Konsep Garis Kemiskinan BPS

RADARCIANJUR.com – Untuk mengukur kemiskinan, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cianjur menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (Basic Needs Approach). Dimana, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi.

Kepala Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik (Nerwilis) Kabupaten Cianjur, Surya Cahya Permana mengatakan, pemenuhan kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan, diukur dari sisi pengeluaran.

Jadi, penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

“Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) modul konsumsi dan pengeluaran,” jelasnya kepada Radar Cianjur.

Sementara, Garis Kemiskinan (GK) merupakan hasil penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).

Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan kategorinya sebagai penduduk miskin.

Surya menambahkan, GKM merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilo kalori per kapita per hari.

Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili 52 jenis komoditi di antaranya padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dan lainnya.

“Nah, GKNM adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan,” terangnya. (mat)