Melihat dari Dekat Hubungan Antar Parpol Pemilu 2019 di Naringgul, Beda Pilihan, Ogah Pecah

RADARCIANJUR.com – Berbeda partai dan berbeda pilihan politik memang tak bisa dihindarkan dalam setiap gelaran pesta demokrasi lima tahunan di Tanah Air. Terlebih di Pemilu Serentak 2019 yang dinilai menjadi gelaran pemilu paling ‘panas’ dibanding pemilu-pemilu sebelumnya. Perbedaan pilihan dan pandangan pun sudah bak menjadi ‘perang terbuka’. Apalagi jika berbicara soal pemilihan presiden. Masyarakat seperti sudah terpolarisasi. Massa pendung Jokowi-Ma’ruf dan massa pendukung Prabowo-Sandi. Bahkan tak sedikit, hanya karena berbeda pilihan, hubungan persaudaraan dan tetangga seperti di ujung tanduk.

Sejumlah tokoh partai politik di Kecamatan Naringgul, Cianjur selatan, sedang berkumpul dan mengikuti sidang pleno yang digelar oleh Penitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kecamatan Naringgul. Akan tetapi, tak sedikitpun suasana panas muncul di antara mereka.

Sebaliknya, gelak tawa dan canda pun teriring di antara mereka. Meski berbeda partai dan berbeda pilihan, tak membuat hubungan pertemanan menjadi buyar. Semua tetap guyup dan kondusif menjaga demokrasi dan NKRI.

Dari pantauan Radar Cianjur, sejumlah tokoh politik hadir dlaam sidang pleno, baik untuk Pilpres maupun Pileg. Diantaranya, PDIP, Golkar, PPP, Gerindra, Nasdem, PKS, PKB, Hanura dan Perindo.

Dikatakan Iwan Buho (38), salah satu anggota PAC PDI perjuangan Kecamatan Naringgul, demokrasi itu hak setiap warga negara untuk berbeda beda pilihan. Akan tetapi, bukan berarti saat berbeda pilihan dan politik, lalu terpecah dan bermusuhan.

Ia mengakui, gelaran Pemilu kali ini memang sangat melelahkan semua pihak. Bagi PAC PDIP Kecamatan Naringgul, apapun hasilnya itu yang jelas sudah pilihan rakyat.

“Yah, inilah indahnya hidup di negara yang menganut demokrasi, perbedaan itu tandanya kemajuan negara. Tapi satu hal yang perlu kita ingat, Indonesia itu lebih penting dari yang lainnya,” tuturnya.

Iwan menyambungkan, terkait hasil perolehan suara masing-masing pasangan capres-cawapres yang sedang berkontestasi, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada KPU RI, satu-satunya lembaga yang berhak untuk mengumumkan dan menetapkan perolehan suara, baik untuk pileg maupun pilpres.

“Untuk hasil suara pileh, pilpres, siapa yang terpilih mari kita sama-sama menunggu hasil real count dari KPU yang nanti akan diumumkan,” jelasnya.

Menurutnya, sama sekali tak berguna menggiring opini untuk saling bermusuhan hanya karena berbeda partai dan berbeda pilihan politik.

“Pesta demokrasi itu dijadikan pestanya rakyat dalam memilih, bukan jadi ajang pertengkaran dan perpecahan. Walaupun pandangan politik berbeda-beda, tapi tetap harus bersahabat, menjaga kultur budaya, adat dan tradisi. Selain itu juga tetap menjaga etika dalam berbangsa dan bernegara, menjujung kebinekaan serta menjaga keutuhan Pancasila,” katanya.

Hal senada disampaikan Asep Jenal (49), ketua PAC Partai Demokrat Kecamatan Naringgul. Menrutnya, perbedaan bukan berarti harus terpecah. Sebaliknya, hal itu justru nilai dari sebuah pembelajaran berpolitik yang baik di negara yang berdemokrasi.

“Karena itu perbedaan saya anggap keindahan untuk menunjukan kekompakan. Apalagi di Naringgul tempat kelahiran kita, justru di Naringgul kita harus bisa menjadi contoh tokoh politik yang bisa mengajak saudara-saudara kita menjadi warga yang lebih paham dalam berpolitik,” tuturnya.

Ia menyampaikan, dalam berpolitik, hal yang paling penting adalah harus tetap bisa melahirkan putra putri terbaik yang bisa mengangkat nama baik daerah, khususnya Naringgul. Bahkan Indonesia.

Karena itu, ia pun sangat sepakat manakala dengan berpolitik dan berbeda pilihan, makan akan menjadi sangat indah serta menjadi contoh demokrasi yang sesungguhnya.

“Jangan dalam berdemokrasi dan berbeda-beda pilihan malah hanya dijadikan ajang perpecahan dan permusuhan. Harusnya dijadikan persaudaraan. Pemilu yang demokratis adalah pemliu yang berbeda-beda pilihan, hasilnya pilihan rakyat,” katanya.

(jay)