Menguak Sejarah Gua Masjid yang Penuh Peninggalan Islam

Gua Masjid

RADARCIANJUR.com – Apa yang ada dalam benak Anda saat mendengar kata ‘gua’? Pengap, gelap, lembab, panjang berkelok-kelok, terdiri dari ruangan-ruangan dan lain sebagainya.

Tapi bagaimana jika di dalam gua tersebut terdapat lukisan gua berbentuk menyerupai kubah masjid dan kaligrafi Arab? Semua itu ada di Gua Masjid, di Kampung Garunggang, Desa Naringgul, Kecamatan Naringgul, Cianjur Selatan. Masyarakat sekitar mempercayai gua itu adalah salah satu peninggalan dari para wali.

Letaknya cukup tersembunyi. Untuk bisa mencapai Gua Masjid, harus ditempuh dengan cukup lumayan jauh dari permukiman warga. Tapi masih bisa dicapai dengan kendaraan bermotor. Gua Masjid, demikian gua itu dinamai. Penamaan itu pun bukan sembarangan.

Lantaran ada sejumlah peninggalan di dalam gua tersebut yang berbau Islami. Darmin (75) salah satu warga setempat menyatakan, keberadaan gua itu sendiri sejatinya sudah sangat lama diketahui warga. Dirinya bahkan sudah mengetahui gua tersebut sejak dirinya masih kanak-kanak.

“Keberadaan itu semenjak saya masih kecil sudah ada,” tuturnya.

Darmin menjelaskan, meski warga sudah mengetahui keberadaan gua tersebut, akan tetapi tak ada warga yang berani masuk dan menelusurinya. Pasalnya, selain panjang dan berkelok-kelok, juga takut dengan keberadaan hewan berbisa yang bisa saja menghuni dalam gua tersebut.

“Dulu pada takut mau masuk juga. Maklum dulu kan belum ada senter atau lampu. Adanya cuma obor, jadi takut masuk,” jelasnya.

Gua Masjid pun baru ramai diperbincangkan usai gempa pada 2008 lalu yang terjadi hampir di seluruh Jawa Barat. Gempa itu pula yang membuat pintu masuk gua yang awalnya sempit menjadi lebih lebar.

“Setelah itu baru banyak yang ngomongin ada gua ini,” bebernya.

Darmin menuturkan, saat itulah dirinya bersama salah seorang rekannya, Ustad Dasep memberanikan diri masuk dan menelusuri Gua Masjid. Dengan berbekal senter dan lampu, keduanya pun menelisik sampai cukup jauh.

“Tapi belum sampai mentok ke dalam,” jelasnya.

Ia menambahkan, berdasarkan penuturan salah seorang tokoh sepuh masyarakat setempat menyatakan, bahwa Gua Masjid memiliki panjang sekitar 500 meter. Untuk pintu masuk gua berada di Kampung Kampung Garunggang. Sedangkan ekor gua menembus sampai di Kampung Tutugan.

Sepanjang penelusurannya, lanjut Darmin, di dalam gua tersebut terdapa sejumlah ukiran dan lukisan dinding yang berbau Islami. Mulai dari ukiran menyerupai kubuh masjid sampai kaligrafi Arab. Selain itu, dirinya juga menemukan sejumlah ruangan-ruangan di dalam gua yang menyerupai bilik atau kamar.

“Banyak, enggak di satu tempat saja. Juga ada juga kolam menyerupai tempat wudhu,” ungkapnya.

Pernah suatu waktu salah seorang sudaranya, Nawawi, masuk ke dalam gua tersebut. Saudaranya itu bercerita bahwa di dalam gua itu juga ada tempat sholat (sembahyang). Tak hanya itu, suudaranya itu juga melihat ada ruang seperti tempat imam dan mimbar layaknya seperti di masjid.

“Kalau menurut kakek saya dulu katanya peninggalan jaman para wali,” katanya.

Abah Darmin, demikian ia akrab disapa menambahkan, untuk bisa sampai ke ujung gua, harus mempersiapkan banyak peralatan dan perlengkapan. Pasalnya, setelah setengah perjalanan, gua penuh dengan kotoran kelelawar yang diperkirakan setebal lutut orang dewasa.

“Makanya banyak yang enggak berani sampai ke ujung. Soalnya ya itu tadi,” jelas dia.

Ia menuturkan, dulu saat fisiknya masih cukup fit, kerap kali diminta para pengunjung untuk mengantar ke gua tersebut. Kedatangan para tamu itu pun beragam. Mulai dari sekedar ingin tahu, sampai melakukan ritual tertentu.

“Sekarang sudah sakit-sakitan, jadi sudah enggak kuat ngantar,” katanya lagi.

Sayangnya, kata Darmin, keberadaan Gua Masjid itu tak cukup membuat Pemkab Cianjur peduli untuk melestarikan dan mengembangkannya menjadi salah satu obyek wisata sejarah sekaligus religi. Padahal, lanjutnya, jika dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin Gua Masjid bisa menjadi salah satu destinasi wisata di Naringgul.

Dengan begitu, selain memberikan keuntungan kepada warga sekitar, juga bisa menyumbang penghasilan untuk Cianjur.

“Pastinnya akan maju dan bisa berkembang bila dirawat atau dipelihara dengan baik. Tapi hingga kini masih terbengkalai dan kurang perhatian,” sesalnya.

Hal senada juga dilontarkan Jajang (40). Semestinya, keberadaan Gua Masjid ini bisa ikut mengangkat perekonomian warga jika saja dikelola menjadi obyek wisata.

“Kan warga disini bisa buka warung, ojeg, atau jualan souvenir,” tuturnya.

karena itu, ia berharap kepada Pemkab Cianjur agar tak tinggal diam dan sesegera mungkin turun tangan.

“Bila dipelihara dengan baik pasti akan membatu warga dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi,” pungkasnya.

(radar cianjur/mat)