12 PSK Digaruk Satpol PP, ‘Wartawan’ Ngamuk Minta Bebaskan

Foto Fadilah Munajat/ Radar CianjurTERCYDUQUE: Petugas dari dinas kesehatan sedang memeriksa PSK yang terjaring razia.

RADARCIANJUR.com – Sebanyak 12 perempuan diduga Pekerja Seks Komersial (PSK) terjaring dalma razia P21 yang digelar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Cianjur, Selasa (12/3).

Dalam razia tersebut petugas menyisir sejumlah wilayah. Diantaranya wilayah Kecamatan Pacet, Kecamatan Cipanas, Kota Bunga, Jalan Baru Cianjur-Jonggol, dan Jalan Lama Kecamatan Sukaluyu.

Kepala Seksi Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Satpol PP dan Damkar Kabupaten Cianjur, Heru Haerul Hakim mengatakan, kegiatan razia tersebut sejatinya sudah rutin dilaksanakan.

Tujuannnya, tidak lain untuk memgantisipasi penyakit masyarakat sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) 21 tahun 2000 tentang Larangan Pelacuran di wilayah Kota Santri.

“Ini memang sudah jelas rutin dilaksanakan, mengacu pada perda 21 serta program Bupati Cianjur dalam memberantas kemaksiatan di Kabupaten Cianjur,” katanya, Rabu (13/3) kemarin.

Heru menjelaskan, setiap razia petugas selalu menyasar tempat-tempat yang di curiga sebagai tempat prostitusi.

“Pada razia kali ini kami mengamankan 12 orang yang diduga PSK. Mereka diamankan dari sejumlah penginapan dan di warung remang-remang,” bebernya.

Menurutnya, setelah diamankan, ke-12 orang PSK tersebut langsung di BAP sampai diperiksa kesehatnnya oleh Dinas Kesehatan.

“Setelah dilakukan pemeriksaan, delapan orang dinyatakan positif sebagai PSK dan akan dibawa ke panti rehabilitasi di Sukabumi,” katanya.

Heru mengungkap, setelah dilakunya razia, sempat ada seseorang yang mengaku sebagai wartawan datang ke kantor Satpol PP. Pria tersebut meminta untuk membebaskan salah satu perempuan yang terjaring.

Akan tetapi, permintaan pria tersebut tidak dindahkan, lantaran perempuan dimaksud dipastikan PSK dan betul-betul melanggar Perda. Karena itu harus dibawa ke panti rehabilitasi.

“Saya menerima laporan, katanya ada seseorang yang mengaku wartawan marah-marah di kantor dan meminta untuk membebaskan salah satu PSK yang terjaring razia. Tapi kita tidak turuti,” bebernya.

Sementara, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Neneng Efa Fatimah mengatakan, sebelum dilakukan test VCT kepada PSK yang terjaring razia petugas, mereka lebih dulu diberikan pemahaman terkait penyakit HIV/AIDS.

“Pekerjaan (sebagai PSK, red) ini sangat beresiko, terlebih lagi terhadap penyakit kelamin terutama HIV/AIDS. Jadi kami sosialisasiakan terlebih dahulu agar mereka paham,” katanya.

Efa mengatakan, dengan diberikannya sosialisasi pemahaman dan bahaya penyakit HIV/AIDS, diharapkan mereka sadar dan tak lagi mencari nafkah di lembah hitam.

“Ya mudah-mudahan setelah diberi pemahaman para perempuan ini berhenti dan tidak bekerja sebagai PSK lagi,” harapnya.

Dikonfirmasi terpisah, terkait adanya seseorang yang wartawan datang ke kantor Satpol PP meminta untuk membebaskan salah satu PSK yang terjaring, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cianjur Muhammad Iksan angkat bicara.

Ia menegaskan, jika memang benar pria tersebut berprofesi sebagai wartawan, harus diperjelas apakah dia anggota PWI atau bukan. Apapun alasannya, lanjut dia, seorang jurnalis haram melakukan tindakan tersebut.

“Secara aturan tugas wartawan itu mencari berita, dan tidak dibenarkan kalau memang benar itu wartawan bersikap seperti itu,” katanya.

Pihaknya berharap, semua pihak-pihak terkait agar tak mudah percaya dengan pengakuan seseorang sebagai wartawan, tanpa menunjukkan kartu identitas yang jelas. Apalagi, yang bersangkutan tidak bisa menunjukkan bukti bahwa dirinya adalah seorang wartawan aktif.

“Tolong dilaporkan kepada kami. Kami berjanji akan menindaklanjutinya. Asalkan memang yang bersangkutan melakukan hal-hal di luar tuntutan peliputan. Ini juga jelas mencoreng profesi wartawan,” tegasnya.(dil)

grafis:
– 12 perempuan diamankan
– 8 dipastikan bekerja sebagai PSK
– Dijaring dari sejumlah penginapan dan warung remang-remang
– Razia dilakukan di wilayah Pacet, Cipanas, Kota Bunga, Jalan Baru Cianjur-Jonggol, dan Jalan Lama Kecamatan Sukaluyu
– Dilakukan pendataan dan pengecekan kesehatan oleh Dinkes
– Setelah di BAP lalu dikirim ke panti rehabilitasi