RUU Permusikan Vonis Mati Kreativitas Musisi

RADARCIANJUR.com – Gelombang penolakan terhadap RUU Permusikan terus bergulir. Semua musisi di Tanah Air, tak terkecuali Cianjur menyatukan suara terhadap sejumlah pasal yang dinilai menyalahi bahkan membunuh kreativitas dan keahlian pelaku musik. Sejumlah pasal tak lepas dari sorotan tajam karena dianggap mengancam kebebasan berekspresi.

Pembina UKM Seni Fakultas Hukum Universitas Suryakancana Cianjur, Yudi Junadi menyatakan dengan keras, menolak RUU Permusikan. Menurutnya, UU dijadikan sebagai tameng dengan modus beragam alasan. Menurutnya, pasal 5 dalam RUU itu menelurkan multi tafsir. Pemusik potensial akan diperhadapkan dengan kendala dikriminalisasi. “Lagi pula delik pasal 5 RUU itu materi perbuatannya telah diatur dalam sejumlah UU. Jadi, menurut saya ini sudah berlebihan,” ujarnya kepada Radar Cianjur.

Pria yang konsen di musik bergenre jazz ini menambahkan, pasal yang tak kalah penting yaitu di dalam pasal 32 RUU. Di dalamnya mensyaratkan harus uji kompetensi sehingga dapat menimbulkan diskriminasi karena setiap pemusik memiliki keahlian dengan warna yang berbeda-beda. “Nah, warna yang berbeda dengan kriteria uji kompetensi akan tersingkir,” papar dosen Fakultas Hukum Universitas Suryakancana ini.

Lanjutnya, pasal 42 tak kalah menuai sorotan. Selain telah mereduksi proses memelihara dan merawat seni tradisional nantinya akan menjadi pemaksaan negara sehingga secara otomatis akan menjadi ancaman bagi kebebasan berekpresi.

“RUU Permusikan potensial memandulkan kreativitas pemusik. Uji kompetensi akan menjadikan kreativitas sekedar nada-nada yang ditetapkan negara. Musik jadi etatisme. Serba negara. Pengaturan negara atas seni akan melahirkan ketidakberaturan dan ketidakadilan,” papar pria yang gemar dan lihai memainkan alat musik sexophone ini.

Hal senada diungkapkan Sekretaris Jenderal FSMC, Irfan Fauzi. Ia tak habis pikir, mengapa RUU yang dinilai mengkerdilkan para musisi ini justru dicanangkan. “Perlu ditanyakan orang-orang yang melakukan uji kompetensi. Siapa saja yang ada di dalamnya?,” tanyanya.

Vokalis Band Ilusi ini juga geleng-geleng kepala saat melihat Pasal 42 RUU Permusikan. Ia pun prihatin dengan kondisi musisi tradisional yang sudah relatif lama bergelut dari turun temurun menekuni bidang ini.

Ia pun menuntut, pemerintah dapat lebih bijak menentukan peraturan. “Alangkah lebih baik diperhatikan mengenai perlindungan hak cipta dan hak intelektual. Musik itu menjual rasa bukan sertifikat, sehingga jangan dibatasi seni yang ada di dalam diri. Kalau mau yang diurusin itu perlindungan hak cipta serta hak intelektual dan bukan diskriminasi seperti ini,” terangnya tadi malam.

(yaz/kim)