Tangan-Kaki Membusuk dan Menghitam, Mengelupas sampai Tulang

RADARCIANJUR.com-Pepen sudah tak lagi berdaya. Sudah sejak lima bulan terakhir, ia hanya bisa terbaring lemah di atas kasur yang kumal. Kondisinya pun sangat miris. Kedua tangan dan kakinya seperti membusuk dan menghitam. Tak hanya itu, satu per satu jari-jarinya seperti lepas dengan sendirinya, sampai tulang-tulang pun terlihat jelas. Berbagai upaya pengobatan sudah dilakukan, baik medis maupun pengobatan alternatif. Bukannya membaik, kondisi Pepen malah makin memburuk.

Laporan: A Jajang Sugiarto, Leles

Pepen (47), warga Kampung Pasir Halang RT 02/01, Desa Sukamulya, Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kian hari kian melemah. Ia pun nyaris tak bisa bangun dari kasur yang terhampar di lantai rumahnya.

Pandangan matanya kosong. Kerap kali ia tampak melihat kondisi kedua tangan dan kakinya yang semakin parah setiap harinya. Sesekali ia meringis dan melenguh seperti menahan sakit yang teramat sangat dan sudah tak bisa ditahannya lagi.

Di sisi lain, sang istri, Amilah (42), terlihat hanya duduk pasrah melihat kondisi suaminya yang tak kunjung membaik. Ia pun kini hanya bisa berpasrah diri dan memanjatkan doa untuk kesembuhan suaminya. Satu-satunya tulang punggung keluarga, sembari mengharap ada bantuan untuk Pepen.

Kepada Radar Cianjur, Amilah menceritakan, suaminya itu mulai menderita sakit aneh tersebut sejak lima bulan ke belakang. Kedua tangan dan kakinya menghitam serta membusuk.

Bahkan, satu per satu jari-jari Pepen seperti terlepas dengan sendirinya. Akibatnya, tulangnya pun terlihat dengan jelas. Kondisi tersebut kian hari bukan membaik. Malah makin parah.

Saat itu, kisah Amilah, suaminya pulang dari kebun saat siang hari. Di tengah jalan, Pepen menemukan seekor ikan lele berwarna hitam yang cukup besar di selokan. Ikan itu ditangkapnya sendiri dengan tangannya dan dibawanya pulang.

“Suami saya awalnya sehat-sehat saja, tidak punya penyakit apa apa. Tapi setelahnya menemukan ikan lele tersebut dan mengambilnya di selokan, tiba tiba malam harinya langsung jatuh sakit, panas-dingin dan merasa seluruh tubuhnya gatal-gatal,” ungkap Amilah.

Namun yang cukup mengejutkan adalah kejadian esok harinya. Kedua telapak kaki suaminya tiba-tiba sudah menghitam.

“Kedua telapak kaki suami saya menghitam seperti habis kebakar. Enggak tahu kenapa sebabnya,” jelasnya.

Melihat hal itu, Pepen pun berinisiatif ke puskesmas setempat untuk mendapatkan perawatan. Akan tetapi, penyakit suaminya itu tidak kunjung membaik. Sebaliknya, kondisi tangan dan kaki Pepen makin menghitam dan membusuk.

“Sekarang sudah lebih dari lima bulan,” tuturnya.

Amilah berujar, berbagai upaya sudah dilakukan. Mulai dari berobat ke sejumlah dokter, sampai pengobatan alternatif lainnya. Namun hingga kini, masih belum ada tanda-tanda membaik.

Bahkan, satu-satunya sepetak sawah milik keluarga itu pun terpaksa dijual untuk biaya pengobatan selama ini.

“Kami sudah melakukan segala macam cara untuk pengobatan, baik melalui orang pintar dan juga ke medis. Sawah sekotak juga sudah saya jual dan sekarang sudah kehabisan biaya. Sudah tidak sanggup lagi untuk membawa ke dokter,” ucapnya lirih.

Yang cukup aneh adalah, lanjut Amilah, menurut keterangan salah satu petugas medis atau mantri kampung setempat, Pepen sama sekali tak tidak mengidap penyakit apapun. Baik itu diabetes, asam urat atau kusta sekalipun.

“Tidak bisa menyebutkan apa penyakitnya, malahan bilangnya kondisi normal-normal saja. Tapi anenhnya sampai sekarang bukannya membaik malah semakin parah, kedua tanggan dan kaki membusuk dan mengeluarkan cairan nanah hinga jari tanggan yang sebelah kiri mengelupas. Sebelum membusuk, kedua tangan dan kaki berubah warna jadi hitam seperti bekas orang kebakar api,” papar dia.

Kini, Amilah berharap, ada tangan donatur dan dermawan atau pemerintah untuk membantu biaya pengobatan Pepen sampai sembuh agar bisa beraktifitas kembali seperti sedia kala.

“Kami sudah tidak sanggup lagi untuk membawa suami berobat ke dokter atau rumah sakit, sebab kami tidak punya BPJS dan uang pun sudah habis. Jangankan buat berobat, buat makan sehari-hari saja susah,” ucapnya sembari mengusap air matanya.

Nenden Nurjanah (24) salah seorang tetangga mengaku sangat iba dengan kondisi Pepen. Terlebih keluarga tersebut termasuk keluarga yang kurang mampu. Selama ini, Pepen bekerja sebagai buruh tani dan serabut sebagai kuli atau buruh angkut kayu di sebuah perusahaan di desa tersebut.

“Kondisi Mang Pepen kian hari kian parah. Kedua tangan dan kakinya membusuk dan meleleh hinga jari tangan kiri sudah habis tinggal menyisakan tulang tangannya saja. Hrannya, dari pihak pemerintah setempat dan puskesmas belum ada tindakan apapun,” ucapnya.

Nurjanah pun berharap agar Pepen bisa sembuh dan sehat seperti sedia kala.

“Kasihan, masih punya anak kecil yang masih membutuhkan tanggungjawab orang tuanya. Harapan kami sebagai tetangga semoga Mang Pepen mendapatkan bantuan untuk berobat supaya bisa sembuh kembali,” tandasnya.

(**)