Bunga Bangkai 2,8 Meter Mekar Lagi

ABADIKAN: Salah seorang sedang mengabadikan mekarnya bunga bangkai. FOTO: DADAN SUHERMAN/ RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – Salah satu koleksi bunga bangkai di Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas LIPI mekar pada Senin (4/3) dini hari. Kali ini, tinggi bunga bangkai tersebut mencapai 2,8 meter.

Peneliti Bungai Bangkai Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas LIPI, Destri mengatakan, kuncup bunga dengan nama latin Amorphophallus Titanum Becc itu, kali pertama diketahui muncul pada akhir bulan Januari lalu.

“Sejak saat itu, kami terus mengamati bunga ini. Terakhir ya sampai Minggu (3/3) kemarin,” tuturnya kepada Radar Cianjur, Selasa (5/3).

Dari pemantauan terakhir, lanjut Destri, tinggi bunga mencapai 281 sentimeter dengan lebar sepata mencapai 124,4 sentimeter.

Destri memgungkap, bunga bangkai tersebut adalah salah satu dari total 14 spesimen bunga bangkai yang menjadi koleksi di Kebun Raya Cibodas (KRC).

“Sebanyak 13 individu berasal dari biji pohon induk. Sedangkan satu individu didapat dari hasil kegiatan eksplorasi di Sungai Manau, Taman Nasional Gunung Kerinci Seblat, Sumatera Barat,” beber Destri.

Dalam perkembangannya, ia menjelaskan, bunga bangkai memiliki tiga fase siklus hidup yang terdiri dari fase vegetatif atau daun, fase dorman (istirahat), dan fase generatif (berbunga).

Sedangkan untuk satu kali fase pembungaan, bunga bangkai membutuhkan waktu yang relatif cukup lama. Yakni setiap emapt tahun sekali.

“Amorphophallus Titanum memerlukan penyerbukan silang untuk membentuk biji, karena saat masak, bunga betina dan jantan tidak sama. Sedangkan bunga betina dan bunga jantan masak atau siap melakukan penyerbukan hanya dalam satu malam,” jelas Destri.

Dikatakannya, Amorphophallus titanum sendiri masuk dalam kategori tumbuhan langka. Hal itu berdasarkan klasifikasi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN). Sedangkan keberadaannya dilindungi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999.

“Jarangnya tumbuhan ini berbunga dan semakin jarangnya tumbuhan ini ditemukan di alam, menyebabkan kesempatan bunga ini untuk melakukan penyerbukan semakin kecil,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan, berdasarkan Poerba dan Yuzammi (2008), kelestarian tanaman ini memerlukan bantuan manusia dalam bentuk pembibitan massal dan cepat. Misalnya kultur jaringan dan diikuti reintroduksi di alam.

“Keberadaan jenis ini di Kebun Raya Cibodas sangat penting bagi upaya pelestarian, penelitian dan pengetahuan masyarakat luas,” katanya.

Sebagai tindakan pencegahan, sambung Destri, pihaknya memasang pagar agar pengunjung jangan sampai merusak bunga yang cukup istimewa itu.

“Kalau melihat dan foto tentu boleh. Tapi jangan terlalu dekat atau menyentuhnya. Takutnya nanti rusak,” tutupnya.

(radar cianjur/dan)