Menelusuri Sejarah Alun-alun Cianjur, Berdiri di Atas Duka dan Air Mata 4000 Pedagang

Alun-alun Cianjur. Foto : Umar Saripudin/Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Alun-alun Cianjur tak hanya begitu megah berdiri. Tapi juga indah dan menjadi salah satu ikon di Kota Tauco. Dengan berbagai fasilitas dan ornamen pendukungnya, Alun-alun Cianjur bak kilau permata yang mengundang warga untuk berbondong-bondong menginjakkan kakinya di areal tersebut.

Terlebih, alun-alun itu diresmikan bukan oleh Bupati Cianjur atau Gubernur Jawa Barat. Tapi Presiden RI Joko Widodo. Orang nomor satu di Indonesia yang sudi menyempatkan waktunya datang ke Cianjur hanya untuk sekedar meresmikannya.

Namun, bagaimana sejarah perjalanan dan kisah kelahiran Alun-alun Cianjur ini?

Terletak di jantung kota, Alun-alun Cianjur menjadi salah satu lokasi yang sangat mudah dijangkau dan diakses dari mana saja. Keberadaannya pun cukup mudah dikenali.

Dengan gerbang yang menjulang tinggi berwarna kuning keemasan, simbol kemegahan, menjadi salah pertandanya. Alun-alun Cianjur yang baru itu berada dalam satu kesatuan dengan Masjid Agung Cianjur dan Pendopo Kabupaten Cianjur, rumah dinas Bupati Cianjur yang berada di sisi barat.

Hanya ada sebuah jalan akses yang memisahkan. Jalan yang dulunya adalah jalan raya yang bisa dilewati kendaraan roda dua dan empat, termasuk angkot serta delman. Gerbang masuknya pun tak hanya satu, tapi tiga.

Gerbang pertama ada di Jalan Suroso. Gerbang kedua ada di sisi selatan Masjid Agung. Sedangkan gerbang ketiga ada di sisi utara Masjid Agung yang sekaligus menjadi akses masuk terdekat dengan Pendopo Kabupaten Cianjur.

Jika melalui gerbang utara atau selatan Masjid Agung, warga dipastikan disambut dengan hamparan rumput hijau sintetis yang berada tepat di depan Masjid Agung. Lengkap dengan tugu Alquran, kolam dan air mancur yang menghiasi tengah lapangan itu.

Kehadiran kolam dan air mancur itu sendiri bak penyejuk kala matahari tepat berada di atas kepala. Pasalnya, tak ada pohon teduh atau tempat berteduh.

Hanya areal lapang. Tak jauh dari lapang itu, di bagian lain, terdapat sebuah menara berwarna putih. Menara Pandang, demikian nama yang disematkan pada bangunan menjulang berwarna putih menyerupai obor itu.

DI menera tersebut, warga bisa menikmati pemandangan di sekitar Alun-alun Cianjur. Di sisi lainnya, terdapat panggung lengkap dengan tribun melingkar yang menyerupai Koloseum di Kota Roma, Italia.

Bedanya, Koloseum berdiri meninggi, sedangkan panggung dimaksud berbentuk seperti cekungan hingga menjorok ke dalam dengan titik tengah dijadikan sebagai panggung.

Di sisi Utara, terdapat sebuah panggung dengan beberapa suling berukuran cukup besar menjadi latar, lengkap dengan panggungnya.

Sedangkan di depan panggung suling itu, berderet ke selatan, bangunan menyerupai lumbung padi.

Jauh sebelum diresmikan, Alun-alun Cianjur dulunya adalah Pasar Induk Cianjur (PIC). Di pasar itu, hampir 4000 pedagang menggantungkan hidupnya.

Tak hanya pedagang, pun demikian dengan tukang parkir, tukang becak, pemilik delman, penjual tas plastik keliling, kuli angkut, sampai sales penjual berbagai produk.

Pasar Induk Cianjur adalah nadi kehidupan dan pusat perekonomian Cianjur kala itu. Sampai akhirnya pada awal 2013, tersiar kabar bahwa PIC akan digusur dan para pedagang dipindahkan di pasar yang baru di dekat Terminal Pasir Hayam (PIC sekarang).

Berbagai upaya dan sosialisasi dilakukan Pemkab Cianjur yang saat itu dibawah kepemimpinan Bupati Tjetjep Muchtar Soleh.

Namun hal itu ditentang para pedagang yang bersikukuh tak mau pindah. Berbagai alasan dan penjelasan sudah diberikan, tetap tak mengubah keengganan ribuan pedagang PIC.

Sampai suatu ketika, Selasa 27 Agustus 2013, sekitar pukul 01.30 WIB dini hari, api melalap habis seluruh bangunan PIC. Ribuan toko, kios dan warung milik pedagang habis, ludes, gosong, tak ada yang bisa diselamatkan.

Ribuan nyawa yang selama ini menggantungkan hidupnya di PIC, luluh lantak. Tangis dan air mata para pedagang dan keluarganya, meratapi ludesnya penghidupan mereka selama ini. Tak ada yang bisa diselamatkan.

Semua hangus dan tinggal bersisa abu dan arang. Akibatnya, dari ribuan pedagang itu, tak sampai setengahnya yang mampu bertahan dan bisa berjualan kembali di lapak-lapak darurat, beberapa bulan kemudian.

Sisanya, tak sedikit pedagang yang akhirnya jatuh sakit dan meninggal, menderita gangguan jiwa, beralih profesi, dan beragam sengkarut lainnya.

Ayi Setiyadi, salah satunya. Salah satu pedagang PIC yang berjualan makanan keringan itu memang bisa bertahan.

Karena ia masih memiliki tabungan untuk dijadikan modal memulai lagi usaha yang sudah dirintisnya selama 30 tahun lebih itu. Itupun masih harus ditambah dengan berhutang sana-sini.

Sayangnya, pendapatannya jauh sudah sangat berkurang dibanding saat PIC belum terbakar dulu. Tak main-main. Di lapak darurat yang ditempatinya, penurunan omsetnya pun mencapai 70 persen.

“Mau gimana lagi, kalau enggak usaha, kita enggak makan,” tuturnya saat itu.

Nasib Haji Mamat tak seberuntung Ayi Setiadi. Pedagang beras dan sembako itu langsung shock saat tahu tokonya ludes habis terbakar.

Sedangkan modal sudah tak dimilikinya lagi. Akibatnya, Haji Mamat lebih sering murung. Rumah dan harta bendanya pun habis dijual untuk menutup utang modalnya.

Kabar yang didapat Radar Cianjur (Grup Pojokabar) pasca kebakaran PIC, ia (maaf) menderita gangguan jiwa. Hanya sekitar sebulan setelah terbakarnya PIC.

Kabar terbaru yang didapat Radar Cianjur, keduanya kini juga telah almarhum. Haji Mamat meninggal lebih dulu karena sakit-sakitan. Pun demikian degan Ayi Setiadi yang meninggal sekitar dua bulan lalu. Juga karena sakit-sakitan.

Lalu, pertanyaannya, benarkah Alun-alun Cianjur sudah pantas megah berdiri? Sudah pantaskan Alun-alun Cianjur jadi salah satu ikon kebanggaan Cianjur?

(radar cianjur)