Asyik Ngopi, Tangan Pemuda Salakopi Ditebas Geng Motor Sampai Buntung

MIRIS: Muhammad Ilham Azis (17) menjadi korban kekerasan yang diduga dilakukan oleh sekelompok geng motor pada Senin (4/3) dini hari. FOTO: Hakim/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Kota Cianjur mencekam pada Senin dini hari. Kawanan pengguna sepeda motor yang berkeliaran membawa senjata tajam beraksi di Jalan Dr Mawardi tepatnya tak jauh dari pusat perbelanjaan Ramayana.

Mereka dengan leluasa mengarahkan senjata tajam yang menyerupai samurai kepada seorang pemuda yang sedang asyik nongkrong sekitar pukul 03:00 WIB itu. Tangan kanan pemuda bernama M Ilham Azis (17) putus akibat ditebas.

Azis menjadi korban kegananasan yang diduga dilakukan oleh geng motor, hingga mengakibatkan organ tubuh vitalnya terputus. Kejadian bermula saat remaja yang tinggal di Gang Bali, Kelurahan Salakopi sedang berkumpul bersama dengan beberapa temannya di sekitar jalan Dr Muwardi, Kelurahan Muka, Kecamatan Cianjur sepulang dari bekerja.

Saat sedang berbincang-bincang sembari menikmati kopi, tiba-tiba datang segerombolan orang dengan menggunakan motor dan membawa senjata tajam. Tak ingin ambil resiko, Azis dan beberapa temannya mencoba kabur menghindari keberingasan geng motor. Naas bagi Azis, dirinya harus kehilangan tangan kanannya akibat menangkis benda tajam yang hampir menebas kepalanya.

Keterangan tersebut dituturkan oleh saudaranya yaitu Arry Ferdiansyah (32) berdasarkan cerita dari beberapa teman korban. “Dia (Azis, red) memang biasa kumpul di sekitar sana (Dr Muwardi, red) bersama teman-temannya. Mungkin awal bulan selepas gajian mau traktir sambil kumpul. Terus katanya datang beberapa orang pake motor dan bawa senjata tajam, pertama diarahkan ke tangan tapi tidak kenapa-kenapa, yang keduanya mau kena kepala tapi ditangkis lagi lalu tangan putus,” papar Arry saat ditemui di RSUD Cianjur.

Dengan keadaan membawa tangan kanan yang putus, korban mencoba menyelamatkan diri menuju tempat ramai. Namun, para pelaku masih saja mengejar korban dan hingga akhirnya para pelaku melarikan diri.

Melihat keadaan tangan kanan korban putus, beberapa warga membantu menyelamatkan korban untuk dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cianjur. “Warga yang melihat keadaan korban langsung membawa ke sini (RSUD Cianjur, red) dan keluarga dapat kabar dari grup wa. Bahkan saya pun baru dapat kabar pas subuh dan sepulang aktivitas langsung melihat keadaannya,” ungkapnya.

Pihak keluarga pun sudah melaporkan kejadian tersebut ke Kepolisian Sektor (Polsek) Cianjur Kota dan berharap sesegera mungkin pelaku dapat ditangkap. Sementara itu, Kapolsek Cianjur Kota, Kompol Iskandar menuturkan, pihaknya belum bisa memastikan kejahatan tersebut dilakukan oleh geng motor.

Pasalnya, saat ini korban belum bisa dimintai keterangan dan saksi yang melihat secara jelas belum ada. “Kita belum bisa memastikan itu ulah geng motor, karena korban dan saksi pun belum memberikan keterangan. Jadi belum pasti, karena ada beberapa juga yang mengatakan bahwa itu keributan, jadi kalau sudah lengkap informasinya akan kita kabari,” terangnya.

Ia memastikan, kasus tersebut masuk kedalam pasal 170 KUHP. Kejadian seperti ini seakan tak ada habisnya, belum genap satu bulan sudah terjadi kembali. Sehingga perlu perhatian khusus yang tak hanya dari pihak aparat penegak hukum saja, namun berbagai pihak pun turut andil dan bahkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur.

Kriminolog Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur, Kuswandi menjelaskan, kejadian ini bukanlah masalah sederhana. Ini merupakan masalah kompleks. Sehinga semua pihak harus turut berperan. “Peristiwa ini tentu bukan hanya tugas kepolisian saja, namun semua pihak turut berperan dalam menanganinya,” jelasnya.

Mata rantai dari para pelaku kekerasan yang disebut geng motor ini harus dihentikan mulai dari akar permasalahannya, sehingga tidak berkelanjutan.

Wakil Dekan II Fakultas Hukum (FH) Unsur ini menambahkan, peristiwa seperti ini masuk ke dalam kategori street crime (kejahatan jalanan). Kejadian yang menimpa Azis dilakukan oleh sekelompok orang yang mengendarai sepeda motor dan membawa senjata tajam. “Bisa dibilang ini ulang geng motor. Kenapa demikian? Karena istilah ini sudah menjadi stigma di tengah masyarakat,” tuturnya.

Ia menjelaskan, apabila anggota geng motor masih berstatus siswa maka penindakan yang dilakukan harus berupa restoratif (pemulihan), yakni dengan menempatkan yang bersangkutan sebagai korban. “Jadi pola pikir kita dirubah, kalau anggota geng motor masih berstatus siswa harus dilakukan dengan cara restoratif tidak dengan retributif atau secara dihukum. Sehingga tidak ada unsur dendam dari para geng motor tersebut,” ungkapnya.

Selain itu, faktor kriminogen pun belum tersentuh. Selama ini hanya bagian dasarnya saja. Ia menambahkan, pada dasarnya anggota geng motor tersebut bisa dikatakan ‘sakit’. Pasalnya, secara psikologi mereka harus dilakukan dengan pendekatan. “Pada dasarnya mereka ‘sakit’, yakni secara psikologi yang memang harus dilakukan dengan pendekatan dan kita harus membantu menyembuhkan,” tambahnya.

(radar cianjur/kim)