Kisah Nenek Epoy, Janda Tua Terbelit Hutang Rentenir Demi Berobat Cucu

Didampingi Babinsa Haurwangi, Babinsa Haurwangi, Koptu Haryadi, perwakilan Sekolah Relawan Depok memberikan bantuan untuk Nenek Epoy yang terlilit hutang kepada rentenir.

RADARCIANJUR.com – Siapapun sudah pasti tak ingin hidup dalam belitan utang. Apalagi hutang uang dari rentenir alias lintah darat. Selain bunga yang cukup tinggi, juga proses penyelesaian yang dipastikan selalu berujung masalah. Hal itu pula yang dialami Nenek Epoy, yang harus menanggung beban hutang cukup besar dari seorang rentenir lantaran terdesak kebutuhan untuk berobat cucunya. Akibatnya, ia pun dipaksa hidup dengan mengontrak di rumahnya sendiri.

Lintah darat atau rentenir ternyata masih menjadi ‘momok’ mengerikan di Kabupaten Cianjur. Dengan iming-iming siap menyediakan uang dalam jumlah besar dan tanpa jaminan apapun, rentenir kerap menjadi jalan keluar instan bagi mereka yang terdesak. Namun ujung-ujungnya, bukan jalan keluar yang yang didapat, melainkan masalah demi masalah yang tak kunjung usai.

Seperti kisah yang dialami Nenek Epoy (59), janda paruh baya warga Kampung Neglasari RT 01/11, Desa Haurwangi, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur ini. Setiap hari, ia pun dipaksa bekerja keras untuk bisa membayar hutang rentenir ditambah bunga yang cukup besar.

Sayangnya, pekerjaan serabutan yang ia lakoni saban hari pun tak mencukupi untuk menutup hutang dari rentenir itu. Alhasil, hutangnya kian hari kian membengkak dan terus membengkak.

Epoy pun menceritakan ihwal dirinya memutuskan berhutang dari lintah darat. Yakni saat cucunya sakit dan membutuhkan biaya berobat. Di sisi lain, penghasilannya sebagai buruh serabutan tak mampu menutup biaya pengobatan cucunya itu.

Dalam keadaan terdesak, dengan langkah yang berat, ia pun memutuskan untuk berhutang kepada seorang lintah darat.

“Awalnya cuma pinjam Rp4 juta, dengan bunga Rp800 ribu,” ujarnya kepada Radar Cianjur.

Dengan uang hutang dari rentenir itu, cucunya akhirnya sembuh dan kembali bisa beraktifitas seperti sedia kala. Namun, beban hutang rentenir yang ada di pundaknya kian berat.

Penghasilan yang tak menentu, sama sekali tak bisa membayar cicilan yang harus dibayarkannya. Apalagi, ia juga tak mampu membayar cicilan per bulan yang makin memberatkannya.

“Kami tidak sanggup untuk bayar per bulannya makanya jadi nambah bunganya,” tuturnya.

Hutang itupun terus menumpuk bak gunung yang kian hari terus meninggi. Dari semula yang hanya Rp4 juta, bertambah menjadi hampir dua kali lipat besarnya.

“Sudah dua tahun lebih dan sekarang hutangnya menjadi Rp7,5 juta. Jangankan segitu, yang Rp4 juta aja kami susah bayarnya,” ujar Epoy.

Epoy juga tak mampu bicara banyak ketika sang rentenir atau orang suruhannya datang ke rumahnya yang reot dan hampir roboh. Hanya janji dan janji pembayaran cicilan saja yang bisa ia sampaikan.

Sampai suatu ketika, sang rentenir datang dengan membawa selembar kertas. Di kertas itu, Epoy dipaksa untuk membubuhkan tandatangan di atas materai. Isinya, adalah surat perjanjian penyerahan rumahnya yang jauh dari kata layak sebagai jaminan.

