Teror di Selandia Baru, ASN Cianjur Gelar Salat Gaib

ASN Cianjur Gelar Salat Gaib

RADARCIANJUR.com – Simpati untuk muslim Selandia Baru yang menjadi korban aksi terorisme ditunjukkan oleh aparatur sipil negara (ASN) Cianjur dengan menggelar Shalat Gaib dan Salat Istigasah.

Shalat Gaib itu sendiri digelar di Masjid Agung Cianjur sesuai melaksanakan Shlat Subuh berjamaah, Senin (18/3).

Hal itu bertujuan sekaligus untuk memanjatkan doa bagi muslim di Selandia Baru yang menjadi korban penembakan brutal oleh sekelompok teroris di dua masjid di Christchurch.

Shalat Gaib tersebut dipimpin oleh imam Ustad Ir Iman Muqqodas yang selanjutnya diisi dengan tausiah, sekaligus mendoakan para korban mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT.

Dalam tausiahnya, Muqqodas menegaskan bahwa perisitiwa sadis itu bukan hanya dikecam oleh kaum muslim, melainkan juga oleh seluruh umar manusia di dunia.

“Karena itu adalah tindakan yang sangat keji dan sadis,” ucapnya.

Karena itu, pihaknya meminta kepada seluruh umat muslim untuk tidak terpancing dengan segala macam bentuk provokasi dari pihak-pihak yang ingin memanfaatkan kondisi ini.

“Jangan terpancing, jangan sampai melakukan aksi balasan,” tegas Muqqodas mewanti-wanti.

Sementara, Plt Bupati Cianjur Herman Suherman menyatakan rasa duka mendalam atas peristiwa yang sangat terkutuk itu.

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Semoga puluhan korban penembakan di masjid di Selandia Baru mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT,” kata Herman.

Selain itu, Herman juga menegaskan, pihaknya mengutuk keras tindakan keji yang sama sekali menghiraukan rasa kemansiaan itu.

Karena itu, pihaknya berharap agar pelaku penembakan dan penyerangan brutal itu mendapatkan hukuman yang seadil-adilnya.

“Mudah-mudahan kejadian seperti itu tidak terjadi lagi, di kota mana pun, dan negara mana pun,” ujarnya.

Sementara, Deni, salah satu ASN menyebut aksi penyerangan itu sebagai sebuah tindakan terorisme.

“Apalagi alasan pelaku, setahu saya, ada latar belakang ras dan suku,” ucapnya.

Bagaimanapun, lanjutnya, aksi dan alasan apapun yang dibarengi dengan kekerasan, apalagi pembunuhan, sama sekali tak bisa dibenarkan.

“Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini,” harapnya.

Di sisi lain, Pemerintah Selandia Baru mengonfirmasi bahwa korban teror penembakan di dua masjid itu terus bertambah. Saat ini, prioritas utama adalah identifikasi korban dan proses pemulangan jenasah kepada pihak keluarga yang direncanakan dilaksanakan pada Rabu (20/3) besok.

Menurut Reuters, korban jiwa terbaru ditemukan di Masjid Al Noor saat petugas memindahkan jenazah-jenazah Sabtu lalu (16/3). Korban ke-50 itu tertimbun jenazah-jenazah yang lain. Di sisi lain, korban luka karena aksi terorisme di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood bertambah menjadi 50.

“Hingga kini, 34 korban dirawat di rumah sakit. Dua belas di antaranya kritis,” ujar Kepala Spesialis Bedah Christchurch Hospital Greg Robertson.

Otoritas memang belum merilis daftar nama atau foto dari jenazah yang ditemukan. Meski begitu, beberapa jenazah sudah dipulangkan ke pihak keluarga. Enam ahli forensik dari Australia dikerahkan untuk mempercepat proses.

“Kami harus mengetahui penyebab kematian yang pasti untuk proses hukum ke depan. Tak ada yang lebih buruk dari memulangkan jenazah ke keluarga yang salah,” ucap Deborah Marshall, kepala tim koroner.

Terkait penyelidikan, otoritas sudah menentukan Brenton Harris Tarrant (28) sebagai satu-satunya pelaku. Tiga orang lain yang sempat ditahan pada hari penyerangan sementara ini dinyatakan tak terlibat.

“Belum sampai pada kesimpulan. Kami harap beberapa hari lagi mendapat hasil yang pasti,” tutur Komisioner Kepolisian Selandia Baru Mike Bush.

Tarrant, 28, warga Australia, tak punya rekam jejak kriminal sepanjang hidup. Namun, beberapa menit sebelum penyerangan, dia mengirim manifesto ke email resmi Perdana Menteri Jacinda Ardern.

Namun, menurut Andrew Campbell, jubir Ardern, email itu tak menyebut lokasi penyerangan dan tidak sampai ke tangan perdana menteri.

“Akun itu dikelola tim pemerintah dan belum disampaikan ke perdana menteri,” ungkapnya.

Diketahui, pelaku juga mengunjungi Pakistan dan Turki sebelum melakukan aksi tersebut. Dalam manifestonya, dia meminta agar Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dibunuh.

“Dia seperti turis kebanyakan. Pergi saat pagi dan kembali saat petang,” kata pemilik hotel di Nagar, Pakistan.

(dil/tim)