Tiga Bulan Dihajar 1.107 Bencana Alam

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, selama rentang Januari hingga Maret 2019 sebanyak 1.107 bencana alam terjadi. Kejadian bencana tersebut menyebabkan 2.279 orang meninggal dunia, 96 orang hilang dan 1.340 orang luka-luka, dan 85.772 orang mengungsi.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan sebagian besar bencana yang terjadi merupakan bencana hidrometereologi seperti banjir dan longsor.

Ia menambahkan, jumlah bencana tersebut lebih banyak dibandingkan periode Januari-Maret 2018. “Jumlah kejadiannya meningkat 32,4 persen dibanding tahun lalu dan jumlah korban jiwa meningkat 275 persen,” katanya, Minggu (31/3).

Bencana alam yang memakan korban jiwa paling banyak pada 2019 ini ialah banjir di Sulawesi Selatan dan di Kabupaten Papua. “Sampai sekarang pemulihan di kedua tempat itu masih terus dilakukan,” tuturnya.

Secara keseluruhan, Sutopo mengatakan bencana paling banyak terjadi di Pulau Jawa karena banyak penduduk yang menempat zona rawan bencana. Selain itu, mitigasi bencana di zona rawan tersebut masih rendah.

BNPB sendiri terus mengembangkan sistem mitigasi bencana baik melalui pemasangan alat-alat pendeteksi gempa bumi, tsunami, serta sosialisasi sadar bencana terhadap masyarakat.

Sementara itu, Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, Harmensyah mengatakan, perempuan dan anak-anak 14 kali lebih besar berisiko meninggal dibanding orang dewasa saat terjadinya bencana.

“Pembelajaran di Indonesia, 60-70% korban bencana adalah wanita dan anak-anak serta orang lanjut usia. Korban Tsunami Aceh terbanyak adalah ibu yang meninggal bersama anaknya,” demikian disampaikan pada saat membuka acara Bimbingan Teknis Srikandi Siaga Bencana di Padang (29/3).

Perempuan diangkat menjadi tema karena menurut penelitian perempuan dan anak anak berisiko meninggal 14 kali lebih besar dari pria dewasa pada saat terjadinya bencana.

Bukti lainnya menunjukkan bahwa pada bencana Cylone di Bangladesh tahun 1991, total korban 14.000 (90% perempuan). Pada badai Katrina di US, sebagaian besar korban adalah ibu-ibu Afro-American beserta anak-anaknya.

Kegiatan ini merupakan upaya dalam memperkuat kapasitas kesiapsiagaan perempuan untuk menjadi guru siaga bencana untuk keluarganya agar setiap keluarga mengenal ancaman risiko di lingkungannya.

Selain itu mampu menyusun rencana kesiapsiagaan keluarga, serta mengetahui cara penyelamatan dini bencana sehingga mengurangi korban dan kerugian yang timbul akibat bencana.

Sebanyak 120 peserta wanita dari berbagai organisasi se-Sumatera Barat mengikuti kegiatan ini yang diselenggarakan di kantor Gubernur Provinsi Sumatera Barat.

Acara bertema “Perempuan Menjadi Guru Siaga Bencana, Rumah menjadi Sekolahnya” ini juga dilakukan latihan kesiapsiagaan oleh ibu-ibu yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan keluarga terhadap bencana dan pada gilirannya berkontribusi atas keselamatan seluruh orang yang tinggal di Indonesia.

Materi yang diberikan antara lain adalah memahami potensi bencana di wilayah kita (Inarisk), kesiapsiagaan bencana untuk keluarga, praktek menyusun rencana kesiapsiagaan keluarga, penyelamatan dan perlindungan diri dari bencana, praktek penyelamatan dan perlindungan diri dari bencana. (por/ind)