Wejangan Para Kiyai

Para kiyai dan ustad-ustadnya di Kabupaten Cianjur bukan hanya guru tapi mentor saya. Dari mereka saya mendengar banyak nasihat, banyak mendengar dan banyak mengaji.
Setiap kali saya masuk dan keluar pesantren, mendengar para kiyai mengaji dan memberikan nasihat. Saya teringat masa kecil saya. Hati saya terasa sejuk.
Dulu sekali, saya adalah anak kampung yang sering bermain tanah, kotor-kotoran tapi saat sore menjelang. Saya bersama teman-teman bergerombol menuju langgar (mushola, red), shalat berjamaah dan mengaji bersama. Mendengarkan ustad saya menerangkan soal agama.
Itu pula yang saya liat di pesantren-pesantren, setiap waktu shalat semua bergerombol menuju masjid untuk salat berjamaah. Menyejukkan hati. Para kiyai dan ustad adalah bagian dari hidup saya, karena mereka adalah tempat bertanya dan mencari ilmu.
Di Kabupaten Cianjur, pesantren gelar adalah satu dari sekian banyak pesantren yang cukup sepuh dan saya kagumi. Saya cukup sering mengaji di pesantren itu. Bersilaturahmi dan menimba ilmu derta wejangan para kiyainya.
Berdiri pada tahun 1932 M / H KH AHMAD SYUBANI bin HUSNEN (Mama Gelar Pertama) dari Kadu Pandak, Cianjur Selatan. Tentu bukan perjuangan yang mudah di masa itu. Menjadi salah satu corong bergerakan Islam yang ikut mencerdaskan umat di masa itu.
Para kiyai, para ustad, dan para santri selalu mengingatkan saya. Satu yang sangat selalu saya ingat dari para wejangan kiyai itu adalah ‘Jangan pernah lupakan Umat’.
Kalimat itu mengingatkan saya dengan ‘Jas Hijau’ yang jadi pijakan kami. Jas Hijau itu adalah: Jangan Sekali-sekali Lupakan Jasa Para Ulama. Dari para ulama dan umat saya memulai dan kepada para ulama dan umat pula saya harus kembali. Itu adalah komitmen saya. (*)