Oknum KUA Sukanagara Pungli Isbat Nikah

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Pelayanan Isbat Nikah yang diselenggarakan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Sukanagara, Cianjur Selatan (Cisel) diduga dimanfaatkan oknum untuk meraup keuntungan kantong pribadi.

Oknum tersebut disebut meminta pembayaran di muka sebesar Rp400 ribu dan uang tebusan akta nikah sebesar Rp600 ribu.

Seperti pengakuan salah satu pasutri yang mewanti-wanti namanya dikorankan, IY (40) mengaku menjadi salah satu korban dari oknum dimaksud.

“Diminta bayar Rp400 ribu setelah ikut pelayanan Itsbat Nikah terpadu,” bebernya kepada Radar Cianjur.

Saat itu, dirinya terpaksa menuruti permintaan oknum tersebut karena memang membutuhkan akta nikah. Namun ia bertambah kecewa setelah hendak mengambil akta nikahnya, ia kembali diharuskan menebusnya.

“Dia minta Rp600 ribu untuk nebus akta nikah saya,” lanjut pria yang takut akta nikahnya tak bisa keluar lantaran mengungkap praktik dugaan pungli ini.

Pria yang sebelumnya sudah menikah sirih dengan istrinya itu mengaku, ikut Itsbat Nikah sejatinya lantaran tak memiliki banyak uang dan bermaksud berhemat. Karena itu, dirinya merasa keberatan dengan adanya pungli tersebut.

“Apalagi warga tidak mampu seperti kami ini. Setahu saya kan Itsbat Nikah bayar sekitar Rp163 ribu saja,” sesalnya.

Ia menambahkan, sepengetahuannya, bukan cuma dirinya saja yang diminta oleh oknum tersebut. Melainkan masih ada sekitar 45 pasangan suami-istri lainnya yang juga diminta membayar dengan bandrol serupa.

“Setahu saya segitu jumlahnya (45 pasutri, red), tapi enggak tahu jumlah pastinya,” jelasnya.

Sementara, kabar dugaan pungli itu diakui Kepala Desa (Kades) Gunungsari, Sukanagara. Ia menuturkan, dirinya mendapat laporan serupa dari 12 pasutri di desanya. Bahkan, masalah tersebut sampai akhirnya diketahui oleh KUA setempat.

“Informasinya itu totalnya sekitar 45 pasutri mengikuti pelayanan terpadu Istbat Nikah diminta membuat surat pernyataan bahwa tidak dipungut biaya oleh pihak KUA,” ujarnya.

Dikonfirmasi, Kepala KUA Kecamatan Sukanagara, Khaerudin menyatakan, tidak mengatahui adanya kabar dugaan pungli oknum di institusi yang dipimpinnya itu.

Akan tetapi, dirinya berjanji akan segera memanggil semua penyelenggara dan peserta sekaligus dengan kades setempat untuk memperjelas duduk perkara dugaan pungli dimaksud.

“Bila perlu akan dikembalikan kalau memang sudah ada yang membayar pungli. Soalnya, saya waktu pelaksanaan itu tidak ada di lokasi, sedang ada urusan di luar,” jelasnya.

(radar cianjur/mat)