Mengenal Jaja Ilalang, Pelukis yang Karyanya Dibeli oleh Presiden RI Joko Widodo

BERUNTUNG: Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo membeli satu buah lukisan dengan harga Rp10 juta.

RADARCIANJUR.com – Bahagia, terharu dan bangga. Itulah yang dirasakan Jaja Ilalang, pelukis yang lukisannya dibeli oleh Presiden RI, Joko Widodo dengan tunai senilai Rp10 juta. Tak terbayang oleh pria setengah abad ini sebelumnya, lukisan yang dibuat hanya dalam waktu satu setengah jam itu bisa menarik minat orang nomor satu di Indonesia itu. Berikut hasil perbincangan wartawan Radar Cianjur, Abdul Aziz N Hakim dengan Jaja Ilalang.

Tak sekalipun terbayang dalam benaknya, bakat dan kegemarannya menggambar sedari kecil itu bakal mempertemukannya, berbincang, dan diapresiasi langsung dengan Presiden RI Joko Widodo.

Makin tak terbesit pula di kepalanya, gerak kuas berpadu dengan cat minyak yang diguratkannya di atas kanvas berukuran 120 x 90 sentimeter dengan menampilkan sosok seorang kakek tua tengah tertawa lepas itu bakal menarik perhatian orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Tak mudah menemukan kediaman Jaja. Pria yang tinggal bersama dengan istri dan ketiga orang anaknya ini bertempat tinggal di Kampung Bojongasih Rt02/20 Kelurahan Bojongherang, Cianjur. Melewati gang kecil serta beberapa rumah dan juga pesawahan yang terbentang.

Saat tiba, Jaja menyambut dengan penuh kehangatan di kediamannya yang ukuran 12 x 14 meter dan di depannya terdapat pekarangan yang menghadap ke persawahan.

Jaja mulai bercerita mengenai awal mula dirinya bisa melukis, tanpa kursus maupun sekolah namun bisa menghasilkan karya yang luar biasa.

“Saya tidak belajar (melukis, red) dari mana-mana, tapi otodidak. Semua belajar sendiri saja,” ujarnya.

Jaja sendiri menghabiskan masa kanaknya di Desa Cihaur Satu, Kecamatan Ciranjang. Hingga pada tahun 2000, dirinya memutuskan pindah ke kediamannya sekarang.

Tak mudah memang untuk menghasilkan karya lukisan seperti saat ini yang sudah bisa dibuatnya. Jatuh-bangun, pedih dan sedih karena karyanya tak diapresiasi semestinya sudah kenyang dirasakannya. Bukan setahun dua tahun, tapi bertahun-tahun.

Namun siapa sangka, Jaja sejatinya sama sekali tak berniat menjadikan kemampuannya melahirkan karya lukisan menjadi sumber penghidupan dirinya dan keluarganya.

Awalnya, ia merintis usaha dengan membuka jaring apung di Jangari. Sayang, usahanya itu bangkrut dan tak bisa lagi diharapkannya. Tak pelak, ia pun harus memutas otak agar bisa tetap membuat asap di dapur rumahnya tetap mengebul.

“Waktu itu saya sempat droop. Saya terus berfikir pokoknya mau usaha apalagi,” tutur dia.

Sampai akhirnya pikirannya mentok, ia sadar bahwa dirinya memiliki kemampuan menghasilkan karya lukisan. Dengan berbekal nekad yang dibumbui optimisme, Jaja pun mulai menggeluti dunia yang penuh perpaduan inspirasi dan ketelitian serta kesabaran itu.

“Akhirnya saya putusakan benar-benar menggeluti jadi pelukis,” bebernya.

Sejak saat itu, dirinya mulai melanglang buana. Termasuk mengadu ‘kreatifitas’nya di Ibukota. Alhasil, ia pun mulai mengikuti berbagai pameran lukisan di Jakarta.

“Pertama kali itu ikut pameran lukisan di Jakarta tahun 1996. Uniknya, waktu itu saya malah diusir satpam karena saya pakai sandal. Itu yang sampai saat ini saya ingat betul,” ujarnya sembari terkekeh.

Suami Sri Lestari Handayani (40) ini mengungkap, semua lukisan yang dihasilkannya merupakan naluri seni yang mengalir begitu saja. Pun demikian dengan lukisan yang akhirnya dibeli oleh Presiden Joko Widodo.

“Lukisan itu dibuat berdasarkan filosofi masyarakat yang gembira akan kedatangan kepala negara. Ini yang coba saya tuangkan di kanvas, yang menggambarkan kegembiraan masyarakat Cianjur atas kedatangan pak Jokowi,” jelasnya.

Jaja menambahkan, bukan hanya dirinya saja yang bangga lantaran Presiden RI ketujuh itu membeli lukisan karyanya. Namun rekan dan juga keluarganya yang turut bangga karena karya lukisan pelukis Cianjur diapresiasi cukup luar biasa.

“Jangankan saya, istri dan rekan sesama pelukis saja jadi ikut bangga semua. Malah temen-temen sampai menangis terharu, Kang,” bebernya.

Uniknya, lanjut Jaja, hasil penjualan lukisan yang dibeli Joko Widodo itu tak seluruhnya masuk ke kantong pribadinya. Melainkan juga dibagikan kepada rekan-rekan sesama pelukis di Cianjur. Baru sisanya, ia sisihkan untuk membeli peralatan dan perlengkapan untuk melukis dan berkarya lagi.

Jaja mengaku, lukisan yang lahir dari tarian tangan dan kuas miliknya itu sudah tersebar di beberapa negara. Seperti Kanada, Australia dan Singapura melalui art dealer.

Dirinya pun berharap, Pemerintah Kabupaten Cianjur bisa memperhatikan para pelaku seni. Selain bisa menjadi kebanggaan, juga mampu membawa nama Cianjur menjadi lebih dikenal.

“Semoga dengan adanya ini, Pemkab Cianjur bisa memberika perhatian lebih lagi kepada kami, pelukis dan para pelaku seni lainnya,” tutupnya.

(*)