Saksi Kunci Kasus Penyerangan Warga Salakopi Ada di Bogor

MIRIS: Muhammad Ilham Azis (17) menjadi korban kekerasan yang diduga dilakukan oleh sekelompok geng motor pada Senin (4/3) dini hari. FOTO: Hakim/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Kepolisian Sektor (Polsek) Cianjur Kota saat ini tengah mendalami kasus penyerangan yang dialami Muhammad Ilham Azis (17) pada Senin (4/2) dini hari. Kepolisian mulai menggali berbagai sumber informasi yang ada di lapangan terkait peristiwa yang membuat tangan kanan Azis terputus.

Hingga kemarin, Azis belum bisa untuk diajak berbicara banyak dengan pihak kepolisian. “Kita belum mendapatkan keterangan lengkap dari korban, karena saat ini korban sendiri belum memberikan keterangan lebih,” ujar Kapolsek Cianjur Kota, Kompol Iskandar.

Remaja yang tinggal di Gang Bali Kelurahan Selakopi ini hanya memberikan keterangan mengenai temannya yang menyaksikan kejadian yang sesungguhnya. Namun, keberadaan saksi di tempat kejadian perkara saat ini sedang berada di Bogor.

Ia menjelaskan, pihaknya pun tak tinggal diam. Beberapa anggota menelusuri alamat teman korban yang berada di Kota Hujan itu. “Saksi mata yang berada di TKP itu teman korban. Dari informasi yang kita dapatkan beralamat di Bogor dan saat ini (kemarin, red) anggota sudah menuju ke Bogor,” terangnya.

Kekerasan yang diduga dilakukan oleh geng motor tersebut sudah di luar batas, terlebih jika anggota dari kelompok tersebut adalah remaja. Terlepas dari pencarian jati diri, secara psikologi anggota tersebut sejatinya tidak berani dalam melakukan penganiayaan. Namun, itu dilakukan karena dorongan kelompok tersebut sehingga kepribadiaannya melebur untuk menjaga nama kelompok.

Psikolog Retno Lelyani Dewi mengatakan, anggota atau kawanan bermotor biasanya sulit untuk membedakan kepentingan pribadi dan kelompok. Sehingga tidak pernah berpikir panjang dalam melakukan tindakan. Selain itu, hal semacam ini bukan mencari jati diri tapi ada semacam pemicu dalam kelompok tersebut. “Ini bukan karena pencarian jati diri, tapi rata-rata mereka itu ada pemicu yang mendorong untuk bertindak sesuatu dan sebenarnya dalam dirinya tidak tega melakukan kekerasan tersebut,” ungkapnya.

Baginya, mereka yang bergabung bukan karena keinginan sendiri, namun karena dipaksa untuk turut masuk dalam kelompok tersebut. Selain itu, penindakan secara hukum tidak semerta merta bisa memberikan efek jera terhadap para kelompok. Akan tetapi perlunya pendekatan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat. “Perlu ada pemulihan yang dilakukan secara komprehensif yang meliputi keagamaan dan kognitif yang diarahkan untuk merubah sikap dan sifat buruknya agar tidak terulang,” paparnya.

Tak hanya komprehensif dan juga kognitif, para kelompok bermotor pun perlu diberikan pelatihan keterampilan sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. Sehingga nantinya ada peluang bagi anggota kelompok geng motor tersebut untuk bisa hidup lebih baik dan mendapatkan suatu pekerjaan ataupun membuka wirausaha.

Sementara itu, perlakuan ekspos yang dilakukan pihak kepolisian pada pertengahan Februari 2019 lalu terhadap pelaku geng motor yang sudah menganiaya korban mampu memberikan sumber informasi kepada masyarakat. Sehingga masyarakat bisa lebih berhati-hati dan waspada ketika keluar malam atau beraktifitas di jam-jam rawan. “Tentu ekspos di tempat umum itu tidak bermaksud mempermalukan pelaku, namun bisa menjadi sumber informasi bagi masyarakat sehingga bisa lebih berhati-hati. Terlebih yang beraktivitas di malam hari,” jelasnya.

(kim)