal, dia mengikuti langkah ayahnya yang berlatarbelakangkan pendidikan tehnik sipil sebagai jenjang pendidikan dasarnya hingga lulus Sarjana Muda Tehnik di Akademi Tehnik Pekerjaan Umum ( ATPU) Jabar tahun 1986.

Dengan modal pendidikan akademik itulah Herman diangkat sebagai PNS yang ditugaskan di Kantor PU Kabupaten Cianjur, jabatan pertamanya Kasubsi Pengolahan Data DPUK DT II Cianjur pada tahun 1992.

Guna menambah wawasan keilmuannya, Herman lulus S1 dari UNLA Bandung tahun 2000 serta S2-nya dari STIA LAN Bandung tahun 2010.

Seperti juga ayahnya, Herman Suherman hanya tekun bekerja. Selain mengikuti program pendidikan kedinasan, Herman tak pernah ikut campur kegiatan politik. Karena itulah dia tak pernah bermimpi, jika suatu saat dia akan melenggang ke Pendopo Cianjur. Pada jabatan kedinasannya, berturut-turut Herman menjabat Kasubsi Pengairan DPUK DT II Cianjur 1998, Kasubsi Penyusunan Program DPU Bina Marga 1999.

Kasi Perencanaan Teknis DPU Bina Marga 2001, Kasubdin Perencanaan Teknik DPU Bina Marga 2006. Kabid Bina Teknik DPU Bina Marga 2009, Kepala Kantor Lingkungan Hidup 2009, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan 2010 serta jabatan terakhir di kedinasannya sebagai Direktur Utama PDAM Cianjur 2014.

Ketika menjabat Direktur Utama PDAM Tirta Mukti, Herman hanya mengucap syukur kepada Illahi Rabbi, meskipun teman-temannya sesama pejabat di Cianjur menilai, Herman bernasib mujur mendapat kepercayaan menjadi Dirut.

Saat itu, Herman berpikir, jabatannya itu sebagai pekerjaan terakhirnya menjelang pensiun beberapa tahun lagi. Dia hanya berkomentar, semua tugas yang diberikan Bupati Cianjur, Tjetjep Muchtar Soleh itu hanyalah amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Namun, Allah SWT berkehendak lain. Di tengah kesibukannya mengembangkan sarana, fasilitas serta SDM PDAM Tirta Mukti dengan pembinaan moralnya, tiba-tiba terkejut ketika Herman diminta kesanggupannya oleh Bupati Cianjur untuk menjadi orang nomor satu di Kabupaten Cianjur ini untuk menggantikan Pak Tjetjep yang telah habis masa jabatannya.

Pak Tjetjep meyakini, Herman tak akan menolak apapun yang ditugaskannya, sebagaimana sikap Herman selama ini. Walaupun awalnya Herman merasa risih, namun lama-lama pemikirannya kembali kepada sikap dan prilaku sebagai PNS, yang harus mentaati perintah atasannya selama perintah itu bermanfaat untuk masyarakat.

Sesuai dengan perkembangan situsi politik, akhirnya Herman ditegaskan harus mendampingi Irvan Rivano Muchtar, Calon Wakil Bupati Cianjur periode tahun 2016-2021.

Tak pernah terbetik di pikirannya jika Herman Suherman kelak akan menjadi Bupati Cianjur. Dia hanya berpikir, di akhir masa pengabdiannya sebagai PNS, dia bersiap-siap untuk mengetuk pintu Persatuan Wredata Republik Indonesia, bersilaturahmi dengan sesama calon aki-aki serta mengasuh cucu dari anak-anaknya.

Rupanya, Allah SWT berkata lain, kuasaNya itu telahleh berhenti mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Bahkan, kini, Herman Suherman di berikan lahan pengabdiannya yang lebih luas lagi sebagai Bupati Cianjur.

Sebagaimana sifat dan karakter Herman Suherman, tidak pernah membantah kepada atasan, Herman menyatakan kesiapannya meskipun dia merasa, pekerjaannya itu sangat berat baginya.

