Assyifa Institute Geber Halaqoh Kebangsaan

RADARCIANJUR.com – Demi menciptakan suasana Pemilu kondusif, Assyifa Institute bekerjasama dengan Pengurus Cabang (PC) Nahdatul Ulama (NU) Kabupaten Cianjur terus menggelar pertemuan dengan warga yang dikemas dalam Halaqoh kebangsaan. Kegiatan ini, untuk menyosialisasikan Pemilu damai dan meminimalisir isu-isu agam dalam berpolitik.

Direktur Assyifa Institute yang juga caleg DPR RI partai Golkar dari Dapil 3 Kota Bogor dan Cianjur Budhi Setiawan menegaskan, dalam kajian Islam moderat ini, Asyifa Institute sering sekali mendorong sejumlah kegiatan yang terkait dalam pendidikan Islam serta acara-acara NU) ang berhubungan dengan Islam moderat.

“Jadi pada intinya Islam moderat yang kita kembangkan dalam kajian di Asyifa Institute ini lebih kepada nilai-nilai atau kultur yang ada di Indonesia. Sehingga nilai Islam moderat ini bisa lebih muncul ke permukaan, bukan hanya isu di udara saja,” tegas mantan Ketua Karang Taruna Jawa Barat ini.

Halaqoh Kebangsaan

Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Cianjur, KH Choirul Anam menuturkan, lahirnya pemimpin-pemimpin Nasional itu memiliki dua amanat. Yakni amanat keumatan dan amanat kebangsaan. Dalam konteks kebangsaan ini, bagaimana supaya tetap mengokohkan ukhuwah islamiyah dan fathaniyah. Karena menjelang Pemilihan presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) ini, umat Islam itu seperti ada dua belahan.

“Jadi jangan sampai ukhuwah kita ini terpecah belah hingga seterusnya. Kalaupun misalnya ada, diharapkan hanya sebatas sampai selesai pemilu. Setelah itu, iya biasa lagi. Kita semua kembali mengokohkan ukhuwah islamiah umat,” kata Choirul Anam usai memberikan materi.

Ia mengatakan, dalam sistem ketatanegaraan Indonesia ini, tidak mengenal kelompok oposisi atau penguasa. Karena menurutnya, sudah jelas terkandung dalam Pancasila, yakni kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Artinya segala sesuatunya mesti dilakukan dengan musyawarah.

“Jadi, ketika adanya perbedaan pendapat itu merupakan keniscayaan. Karena calon pemimpin kedepan itu hanya ada dua. Jadi mau tidak mau, kita ini mesti memilih. Hanya bagi kita sebagai pemilih, gunakan saja hak pilihnya. Jangan sampai mengikuti perdebatan-perdebatan yang panas ini, sehingga menimbulkan hoax atau isu negatif,” paparnya.

(*/adv)