Pakai Tenaga Kerja Cina, Warga Cianjur Tersisih

Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur Truk boks keluar masuk di peternakan ayam petelur PT Murni Jaya

RADARCIANJUR.com– Warga Desa Cintaasih, Kecamatan Gekbrong, merasa tersisihkan. Pasalnya PT Murni Jaya yang berdiri di daerah itu sebagian menggunakan jasa tenaga kerja asal Cina untuk kategori pekerja kasar.

Atas informasi tersebut, Radar Cianjur mencoba mendatangi perusahaan peternakan ayam petelur tersebut untuk menggali kebenarannya.

Tampak sejumlah mobil truk box keluar-masuk gerbang. Namun dari pantauan Radar Cianjur, sama sekali tak menjumpai karyawan WNA dimaksud. Dari kabar yang diterima, WNA dimaksud tengah pulang ke negaranya.

Salah seorang karyawan PT Murni Jaya, Abah (50) menyatakan, ada sekitar delapan orang pekerja berkewarganegaraan Cina di perusahaan tersebut.

“Tugasnya berbeda-beda. Dari mulai mandor atau pengawas sampai dengan bagian pengecekan kualitas telur atau quality control,” beber Abah (4/3), kemarin.

Abah mengatakan pekerja berkewarganegaraan Cina tersebut terdiri dari perempuan dan laki-laki. Saat ini, pekerja berkewarganegaraan Cina tersebut sedang pulang ke negaranya. Dari kabar yang didapatnya, mereka tengah mengurus izin perpanjangan untuk bisa kembali bekerja di perusahaan tersebut.

“Katanya mereka saat ini sedang pulang, biasanya mereka mengurus izin lalu kembali lagi,” ujarnya.

Menurut Abah, jumlah kandang ayam di peternakan tersebut sekitar 200 kandang dan saat ini sedang membangun dan mengembangkan lagi.

“Peternakan tersebut berdiri di atas lahan sekitar 8 hektare dengan membeli tanah dari warga. Saya melihat saat ini sedang membangun lagi,” katanya.

Abah mengatakan, ia bekerja sebulan digaji Rp1 juta dan tak mendapat BPJS atau tunjangan lainnya. Ia mengatakan, di pabrik tersebut terdapat pekerja sekitar 70 orang laki-laki dan sekitar 20 orang perempuan.

“Ada sekitar 100 pekerja kalau digabung dengan bagian lainnya,” kata Abah.
Menurutnya, untuk urusan kesehatan pihak perusahaan terkadang tak maksimal memberikan pelayanan.

Abah menambahkan, pernah ada pekerja jatuh dan mengalami patah tulang. Tapi perusahaan hanya memberi santunan alakadarnya jauh dari biaya yang dibutuhkan.
“Pernah ada karyawan yang jatuh hingga mengalami patah tulang, pihak perusahaan hanya memberi sumbangan Rp30 ribu,” ucapnya.

Karyawan lainnya, Cicih mengatakan, sudah menjadi hal biasa pekerja warga negara Cina keluar masuk setiap setahun sekali di perusahaan itu.

“Paling WNA itu setahun berada di kampungnya, terus kembali lagi bekerja di PT Mandiri Jaya. Kalau yang dau orang kemarin dua bulan yang lalu pulang,” kata Cicih.

Menurut Cicih karyawan lokal yang bekerja di PT Mandiri Jaya tak digaji sesuai dengan UMK karenasebagian besar karyawan tersebut bekerja dengan cara borongan.
Cicih mengakui jika selama ini ia bekerja di perusaan tersebut tidak menerima hak-hak sebagai karyawan sebagaimana aturan pemerintah.

“Memang betul seleruh karyawan lokal disini tidak diikutsertakan BPJS. Saya juga punya BPJS kesehatan tapi bukan dari perusahaan,” katanya.

Dikonformasi terpisah, Humas PT Mandiri Jaya, Jajat membantah adanya delapan pekerja berkewarganegaraan Cina di peternakan ayam yang terletak di tengah perkebunan teh ini.
Ia menegaskan, hanya ada dua pekerja asing di perusahaan tersebut dan saat ini sedang pulang ke negaranya.

“Peternakan ini dulu perusahaan pribadi keluarga. Sepengetahuan saya pekerja berkewarganegaraan Cina tersebut tak akan kembali lagi, belum setahun mereka pulang pergi, karena paspornya susah sekarang. Jadi kemungkinan tak akan kembali,” katanya.

Jajat menjelaskan, saat ini yang bertahan ada juga warga keturunan.

“Kalau yang keturunan sejak bujangan sudah (bekerja, red) di sini,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai berapa jumlah gaji yang dibayar untuk para pekerja, Jajat menjawab secara kepengurusan karyawan bukan bagiannya, sehingga ia kurang mengetahui berapa gaji yang dibayar apakah sudah sesuai UMK atau belum.

“Kalau jumlah pekerja ada sekitar 60 orang karyawan. Gajinya saya juga tidak tahu persis, karena di sini diberlakukan sistem borongan,” ujar Jajat.(dil)

Versi pekerja:
1. Jumlah tenaga kerja WNA Cina berjumlah 8 orang
2. Bekerja dari mulai mandor atau pengawas sampai dengan bagian pengecekan kualitas telur atau quality control
3. Pekerja WNA tiap tahun selalu berganti
4. WNA pulang ke negaranya untuk mengurus izin perpanjangan kerja agar bisa kembali lagi
5. Miliki 200 kandang ayam di atas lahan seluas 8 hektare dengan total 100an pekerja
6. Gaji pekerja lokal tak sesuai UMK dan dengan sistem kerja borongan
7. Tidak mendapat fasilitas sesuai dengan aturan pemerintah seperti jaminan kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan

Versi perusahaan:
1. Jumlah tenaga kerja WNA Cina hanya 2 orang
2. Saat ini sudah pulang ke negaranya untuk mengurus sejumlah perizinan
3. Sekarang cuma tinggal seorang pekerja warga keturunan
4. Jumlah pekerja hanya 60 orang dengan sistem kerja borongan
5. Humas tak tahu persis soal besaran gaji yang diterima karyawan