Mari Berhijrah

Deding Ishak

RADARCIANJUR.com – 1440 tahun sejak peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dan para sahabatnya dari Mekah ke Madinah sampai sekarang bukanlah waktu yang singkat, akan tetapi makna dan hikmah peristiwa tersebut senantiasa relevan dan kontekstual dengan perubahan zaman.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, ada seorang yang mendatangi Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, saya baru saja mengunjungi kaum yang berpendapat bahwa hijrah telah telah berakhir”, Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya hijrah itu tidak ada hentinya, sehingga terhentinya taubat, dan taubat itu tidak ada hentinya sehingga matahari terbit dari sebelah barat”. Maka hijrah akan senantiasa ada dan harus dilakukan sampai hari akhir nanti.

Dalam konteks kekinian, pemaknaan hijrah tentu bukan selalu harus identik dengan meninggalkan kampung halaman seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan kaum Muhajirin, tetapi pemaknaan hijrah lebih kepada nilai-nilai dan semangat berhijrah itu sendiri, karena hijrah dalam arti seperti ini tidak akan pernah berhenti.

Hijrah mengandung arti berpindah tempat dan mencakup pula berpindah kondisi untuk mencari jalan yang lebih baik atau berpindah dari yang buruk kepada yang baik. Rasulullah SAW mendefinisikan hijrah dengan almuhaajir man hajaro maa nahallahu ‘anhu, yang disebut muhajir ialah orang yang hijrah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.

Para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab menjadikan momentum hijrah sebagai permulaan tahun baru (kalender) Islam.

Tentu ada pertanyaan mengapa peristiwa hijrah tersebut dijadikan permulaan tahun baru Islam, bukan yang lainnya, seperti hari kelahiran beliau, hari wafat beliau, atau dari permulaan turunnya wahyu yang pertama, dan lain sebagainya.

Jawabannya adalah karena perisitwa hijrah ini memiliki makna yang sangat penting bagi setiap Muslim, karena hijrah merupakan tonggak sejarah besar dalam perjalanan dakwah Nabi sekaligus momentum kebangkitan Islam. Dengan momentum hijrah, Islam berkembang menjadi sebuah peradaban besar dan disegani.Hal ini terbukti ketika Nabi wafat, hampir seluruh jazirah Arab telah tunduk di bawah kendalinya. Apalagi jika diteruskan ke masa sahabat (al-Khulafa al-Rasyidun), Islam telah meliputi wilayah-wilayah yang menjadi pusat peradaban manusia.

Berbeda dengan Isra’ Mi’raj yang bersifat supra-rasional, hijrah merupakan peristiwa yang sangat manusiawi dan rasional, karena hijrah membutuhkan kematangan mental, strategi dan kemampuan taktis yang didasari visi jangka panjang yang dirancang oleh Rasulullah SAW dengan kaum muhajirin.

Maka ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa tersebut dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara; Pertama, kesediaan untuk berkorban.

Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya telah melawan rasa sedih dan takut dengan berhijrah, meski harus meninggalkan tanah kelahiran, sanak saudara dan harta benda mereka, tetapi dari situlah Nabi mampu membangun peradaban Islam yang sangat maju. Begitupun bangsa Indonesia akan menjadinegara yang aman, tentram, maju, adil dan makmur jika para pemimpinnya memiliki sifat amanah, ikhlas dan rela berkorban demi kepentingan rakyatnya.

Sejarah Islam mencatat betapa besarnya perhatian para khalifah sebagai pemimpin terhadap urusan umat. Sebut saja Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Sejak dibaiat menjadi khalifah, beliau bertekad untuk mengabdikan segenap hidupnya untuk mengurus rakyatnya. Atha’ bin Abi Robah menceritakan bahwa isteri Umar bin Abdul Aziz, Fathimah, pernah menemui suaminya saat berada di ruang sholat rumahnya. Fathimah menemukan Umar tengah menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi janggutnya. Ia pun segera bertanya kepada suaminya itu, “Wahai, Amirul Mukminin, adakah sesuatu yang telah terjadi?” Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Duhai Fathimah, sungguh di pundakku ada urusan umat Muhammad SAW baik yang berkulit hitam maupun putih. Karenanya, aku berpikir tentang mereka kaum fakir yang lapar, orang sakit yang tak punya biaya, orang ‘telanjang’ yang terpinggirkan, orang yang dizhalimi lagi dicengkeram, orang yang terasingkan dan ditawan, para tua renta, keluarga yang banyak anak tapi sedikit hartanya, dan urusan lain mereka di setiap jengkal bumi dan negeri. Padahal, aku tahu bahwa Tuhanku pasti meminta pertanggungjawabanku kelak pada hari kiamat. Aku takut kelak tak memiliki hujjah (argumentasi) di hadapan-Nya. Itulah sebabnya aku menangis.”

Kedua, hijrah mengandung semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa optimisme yang tinggi untuk menuju yang lebih baik. Hijrah itu bergerak dinamis, tidak statis. Oleh karena itu, orang Islam harus bergerak dan dinamis. Hal itu tergambar dengan sangat jelas dalam peristiwa hijrah.

Rasulullah SAW dan para sahabatnya bergerak dan pindah dari kota yang semula diliputi suasana dan situasi yang tidak kondusif di Mekah menuju suasana yang prospektif di Madinah.Kita harus memiliki tekad yang kuat untuk meninggalkan berbagai hal yang tak disukai (ditentang) baik oleh ajaran agama maupun nilai-nilai kemanusiaan. Hal tersebut dapat mewujud dalam berbagai bentuk seperti anti korupsi, tidak mempermainkan hukum, menindas sesama manusia, menipu, berbohong, merampas hak orang lain, dan lain-lain.

Ketiga, hijrah mengandung semangat persaudaraan, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW pada saat beliau mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, bahkan beliau telah membina hubungan baik dengan beberapa kelompok Yahudi yang hidup di Madinah dan sekitarnya pada waktu itu.

Oleh karena itu, kerukunan dan persaudaraan sesama anak bangsa harus dipelihara. Masih sering kita dengar terdapat berbagai gejolak di masyarakat yang berbasis pada perbedaan antar agama, ras, suku dan golongan.Meskipun demikian, masyarakat Indonesia sangat terkenal dengan sikap ramah tamah, suka membantu, menolong, bergotong-royong dan saling bahu membahu. Sikap dan sifat dasar inilah yang merupakan karakteristik masyarakat Indonesia. Dengan modal dasar seperti ini diharapkan akan mudah untuk membangun sebuah dialog yang konstruktif untuk mewujudkan persaudaraan sebangsa tanpa melihat agama, ras, suku dan golongan.

Di atas semua itu, proses hijrah harus kita lakukan demi menuju perubahan yang dicita-citakan bersama. Karena hanya dengan hijrah-lah kita dapat mencapai tujuan sosial dari kehidupan beragama dan berbangsa yaitu menciptakan kehidupan yang adil dan beradab. Oleh sebab itu, apabila bangsa ini mau menjadi bangsa yang besar, maka kita harus melakukan hijrah sekarang juga.

(Deding Ishak)