Rangkul Media Massa, Partai Politik Jangan Alergi

Perang Partai Menengah

RADARCIANJUR.com – Pengamat politik Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur, Ceceh Sahru Wiharma mengatakan, hasil survei harus dipandang sebagai peringatan, supaya terus bergerak meyakinkan masyarakat. karena survei bukan hasil akhir.

Partai politik dan para calon legislatifnya tentu wajib memaksimalkan waktu yang tersisa, dengan melakuan kampanye besar-besaran, merangkul semua perangkat yang bisa ikut mendongkrak elektabilitas dan popularitas parpol.

Media massa misalnya. Tidak bisa dipandang sebelah mata, karena memiliki peran penting. Kehadiran media massa tentu menjadi sangat penting dalam berkampanye. Sebab, selain menjadi sumber informasi, bisa menjadi fasilitas untuk berkampanye. Dibanding dengan stiker maupun baligo yang dipasang. Menurutnya, kurang efektif.

BACA JUGA: Hitung-hitungan Lembaga Survei, Perang Partai Menengah

“Kalau dibanding baligo dan bagi-bagi stiker kan kurang begitu efektif untuk promosi, karena jangkauannya yang berbeda dengan media massa. Sehingga harus pintar-pintar dalam memanfaatkan sisa waktu yang ada, tanpa membuang waktu dan kita ketahui juga kan ada biaya untuk berkampanye, sehingga daripada mubazir karena tidak efektif apa salahnya menggandeng media massa,” tambahnya.

Ia pun mengimbau, para peserta pemilu janganlah ‘alergi’ terhadap media massa. Bagaimana pun media massa memiliki peran penting dalam setiap lini.

Sehingga, pada sisa waktu tersebut haruslah dimanfaatkan dengan sebaik mungkin dan seefektif mungkin. Sisa waktu tersebut bukanlah waktu yang lama untuk mengenalkan eksistensi. Perlu adanya stimulus tambahan agar bisa lebih mengena ke setiap penjuru dalam melakukan kampanye.

Dia mengatakan, kehadiran media massa bisa menjadi salah satu alternatif dalam sisa waktu yang ada melihat dari hasil lembaga survey yang mengatakan akan banyaknya partai yang tumbang.

“Tentu kita melihat pada pemilu ini masa kampanyenya begitu singkat dan tak lama, para peserta pemilu harus bisa sebaik mungkin memanfaatkan dan memantapkan untuk bisa mendapatkan suara seperti pada parlemen threshold yang ambang batas perolehan suara minimal sebesar empat persen, jika dibawah itu maka tidak akan berhasil,” terangnya.

(kim)