Parpol yang Kena Untungnya

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Radar Cianjur melakukan simulasi pemilihan umum (pemilu) 2019 pada Jumat (22/3) lalu. Dalam simulasi itu, tim mengerahkan 20 relawan dari Fakultas Hukum (FH) dan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) dari Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur.

Seluruh tim disebar di sejumlah titik yang ada di lima daerah pemilihan (dapil). Dari sejumlah simulasi, tak sedikit masyarakat yang sudah memahami cara mencoblos specimen surat suara presiden. Masyarakat dengan tegas langsung memutuskan pilihannya tanpa basa basi.

Maklum saja, dalam kertas sederhana itu hanya ada dua pilihan yaitu pasangan calon presiden (capres) nomor urut 1, Joko Widodo-Ma’aruf Amin dan pasangan capres nomor urut 2, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Ada yang menggebu-gebu sambil meneriakan nama capres pilihannya, ada juga yang memilih untuk merahasiakan pilihan hatinya dengan sedikit menjauh dari tim. Relatif sangat mudah untuk menentukan jagoannya dalam gelaran pemilihan presiden (pilpres).

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang justru kebingungan saat diperhadapkan dengan specimen surat suara pemilihan legislatif (pileg). Khusus di dapil IV dan V, masyarakat mengaku belum mengetahui dan mengenal calon wakil rakyatnya di DPR RI maupun di DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Tak ingin ambil pusing, biasanya masyarakat yang sudah melakukan pencoblosan capres langsung bertanya kepada tim nama partai politik (parpol) tertentu. Sebagai contoh, masyarakat yang mencoblos specimen pilpres nomor urut 1 langsung bertanya dan mencari parpol PDI Perjuangan.

Begitu juga sebaliknya. Masyarakat yang sudah menancapkan ujung pakunya di specimen surat suara pilpres nomor urut 2, langsung mencari parpol Gerindra dalam specimen kertas suara pileg.

Pengamat Politik Unsur, Dedi Mulyadi mengatakan, masyarakat khsusunya di pedalaman relatif sulit untuk mengenal caleg. Maka tak heran, peta pertarungan pada pileg dinilai sama dengan pertarungan pilpres. “Ada nuansa pileg rasa pilpres. Pertarungannya memang seperti itu. Antara Gerindra versus PDI Perjuangan,” ujarnya kepada Radar Cianjur.

Durian runtuh pun otomatis akan dituai kedua parpol itu. Ia menilai, imbasnya akan muncul perolehan suara yang besar sehingga menguntungkan masing-masing caleg di wilayahnya. “Ini kan terjadi secara serentak. Saya rasa di wilayah lain juga sama. Kedua partai inilah yang memanaskan suhu politik pemilu 2019,” tutur Wakil Dekan I FH Unsur ini.

Meski demikian, ia pun memberi sanjungan kepada masyarakat yang berani memberikan suaranya. Ia pun menolak dengan tegas apabila muncul gerakan golongan putih (golput) alias enggan mencoblos.

(yaz)