Puluhan Tahun Tak Diperhatikan, Jalan Ini Sudah seperti Kubangan Kerbau

SUDAH PULUHAN TAHUN: Satu-satunya jalan akses yang menghubungkan Desa Karyabakti, Margasri dan Cinerang di perbatasan Cidaun-Nasinggul rusak parah sampai membuat mobil terguling

RADARCIANJUR.com – Miris dan memprihatinkan jika melihat kondisi jalan di perbatasan Kecamatan Cidaun dan Naringgul. Pasalnya, sudah puluhan tahun jalan yang menghubungkan tiga desa, yakni Karyabakti, Margasri dan Cinerang itu kondisinya rusak parah. Bahkan, sudah seperti jalur motocross.

Diceritakan Atok (40) salah satu warga Desa Margasari mengungkap, kondisi rusaknya satu-satunya jalan akses tersebut terjadi sudah sejak puluhan tahun lalu. Selama itu pula, tak ada perhatian dari pemerintah Kabupaten Cianjur.

“Belum pernah diperbaiki sama sekali. Apalagi kalau musim hujan. Sudah seperti kubangan kerbau,” ungkapnya kepada Radar Cianjur, kemarin.

Atok mengaku, dirinya selalu memanfaatkan jalan tersebut setiap dua hari sekali untuk menjual hasil bumi ke Pasar Ciwedey. Meski sangat sulit dilalui kendaraan roda empat, namuan dirinya tak memiliki pilihan jalur lain yang bisa dilewati.

“Malah waktu kita habis di jalan ini, Kang. Mobil sudah pasti selip, gak bisa jalan kena lumpur,” bebernya.

Hal yang sama diungkap Gio (25) salah satu sopir mobil pickup yang setiap harinya melewati jalan tersebut. Ia menceritakan, belum lama ini, mobil engkel yang disopirinya sampai terbalik saat hendak membawa hasil bumi ke Bandung.

“Gimana lagi, tidak ada jalan alternatif lain selain jalan ini, sebab jalan ini satu-satunya akses warga yang setiap harinya dilewati. Mau jual hasil bumi atau ke kota juga semua lewatnya sini. Kalau pejabat masuk ke desa juga lewatnya jalan ini juga,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Desa Margasari Azid S (55) mengatakan, jalan yang rusak itu memiliki panjang hingga lebih dari lima kilometer dan satu-satunya penghubung tiga desa. Azid menegaskan, pihak desa bukannya tak mau memperbaiki jalan itu secara swadaya. Akan tetapi, pemdes setempat tidak memiliki kewenangan.

Terlebih, anggaran yang dimilik pemdes juga tidak akan cukup untuk memperbaiki jalan yang sudah puluhan tahun tak pernah diperbaiki itu.

“Kalaupun dipaksakan diperbaiki mengunakan Anggarn Dana Desa (ADD), menyalahi aturan dan nantinya malah jadi bermasalah,” jelasnya.

Azid menuturkan, pihaknya bersama warga sebenarnya sudah ‘gatel’ dengan kondisi tersebut. Apalagi, keluhan demi keluhan sudah tak terhitung lagi disampaikan ke Pemkab Cianjur. Akan tetapi, puluhan kali pula hanya kekecewaan yang didapat warga.

“Sebab warga kami sudah kesel dengan kondisi jalan yang dari dulu masih saja seperti begini,” kesal dia.

Azid menambahkan, ada sekitar 4600 penduduk di desanya yang mayoritasnya petani pepaya dan penghasil gula aren serta hasil bumi lainnya. Mereka pun mengandalkan jalan itu untuk menjual hasil bumi ke daerah lainnya.

“Memang dulu pernah ada pengerasan, tapi sekarang sudah hancur tertutup lumpur. Jangankan mobil atau motor, pejalan kaki saja sudah tidak sangup,” ucapnya.

Karena itu, pihaknya berharap, kondisi itu mendapat perhatian dari Pemkab Cianjur dan secepatnya memperbaiki jalan tersebut.

“Semoga saja kami ini diperhatikan, jalan dicor dan bisa membantu pertumbuhan ekonomi di desa kami,” tutupnya.

(jay)