Kaum Milenial Sesalkan Banyak Konflik Jelang Pilpres 2019

EKSPRESI: Pelajar, mahasiswa dan pemuda berlomba menyajikan gambar terbaik bertema Pemilu 2019 di Alun-alun Cianjur, kemarin. Jidan Abdul Juliana (bertopi) sengaja menampilkan sosok kedua calon presiden dengan pesan khusus di bawahnya. Ia berharap, pemilu berjalan damai, aman dan lancar. Siapapun yang terpilih, dia adalah pimpinan pilihan rakyat Indonesia.

RADARCIANJUR.com – Gelaran Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden 2019 yang tinggal menghitung hari, menjadi pesta demokrasi terakbar di tanah air.

Di hari itulah, pada tanggal 17 April 2019 mendatang, masa depan bangsa ditentukan melalui bilikbilik suara di tempat-tempat pencoblosan suara (TPS).

Dalam perjalannyanya, publik menilai pemilu kali ini lebih ’panas’ ketimbang pesta-pesta demokrasi sebelumnya. Pemilu kali ini, diwarnai banyak konflik dan adu dukungan antar para pendukung. Utamanya pendukung capres-cawapres yang tengah berkontestasi.

Kondisi demikian pun cukup disesalkan kaum milenial, terlebih mereka yang termasuk pemilih pemula dalam pesta demokrasi kali ini.

Seperi yang diungkap Jindan Abdul Juliana. Pemuda berusia 20 tahun itu mengakui, pilpres kali ini adalah kali pertama ia akan memberikan suara politiknya untuk memiliki pemimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Ia baru sekali pernah memberikan hak politiknya melalui Pilkada Jawa Barat lalu. Namun ia mengungkap, suasana pilpres ini sangat jauh berbeda dibanding pilkada lalu yang dinilainya lebih ’adem’.

”Kalau pilkada kemarin kan enggak ada konflik-konflik seperti sekarang. Ini sudah parah konfliknya,” tutur Jidan, salah satu peserta Lomba Kreasi Seni Pemilih Pemula yang digelar KPU Cianjur di Alun-alun, Jumat (12/4).

Jidan mengaku cukup jengah melihat berbagai macam konflik dan adu argumen, terutama dari masing-masing kedua kubu pasangan capres-cawapres. Ia menilai, apa yang ditunjukkan ke publik itu sejatinya sangat tidak dikehendakinya. Padahal, ia membayangkan gegap-gempita pilpres itu sangat indah jika tanpa dicampuri dengan segala macam ’adu kuat’ antar masing-masing pendukung.

Dengan begitu, para pemilih pemula seperti dirinya, bisa mendapatkan pembelajaran politik yang baik dan santun.

”Ini seperti sama-sama enggak santun saja, dua-duanya. Kita sebagai pemilih pemula ini kan juga jengah melihatnya, tiap hari gitu-gitu aja,” sesalnya.

Semestinya, masing-masing pendukung paslon caprescawapres yang tengah berkontestasi, berlomba-lomba ’mempromosikan’ jagoannya masing-masing tanpa harus menjelek-jelakkan paslon lainnya.

”Promosi jagoan masingmasing aja, enggak usah jelekjelekin yang lain. Jadi kelihatan enggak dewasa,” tuturnya.

Dalam lomba yang ia ikuti itu, Jidan mengaku sengaja melukis sosok kedua calon presiden, yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto dalam bentuk siluet yang saling berhadap-hadapan. Selain itu, ia juga membubuhkan tulisan singkat namun sangat mengena. ’Pilihan boleh sama/beda, tapi hati Indonesia’.

”Sengaja pilih gambar dua capres, karena keduanya samasama putra terbaik bangsa,” ucapnya.

Sementara, tulisan yang dibubuhkan di bawa siluet kedua capres itu, dibuatnya untuk memberikan pesan bahwa pemilu bukan berarti menjadi legalitas bagi masing-masing pendukungnya untuk berbuat semaunya. Justru, lanjutnya, yang paling penting sejatinya adalah memberikan pendidikan politik kepada generasi penerus bangsa, terlebih kepada pemilih pemula seperti dirinya.

”Mau jadi apa Indonesia kalau politiknya enggak santun gitu. Masyarakat butuhnya itu suasana yang tentram dan nyaman, bukan malah adu kuat-kuatan,” tegasnya.

Jidan menambahkan, ia pun memiliki harapan besar dalam pemilu kali ini. Yakni lahirnya pemimpin yang memang benarbenar diinginkan oleh rakyat Indonesia. Ia juga tak mempermasalahkan siapa nantinya dari kedua paslon capres-cawapres yang memenangkan Pilpres 2019.

”Biar Indonesia tambah maju dan berkembang. Siapapun yang terpilih dan menang, itu yang terbaik bagi Indonesia,” yakin dia.

Tak jauh berbeda, juga diungkap Fatiah Silavia. Siswi SMA yang baru kali ini namanya terdaftar dalam DPT Pemilu 2019 itu mengaku sudah memiliki pilihan sendiri. Akan tetapi, dirinya juga tak mempermasalahkan jika memang capres-cawapres jagoannya nanti kalah sekalipun.

”Namanya kan demokrasi. Jadi urusan menang atau kalah itu kan seharusnya sudah biasa,” ucapnya.

Di sisi lain, ia juga meyakini bahwa diantara kedua pasangan capres-cawapres tidak ada friksi atau konflik. Justru, kondisi ’panas’ itu dibuat oleh masingmasing pendukungnya.

”Kalau capres-cawapresnya saya yakin enggak ada masalah. Yang bikin masalah itu ya pendukung-pendukungnya,” lanjutnya.

Gadis berjilbab itu melanjutkan, dirinya juga sudah cukup muak dengan narasinarasi yang dibangun oleh masing-masing pendukung dari kedua kubu itu. Namun, ia juga menilai bahwa apa yang dilakukan masing-masing pendukung juga sejatinya hal yang lumrah.

”Kan seperti pendukung sepakbola itu kan fanatik yah. Tapi kalau fanatiknya berlebihan ya kan jadinya malah merusak,” tegasnya.

Fatiah berpesan, kepada pendukung masing-masing kubu, agar tak hanya mementingkan kelompoknya sendiri. Semestinya, pendukung juga bisa memberikan edukasi poitik kepada masyarakat banyak.

”Kalau dari awal sudah ditunjukkan sikap saling berantem, apa kita ini mau diajari berantem juga?” sindirnya.

(tim)