Kopi Abah Ruskawan Ditanam di Gunung Padang, Bisa Sembuhkan Penyakit Lambung

Kopi Abah Ruskawan Ditanam di Gunung Padang, Bisa Sembuhkan Penyakit Lambung

Tanaman yang awalnya berasal dai Brazil, Amerika Tengah itu kini sudah menyebar di seluruh dunia. Dijadikan minuman, kopi memiliki ciri khas warna hitam pekat. Kini kopi sudah beragam dalam penyajian dan ragam. Tempat untuk menyeruputnya juga sudah tak lagi berrbatas. Pun demikian dengan penggemar kopi yang sudah merata. Tapi siapa sangka bahwa Cianjur juga memiliki potensi sebagai penghasil bubuk kopi pilihan.

Laporan: Abdul Aziz N Hakim, Radar Cianjur

Meski warnanya yang hitam pekat, tapi minuman dari hasil olahan biji kopi ini sejatinya memiliki beragam khasiat dan manfaat. Bahkan, kopi juga menjadi salah satu komoditas di dunia yang dibudidayakan di lebih dari 50 negara di dunia. Dua varietas pohon kopi yang dikenal secara umum yaitu kopi Robusta (coffea canephora) dan kopi Arabika (coffea arabica).

Namun ada satu kopi khas dari Kota Taucho, yaitu Kopi Abah. Kopi dari Gunung Padang ini ditanam di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut berjenis kopi robusta.

Kopi yang dimiliki Abah Ruskawan ini berbeda dengan kopi pada umumnya. Jika pada umumnya ampas dari kopi akan mengambang ketika disebuh, namun tidak untuk kopi Abah Ruskawan yang tak ada yang mengambang.

Uniknya, kopi yang biasa menjadi ‘ancaman’ bagi lambung itu tak berlaku untuk kopi yang satu ini. Sebab, disebutkan bahwa kopi ini aman untuk lambung.

“Kopi robusta ini bagus untuk menyembuhkan penyakit lambung, dengan catatan tidak menggunakan gula putih karena kolesterol glukosa kalau gula merah itu fluktosa dan harus aren,” terang Ketua Paguyuban Pasundan Kabupaten Cianjur ini.

Ia juga menyakan, dalam setiap proses pembuatan kopi tersebut, sama sekali tak ‘tersentuh’ berbagai macam unsur kimia. Tak hanya itu, alat-alat yang digunakan sepenuhnya alat-alat tradisional.

“Malah ini diproses dengan tradisional yang serba manual,” bebernya.

Yang lebih unik lagi adalah, alat pengeringan kopi yang diproduksi terbatas ini dicampur dengan kotoran cacing yang mana bisa menyembuhkan menyakit seperti typus.

“Karena dari awal saya ingin membuat kopi yang benar-benar berdeda dengan kopi-kopi lainnya,” katanya.

Lanjut Abah, dirinya pun sudah memiliki rencana pengembanan sekaligus pemasaran kopi tersebut. Yakni dengan menjadikannya salah satu penarik wisataran yang datang ke setiap destinasi wisata di Kabupaten Cianjur, salah satunya Gunung Padang.

Sehingga, ketika wisatawan pulang dari Situs Megalit Gunung Padang, bisa membawa buah tangan. Dari mulai keripik pisang Abah Ruskawan, Kopi Abah Ruskawan dan Gula Semut Abah Ruskawan.

Abah mengungkap, dirinya sejatinya tak banyak ikut campur tangan dalam proses pembuatan kopi sampai dalam kemasan siap edar. Untuk para petani kopi di Gunung Padang misalnya, hanya diberikan arahan saja. Sedangkan yang menjalankan, sepenuhnya petani sendiri.

“Saya tidak mengambil sepeserpun atau royalti dari setiap hasil penjualannya. Semuanya diserahkan kepada masyarakat Gunung Padang. Saya titipkan semua alat-alatnya untuk digunakan dan dirawat,” ungkapnya.

Untuk urusan kualitas, Abah pun enggan setengah-setengah. Karena itu, ia menggandeng Teknik Pangan Universitas Pasundan (Unpas) Bandung. Hal itu dilakukan agar tetap bisa menjaga mutu kopi tersebut tetap terjaga.

Yang cukup mengejutkan, pemasaran kopi ini ternyata bukan saja sudah merambah luar kota dan luar provinsi, serta destinasi wisata terkenal di Indonesia, seperti Bali. Melainkan juga sudah sampai ke luar negeri.

Salah satunya di Italia yang diawali banyaknya wisatawan asal negeri Pizza itu yang datang ke Gunung Padang dan meminta kopi tersebut untuk dipasarkan di sana.

“Ya sistemnya belah dua, pihak disana dengan masyarakat Gunung Padang,” jelasnya.

Dirinya berharap, ke depannya, kopi tersebut bisa makin terkenal dan membawa berkah, baik kepada masyarakat Gunung Padang maupun Cianjur. Selain itu, juga menjadi kopi sehat.

“Mudah-mudahan kopi ini bisa menjadi kopi sehat, karena tanpa zat kimia,” harapnya. (*)