Polisi Buru Dokter Gadungan di Cianjur

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Kabar adanya seseorang yang mengaku-ngaku sebagai dokter dan berkeliling tengah mencari ’mangsa’ serta cukup meresahkan warga direspon Polres Cianjur.
Kapolres Cianjur melalui Kasat Reskrim Polres Cianjur, AKP Budi Nuryanto mengatakan, pihaknya sendiri sudah menerima laporan yang menyebutkan adanya dokter gadungan dimaksud.

Laporan dimaksud disampaikan oleh sejumlah dokter di Cianjur. Saat itu, pihaknya tengah melakukan proses lidik karena laporan tersebut baru informasi. ”(Laporan, red) sudah masuk, sekarang sedang ditangani Unit III Tipiter,” ungkapnya.

Budi menambahkan, sampai saat ini, pihaknya belum menerima laporan adanya korban atas aksi dokter abal-abal itu.

”Kalau korban belum ada (yang melapor, red). Kalau memang ada, silahkan masyarakat melaporkan kepada kami agar bisa kami tindaklanjuti,” saran dia.

Bahkan, Budi menambahkan, pihaknya saat ini juga sedang melakukan pengejaran terhadap orang yang mengaku-ngaku sebagai dokter itu.

Selain itu, pihaknya juga tengah menginventarisir saksisaksi di lapangan untuk dimintai keterangannya.

Karena itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar waspada dan berhati-hati serta jangan mudah tergiur bujuk rayu atau pengakuan orang tersebut.

”Bila ada yang menawarkan pengobatan door to door jangan diterima, lebih baik datang ke klinik atau Puskesmas. Intinya masyarakat bisa lebih waspada dan hati-hati saja bila ingin berobat,” imbau Budi.

Terpisah, pemilik Klinik Harapan Sehat (HS), dr Yusuf mengaku merasa resah sekaligus keberatan adanya orang yang mengaku-ngaku dokter. Pasalnya, hal itu jelas-jelas mencoreng profesi dokter.

”Kalau dilihat dari surat-surat yang dibawa dan ditunjukkan orang itu, saya bisa pastikan itu palsu,” ungkapnya.

Yusuf menuturkan, untuk memiliki surat izi praktik (SIP), ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi seorang dokter dan harus melalui tahapan dan proses yang tidak sembarangan.
”Yang mengeluarkan SIP itu Dinkes tapi harus mendapat rekomendasi dari IDI setempat. Gak bisa dikeluarkan sembarangan,” tegasnya.

Yusuf menyambungkan, sesuai dengan undang-undang, setiap orang yang dengan sengaja menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi dan/atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

”Selain itu, berdasarkan Pasal 78, setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat, metode atau cara lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah),” jelasnya.

Yusuf membeberkan, dirinya bersama sejumlah dokter di Cianjur sudah ramai membicarakan orang dimaksud. Karena itu, pihaknya berharap agar pihak kepolisian bisa segera menangkap agar tidak meresahkan masyarakat.

”Semoga saja segera ditindaklanjuti, biar tidak meresahkan masyarakat. Kasihan kalau sampai ada korban,” harapya.

Kabar keberadaan dokter gadungan itu sendiri sudah menyebar di masyarakat. Modusnya, orang tersebut berkeliling dari kampung ke kampung dengan menawarkan pengobatan medis dan berbagai produk.

Yang cukup membuat curiga adalah sejumlah dokumen yang dibawa orang yang mengaku sebagai dokter umum tersebut. Dari informasi yang didapat Radar Cianjur, dokter itu berinisial AA.

Namun anehnya, ia memiliki dua kartu identitas yang berbeda alamat. Namun untuk NIK dan tempat dan tanggal kelahiran sama. Dalam identitas KTP itu disebutkan bahwa sang pria dimaksud beralamat di Kecamatan Bojongpicung.

Sedangkan di KTP lainnya memakai alamat Kecamatan Ciranjang. Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Kabupaten Cianjur, Tresna Gumilar mengatakan, dirinya sama sekali tidak mengenal dengan orang tersebut. Bahkan pihaknya menegaskan tidak pernah mengeluarkan Surat Izin Praktek (SIP) untuk nama dimaksud.

”Jujur saja, kami tidak pernah sama sekali mengeluarkan SIP atas nama tersebut,” tegasnya. Karena itu, pihaknya menyerahkan kepada kepolisian agar bisa memberikan tindakan tegas. ”Silahkan saja pihak berwajib menangani kasus ini. Karena selama ini tidak pernah kenal dengan orang tersebut,” katanya.

(radar cianjur/mat)