Babi Hutan ‘Serang’ Kebun Warga

FOTO:DADAN SUHERMAN/RADAR CIANJUR DIBURU: Bhabinkamtibmas dan sejumlah warga memburu hama babi hutan di Batulawang.

RADARCIANJUR.COM-Rusaknya tanaman warga akibat serangan babi hutan (celeng) yang mulai terjadi sejak beberapa hari lalu membuat warga di Kampung Ciseureuh Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas Karanganyar geram. Merekapun berencana melakukan perburuan agar tanaman mereka tidak lagi menjadi santapan babi.

Bhabinkamtibmas Desa Batulawang, Aiptu Yayat Hidayatulloh mengatakan, atas dasar adanya laporan dari warga melalui telepon bahwa di Kampung tersebut terdapat babi hutan yang masuk ke pemukiman penduduk dan sangat meresahkan warga.

“Bahkan ada yang sampai merusak perkebunan warga, dan ada yang hampir terluka juga akbiat serangan babi tersebut,” kata Aiptu Yayat saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Senin (25/3) kemarin.

Ia menambahkan, serangan babi hutan itu menyerang beberapa perkebunan warga. Baik tanaman jagung, singkong, albasia, cengkih dan kelapa yang baru tanam. “Rata-rata warga di Desa Batulawang menanam jenis palawija. Yang dirusak masa tanam sudah sampai tiga bulan,” jelasnya.

Di musim hujan, selain memakan hasil tanaman kebun, babi hutan juga mencoba menyerang sejumlah warga, termasuk yang berada di sekitar kebun itu. “Iya, sangat meresahkan juga kalau ada hama semacam itu,” ucapnya.

Menurutnya, babi hutan yang menyerang tanaman warga berasal dari hutan yang berada di utara desa. Babi turun ke wilayah desa yang berdekatan dengan hutan itu. Lebih lanjut ia mengatakan, untuk mengantisipasi kerusakan perkebunan? yang menjadi sasaran babi, Bhabinkamtibmas bersama-sama warga di Kampung itu melakukan perburuan pada Minggu (24/3) malam.

“Upaya pertama bersama warga masuk ke lokasi green house milik Beny untuk bersembunyi, lalu dilumpuhkan oleh senjata sampai mati dan dibawa oleh warga sekitar untuk ditertibkan,” ungkapnya.

Menurutnya, tujuan melakukan pemburuan seperti itu untuk mengurangi populasi hama babi, agar tidak menyerang ladang dan warga sekitar. Karena sebagian warga memang bergantung dari hasil perkebunan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Kami juga mengimbau agar warga semua lebih berhati-hati, dan kalau ada kejadian yang serupa lagi, bisa segera menghubungi aparat keamann setempat,” pungkasnya.

(dan)