Giliran 10 Warga Kecamatan Cianjur jadi Korban DBD

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Sedikitnya 10 warga di Kecamatan Cianjur terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD) selama bulan Januari tahun ini. Sebagian diantaranya, hingga kini masih menjalani rawat inap di Puskesmas Nagrak.

Berdasarkan data yang dimiliki Puskesmas Nagrak, warga yang terjangkit DBD terdeteksi di seluruh desa. Utamanya di empat desa yakni Desa Mekarasari, Nagrak, Limbangansari, dan Desa Sukamaju, Kecamatan Cianjur.

“Sudah ada 10 warga terjangkit. Tapi sebagian sudah sembuh dan menjalani rawat jalan,” kata Kepala Puskesmas Nagrak, dr Dikdik kepada Radar Cianjur, kemarin.

Didik mengungkap, para penderita DBD itu rata-rata tidak terbiasa dengan pola hidup sehat dan kurang menjaga kebersihan lingkungan setempat. Terlebih kebersihan saluran pembuangan air. Pasalnya, jentik nyamuk penyebar DBD berada di genangan air.

“Apalagi untuk memberantas nyamuk Chikungunya tidak cukup difoging saja,” tegasnya.

Karena itu, lanjut Didik, sangat penting bagi warga untuk menjaga perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu, kebiasaan menjaga kebersihan dengan mencuci tangan setelah melakukan suatu aktifitas tertentu adalah hal penting lainnya.

“Cuci tangan sebelum makan itu penting. juga cuci tangan setelah buang air besar dan selalu bersihkan sampah,” jelasnya.

Cara lain yang bisa dilakukan untuk menghindari penyebaran DBD adalah dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), baik di rumah maupun di lingkungan sekitar tempat tinggal.

Bisa juga, sambung Didik, dilakukan dengan gerakan 4M Plus. Yakni Menguras bak air, menutup penampungan air, mengubur barang-barang bekas, dan memantau.

“Plus-nya jangan menggantung baju disembarang tempat, memelihara ikan, hindari gigitan nyamuk dan membubuhkan abate,” beber dia.

Sayangnya, sampai saat ini, kesadaran masyarakat menjaga kebersihan dan pola hidup sehat masih cukup rendah. Karena itu, pihaknya juga memilih untuk proaktif mendatangi warga untuk sosialisasi.

“Kami terus mengimbau dan melakukan penyuluhan secara kontinyu,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya meminta kepada pemerintah desa setempat untuk giat dan menggalakkan kembali gotong-royong di lingkungan masing-masing.

“Karena dengan pengasapan atau fogging itu bukan solusi utama,” tutupnya.

Senada, juga disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur Tresna Gumilar. Menurutnya, kewaspadaan dini jauh lebih penting ketimbang sudah terlanjur menyebar.

“Jangan bosan bersih-bersih lingkungan agar selalu bersih dan ramah lingkungan dan terhindar dari Chikungunya,” jelasnya.

Ia menambahkan, para petugas Jumantik yang terdiri dari tim kesehatan di tingkat puskesmas bertugas memberikan pengetahuan dan sosialisasi terkait pencegahan berkembang-biaknya jentik nyamuk. Selain itu, ia meminta tim kesehatan di tingkat kecamatan, khususnya untuk mengedukasi warga terkait pentingnya pencegahan dini DBD. Terlebih saat ini memasuki musim penghujan dimana laporan penderita DBD terus diterima pihaknya.

“Sangat perlu menggerakkan masyarakat dalam PSN,” tegasnya.

Lebih lanjut, Tresna mengimbau kepada para petugas kesehatan di lapangan agar lebih aktif untuk mendeteksi wilayahnya masing-masing. Yakni dengan cara melaporkan secepat mungkin adanya penderita atau warga yang mengalami gejalan DBD.

“Petugas segera melakukan pencegahan dan pertolongan, lalu dilakukan pengasapan atau fogging,” pungkasnya. (mat)