“Orangnya ngasi surat, saya disuruh tandatangan di atas materei. Bilangnya bukan surat perjanjian, tapi saya tahu itu surat perjanjian. Makanya saya tidak mau tandatangan, tapi terus dipaksa,” ungkapnya.

Di sisi lain, sang rentenir tak kalah garang memaksa Epoy. Ditambah dengan kalimat-kalimat bernada ancaman yang membuatnya ketakutan. Merasa tertekan dan tak bisa berbuat apapapun, Epoy akhirnya membubuhkan tandatangannya.

“Ya mau gimana lagi, sudah bingung dan takut saya. Akhirnya ya tandatangan juga,” lanjutnya.

Dalam surat perjanjian tersebut, beber Epoy, selain menyerahkan rumahnya sebagai jaminan, Epoy juga dipaksa untuk ‘mengontrak’ di rumahnya sendiri. Yakni dengan biaya ngontrak sebesar Rp250 ribu per bulan.

“Masih ditambah dengan cicilan Rp200 ribu. Jadi per bulan harus bayar Rp400 ribu sama bayar cicilan hutang,” jelasnya.

Kendati hutang pokok sudah dituntaskannya, akan tetapi biaya mengontrak rumah sendiri itu tak kalah membebaninya. Tak pelak, Epoy yang tinggal bersama satu anak dan cucunya itu, kerap kelimpungan saat tiba waktunya membayar cicilan dan kontrakan rumah.

Beruntung, derita Nenek Epoy itu diketahui Sekolah Relawan di Depok yang bersedia menutup dan melepaskan Epoy dari jeratan hutang rentenir. Mereka bahkan langsung datang ke Cianjur untuk menemui Nenek epoy.

Tak hanya menemui Epoy, mereka juga mendatangi langsung sang rentenir yang selama ini menjadi duri dalam daging bagi Nenek Epoy.

“Kami dari Sekolah Relawan mencoba mendatangi si rentenir itu, berharap hutang mak epoy bisa kami lunasi,” ujar Wawan Darmawan, perwakilan dari Sekolah Relawan Depok.

Wawan mengaku, mendengar kabar soal derita Nenek Epoy tersebut dari Babinsa Haurwangi, Koptu Haryadi di Cianjur. Mereka lantas melobi rentenir untuk membebaskan hutang Nenek Epoy.

Bukan hanya membebaskan seluruh hutang Nenek Epoy, mereka juga berhasil melobi sang rentenir agar mau menerima pembayaran hutang tak penuh.

“Berkat kerja tim, akhirnya kami dapat melunasi hutang mak epoy sebesar Rp5 juta. Dengan negosiasi dan berlandaskan hukum kami coba membuka hati si rentenir agar mau menerima uang tersebut. Jaazakumullah, akhirnya hutang Nenek Epoy selesai dan ia merasa berterima kasih pada para donatur yang menitipkannya kepada kami,” kata Wawan.

Dengan penuh linangan air mata Nenek Epoy mengucapkan rasa syukur kepada tim relawan yang telah membantunya.

“Hatur nuhun pisan nya Jang, tos dibayarkeun hutang emak. Semoga anu dipasihan ka emak dilipatgandakan ku Gusti Allah SWT jeung selalu dibere kasehatan,” ucap Nenek Epoy sembari meneteskan air matanya.

Para relawan bersyukur hutang Nenek Epoy sudah tuntas. Kini, ia pun dapat mencari rejeki kembali tanpa harus memikirkan hutang.

Kendati demikian, Nenek Epoy masih harus dibebani dengan pikiran soal rumahnya yang nyaris roboh. Karena, ia pun harus memperbaiki rumahnya itu agar tetap bisa digunakan.

“Namun masih ada beban yang menjadi pikiran Nenek Epoy, selain harus membiayai cucunya sekolah, ia pun memikirkan rumah yang sudah mau roboh itu. Berharap ada bantuan yang mampu memperbaiki rumahnya,” kata Wawan.

(dil)