Menerima tantangan pekerjaan serta melakukannya dengan serius telah menjadi darah daging Herman Suherman. Dia membuktikan kekerasan usahanya ketika diperintahkan untuk menjadi Dirut PDAM Tirtamukti Cianjur.

Seperti petir disiang bolong, Herman terkejut, ketika menerima permintaan Bupati Cianjur, Tjetjep Muchtar Soleh, untuk mendaftarkannya menjadi calon bupati. Sama sekali, dia tak menyangka, panggilan atasannya itu akan mengarah kesana. Karena, dia terbiasa menerima panggilan soal pekerjaannya selaku Direktur PDAM Tirtamukti.

Pilihan Pak Bupati itu tentunya tak asal-asalan. Cianjur membutuhkan orang seperti Herman, pekerja keras, tak banyak bicara, santun, mampu mengendalikan emosi, punya wawasan ke depan serta agamis.

Seperti tertulis dalam riwayat hidupnya, lelaki yang hidup dan dibesarkan di kaki Gunung Gede itu punya moto yang dijadikan semangat hidupnya: Lebih Maju dan Agamis. Moto hidupnya itulah yang dijadikan Jargon Kabupaten Cianjur pada masa pemerintahannya itu.

Do’a Restu Keluarga

Tawaran Bupati Cianjur itu membuat Herman kebingungan. Tak cepat-cepat dia mengiyakan, sebab dia harus beristikharah serta meminta saran kepada keluarga, terlebih kepada ibundanya. Diam-diam, air mata menggenangi kelopak matanya. Setelah beberapa kali menyekanya, Herman segera menelepon adiknya, Lies Suroyo. Herman meminta keluar hanya berkumpul untuk merundingkan tawaran atasannya itu.

Keluarganyapun berkumpulah, disampaikannya tawaran Bupati Cianjur itu kepada mereka. Hampir semuanya terdiam. Semuanya berpikir sama, tugas yang ditawarkan Pak Bupati itu merupakan hal yang dilematis. Karena selama ini, Herman, tak pernah turut campur dalam utrusan politis bahkan sama sekali, dia tak pernah menduakan pikiran dan pekerjaannya, selain bertugas selaku PNS, mengabdi hanya untuk tugas yang tengah dilakoninya.Tawaran untuk menduduk jabatan politis itu baginya merupakan hal luar biasa bahkan hampir saja dia tak percaya.

Semua keluarganya ahkhirnya mengalihkan pandangan matanya kepada Hj. Nunung Sa’adah yang saat itu menginjak usia 73 tahun. Setelah ayahanda Herman meninggal dunia, tinggal ibunya sebagai satu-satunya penunjuk jalan hidupnya itu.

Tak banyak berkata-kata, Hj. Nunung Saadah, mengecup dan meniup umbun-umbun Herman yang tengah tersungkur di pangkuannya. Diapun berkomat-kamit mendo’akan anaknya itu.

Pikiran Herman kini jadi terang benderang setelah Ibunya merestui dan memberkatinya untuk menjadi pemimpin Cianjur itu. Sebuah saran ibunya yang tak akan pernah terlupakan Herman, agar menjadi pemimpin yang bijak, amanah, jujur dan agamis. Diakhiri kata-kata Hj Nunung Saadah, berusahalah untuk mensejahterakan masyarakat Cianjur serta jangan memalukan keluarga.

Meminta do’a dan restu kepada ibunya sudah menjadi kebiasaan Herman sejak kecil. Setelah ayahnya meninggal tahun 2003, tinggal ibunya sebagai seorang insan yang menjadi tiang do’anya. Tanpa do’a dan restu ibunya, Herman tak akan melakukan sesuatu hal yang menurutnya sangat prinsipil sekali.

Restu ibunya dijadikan tiang pancang untuk memulai niatnya menjadi Bupati Cianjur. Herman menganggap, restu ibu adalah ridha Allah SWT. Karenanya, dia akan berusaha menjaga amanat dan kepercayaan ibunya untuk tidak melakukan sesuatu yang akan merusak atau menoda’i restu ibunya itu.

(Ruddy As)