Jalan Antardesa di Naringgul Mirip Sawah, Sejak Merdeka Belum Pernah Diperbaiki

Jalan Antardesa di Naringgul Mirip Sawah, Sejak Merdeka Belum Pernah Diperbaiki

RADARCIANJUR.com – Warga dua desa di Kecamatan Naringgul, yakni Desa Cinerang dan Sukamulya sepertinya sudah sangat bersabar sekaligus gigit jari. Pasalnya, jalan kabupaten yang menghubungkan dua desa tersebut tidak hanya sudah rusak teramat parah. Melainkan sudah menyerupai areal persawahan manakala memasuki musim hujan. Akibatnya, warga pun dipaksa berjibaku dengan lumpur tiap kali melintasi jalan tersebut. Padahal, jalan itu menjadi satu-satunya akses warga dalam aktivitas sehari-hari.

Dimana-mana lumpur. Di sepanjang empat kilometer, hanya lumpur yang menjadi pemandangan di jalan dengan lebar tiga meter penghubung Desa Cinerang dan Sukamulya, Kecamatan Naringgul. Padahdal, jalan poros itu pula yang menjadi satu-satunya akses jalan sekaligus dipergunakan warga untuk aktivitas sehari-hari.

Akibatnya, warga pun terpaksa melintas dengan lebih dulu berjibaku dengan lumpur. Perjuangan akan jauh lebih berat manakala menggunakan kendaraan roda empat. Dengan jarak yang hanya empat kilometer itu, setidaknya butuh waktu lebih kurang satu jam untuk bisa melintasinya.

Tak heran, roda dan ban kendaraan sangat mudah sekali terbenam ditelan lumpur yang bercampur air. Kondisi lebih mengenaskan dipastikan bakal didapat manakala usai diguyur hujan. Jalan itu pun berubah seperti areal persawahan. Tak bisa dilintasi.

Dikatakan H Cacang (55), salah satu warga Desa Sukamulya, jalan itu sendiri bak ‘nadi’ bagi warga. Semua aktivitas selalu berkaitan dengan jalan yang rusak parah itu.

“Petani yang mau menjual hasil pertanian juga lewat situ. Mau gak mau emang lewatnya cuma di jalan itu,” bebernya.

Tak hanya warga, kondisi jalan yang sangat teramat tak layak itu juga selalu menghadirkan kesulitan bagi anak-anak saat hendak berangkat ke sekolah. Tak jarang, mereka harus melepas sepatu agar bisa sampai ke sekolah.

“Kalau pakai sepatu itu masuk ke lumpur. Jadinya malah selalu terlambat sekolah. Kalau habis hujan semalam, malah tambah parah,” lanjutnya.

Seingat Cacang, sejak dirinya masih kecil dan bersekolah, kondisi jalan itu sama sekali tak berubah. Bahkan, sepengetahuannya, jalan itu juga belum pernah diperbaiki sejak Indonesia merdeka.

“Setahu saja, sejak saya sekolah ya seperti ini jalannya. Malah kata orangtua saya dulu sejak merdeka yang gak ada yang berubah,” ungkapnya.

Cacang menambahkan, soal potensi, desanya diakuinya memiliki hasil bumi yang melimpah. Satu-satunya yang tak dimiliki adalah infrastruktur jalan yang memadai.

Karena itu, ia berharap kepada pemerintah agar lebih memberikan perhatian ke daerah-daerah seperti desanya, yang selama ini kurang tersentuh.

“Ya coba aja itu anggota dewan atau pejabat pemkab datang kesini, silahkan dirasakan sendiri bagaimana rasanya,” tuturnya.

Selain itu, ia juga berharap agar ada perbaikan untuk jalan akses desa tersebut yang jauh dari kata layak.

“Harapannya yang diperbaiki, dibeton atau bagaimana. Masa sejak Indonesia merdeka enggak pernah ada perbaikan jalan dan dibiarkan seperti ini terus,” harapnya.

Tak hanya itu, lanjutnya, desanya juga terbilang cukup terpencil. Tak heran, komunikasi pun sulit dilakukan.

“Jadinya banyak warga yang tak tahu informasi. Tahunya ya lebih banyak cerita dari mulut ke mulut. Sinyal hape disini sangat susah,” katanya.

(jay)