Santri 4.0

Tahun-tahun ini teknologi dan komputerisasi berkembang pesat. Sekarang kita ada di era 4.0 dan sedang menuju era 5.0 dan akan terus berkembang hingga angka-angka lain yang lebih tinggi.

Basisnya teknologi. Perkembangan ini sesungguhnya bukan hal baru. Itu sudah dimulai sejak lama sejak mesih uap ditemukan lalu ada listrik dan lain sebagainya. Muncullah istilah 1.0, kemudian masuk pada Assembling. dantak terasa kini, kita berada di era 4.0. Di mana teknolgi dan komputerisasi menjadi kebutuhan masyarakat.

Jika dulu, kita harus membawa banyak alat untuk melakukan sebuah kegiatan, seperti kamera, recorder, telepon genggam. tapi kini hanya butuh satu alat yaitu hanphone yang sudah cerdas.

Mengapa kini seolah kebingungan, heboh sendiri, mengelu-elukan pihak lain atau justru tertinggal?? karena generasi kita tidak disiapkan untuk menyambut era itu. Alhasil, kerap hanya jadi konsumen bukan produsen. Jadi, followwer bukan influencer.

Inilah yang menjadi concenr saya. Cita-cita saya membawa digitalisasi pendidikan dan digitalisasi pesantren, bukan semata-mata, santri harus mengerti teknologi. Tapi, yang hakiki adalah membangun generasi 4.0 dan menyiapkan generasi menuju 5.0.

Karena itu tidak bisa dihindari, dan akan terus berkembang. Di era 5.0 itu, semuanya akan sangat canggih, mobil bisa jalan, alat teknologi bisa memperbaiki dirinya sendiri, robotik dberbagai lini kehidupan. Maka muncullah istilah kecerdasan buatan.

Membangun generasi 4.0 dan menyiapkan generasi menuju 5.0 tentu tidak mudah. Apalagi, di Kabupaten Cianjur, karena terbentur banyak kendala. Misalnya infrastrukturnya, ketersediaan perangkatnya dan kendala yang lain.
Inilah yang akan saya perjuangkan jika dipercaya masyarakat duduk di parlemen. Akan saya dorong habis-habisan. Saya punya mimpi siswa-siswi dan para santri dari Cianjur menjadi pemenang kompetisi robotik tingkat Asia misalnya, atau justru di kompetisi yang lebih tinggi.
Para santrinya, madrasyah-madrasyahnya dan SMA-SMA nya mampu menjadi yang terbaik. Karena, sesungguhnya kita bisa. Sudah banyak siswa-siswi Indonesia yang menjadi juara dalam sejumlah kompetisi teknologi dan robotik. Kenapa karena itu merupakan bagian dari upaya menyiapkan generasi.
Karena bagi saya membangun generasi itu penting, tapi menyiapkan generasi lebih penting. Melalui pendidikan digitalisasi dan pesantren digitalisasi itulah, membangun generasi dan menyiapkan generasi harus dimulai dari sekarang.

(*)